
“Sinergi kedua tokoh perempuan ini menghadirkan model kepemimpinan kolaboratif yang sangat relevan dengan tantangan abad ke-21.”
CATATAN PINGGIR

DR. ROMADLON SUKARDI, MM*
ADA kalanya sebuah daerah dikenal karena kekayaan alamnya. Ada kalanya pula sebuah daerah dikenang karena kehebatan para pemimpinnya. Namun Jawa Timur hari ini sedang menunjukkan sesuatu yang lebih besar dari keduanya: Bagaimana kekayaan alam dapat diolah melalui kepemimpinan yang visioner, berintegritas, inovatif, dan berkelanjutan sehingga melahirkan kesejahteraan rakyat sekaligus menjaga kelestarian lingkungan.
Di tengah tantangan perubahan iklim global, ketidakpastian ekonomi dunia, serta semakin ketatnya persaingan pasar internasional, muncul sebuah narasi optimisme dari Jawa Timur. Narasi itu lahir dari sinergi dua tokoh perempuan nasional yang sama-sama memiliki kepedulian besar terhadap pembangunan ekonomi kerakyatan berbasis keberlanjutan, yaitu Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa dan Senator DPD RI asal Jawa Timur Dr. Lia Istifhama.
Kolaborasi keduanya dalam mendorong kopi hutan Jawa Timur menembus pasar ekspor sesungguhnya bukan sekadar tentang komoditas kopi. Lebih dari itu, ini adalah tentang visi besar membangun masa depan ekonomi hijau (*green economy)* yang berpihak kepada rakyat kecil, menjaga kelestarian hutan, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai perdagangan global. Upaya penguatan perhutanan sosial dan hilirisasi kopi hutan menjadi bagian dari transformasi ekonomi baru yang menggabungkan nilai ekonomi, nilai ekologis, dan nilai sosial dalam satu ekosistem pembangunan yang utuh.
Khofifah Indar Parawansa menunjukkan karakter kepemimpinan transformatif yang mampu melihat potensi besar di balik kawasan hutan. Hutan tidak lagi dipandang semata sebagai ruang konservasi, tetapi juga sebagai ruang pemberdayaan ekonomi masyarakat. Di bawah kepemimpinannya, Jawa Timur menjadi salah satu provinsi dengan capaian perhutanan sosial terbesar di Indonesia dan memiliki nilai transaksi ekonomi kehutanan berbasis masyarakat tertinggi secara nasional. Bahkan kontribusi Jawa Timur mencapai lebih dari separuh capaian nasional dalam Nilai Transaksi Ekonomi Kelompok Tani Hutan.
Di sisi lain, Dr. Lia Istifhama menghadirkan dimensi strategis yang berbeda namun saling melengkapi. Sebagai anggota DPD RI, ia memainkan peran penting dalam membangun jembatan antara aspirasi daerah dengan kebijakan nasional. Kepeduliannya terhadap petani hutan, UMKM, ekonomi rakyat, dan akses pasar global menunjukkan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya dengan program di lapangan, tetapi juga membutuhkan dukungan regulasi, advokasi, dan penguatan jejaring di tingkat nasional. Dalam konteks inilah kehadiran Lia menjadi katalisator yang memperkuat ekosistem pembangunan yang telah dibangun di Jawa Timur.
Yang menarik, sinergi kedua tokoh perempuan ini menghadirkan model kepemimpinan kolaboratif yang sangat relevan dengan tantangan abad ke-21. Mereka menunjukkan bahwa kepemimpinan tidak selalu harus tampil dalam bentuk kompetisi, melainkan dapat hadir dalam bentuk kolaborasi produktif yang berorientasi pada solusi. Ketika pemerintah daerah bergerak melalui kebijakan dan program, sementara representasi daerah di tingkat pusat memperjuangkan regulasi dan dukungan nasional, maka yang lahir adalah akselerasi pembangunan yang jauh lebih kuat dan berkelanjutan.
Dalam perspektif Nawa Bhakti Satya, langkah strategis ini sejalan dengan semangat Jatim Sejahtera, Jatim Kerja, Jatim Berdaya, dan Jatim Lestari. Pemberdayaan petani kopi hutan tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat UMKM berbasis agroforestri, sekaligus menjaga fungsi ekologis kawasan hutan. Inilah pembangunan yang tidak memisahkan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian lingkungan.
Lebih jauh lagi, kopi hutan Jawa Timur sesungguhnya memiliki nilai strategis yang jauh melampaui nilai jual produk. Di era global saat ini, pasar internasional tidak hanya mencari produk berkualitas, tetapi juga produk yang memiliki cerita *(story value),* keberlanjutan (*sustainability value)*, dan dampak sosial *(social impact value).* Kopi hutan Jawa Timur memiliki ketiganya. Ia tumbuh dari kawasan yang terjaga, diproduksi oleh masyarakat yang diberdayakan, dan menjadi simbol keberhasilan perhutanan sosial Indonesia. Karena itu, ketika kopi hutan Jawa Timur memasuki pasar dunia, yang diekspor sesungguhnya bukan hanya biji kopi, tetapi juga nilai-nilai keberlanjutan dan keberadaban bangsa.
Di sinilah letak keunggulan kepemimpinan yang berintegritas dan progresif. Khofifah dan Lia tidak hanya berbicara mengenai pertumbuhan ekonomi, tetapi juga memastikan bahwa pertumbuhan tersebut memiliki akar yang kuat pada keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat. Mereka memahami bahwa pembangunan yang sesungguhnya bukanlah pembangunan yang menguras sumber daya alam, melainkan pembangunan yang mampu mengubah sumber daya menjadi nilai tambah tanpa merusak masa depan generasi berikutnya.
Jika konsistensi ini terus dijaga, bukan tidak mungkin Jawa Timur akan menjadi model nasional bahkan internasional dalam pengembangan ekonomi hijau berbasis perhutanan sosial. Dari lereng-lereng pegunungan, dari kawasan hutan rakyat, dari tangan-tangan petani sederhana, akan lahir produk-produk kelas dunia yang mengharumkan nama Indonesia.
Dan pada akhirnya, sejarah akan mencatat bahwa keberhasilan suatu daerah tidak hanya ditentukan oleh kekayaan alam yang dimilikinya, tetapi oleh kemampuan para pemimpinnya membaca masa depan. Hari ini, melalui kolaborasi Khofifah Indar Parawansa dan Dr. Lia Istifhama, kita sedang menyaksikan bagaimana visi, integritas, inovasi, kreativitas, dan keberpihakan kepada rakyat bertemu dalam satu titik: membangun peradaban ekonomi yang lebih hijau, lebih adil, lebih sejahtera, dan lebih berkelanjutan.
Dari kopi hutan Jawa Timur, kita belajar bahwa peradaban besar sering kali tumbuh dari akar yang sederhana. Dan dari dua Srikandi Jawa Timur ini, kita belajar bahwa kepemimpinan perempuan yang kuat bukan hanya mampu mengelola pemerintahan, tetapi juga mampu menggerakkan perubahan, menginspirasi bangsa, dan mewarnai masa depan Indonesia di panggung dunia.
Artikel ini sengaja diperkuat dengan perspektif ekonomi hijau, perhutanan sosial, kepemimpinan perempuan, Nawa Bhakti Satya, SDGs, dan visi Indonesia Emas 2045, sehingga menempatkan Ibu Khofifah dan Dr. Lia Istifhama sebagai figur strategis yang memiliki kontribusi nasional dalam pembangunan berkelanjutan. Wallahu A’lamu Bisshawab.


































