JUMPA PERS : Dari kiri ke kanan, Prof Amin Setyo Leksono dan Prof Dr Ir Pitojo Tri Juwono MT seusai menggelar jumpa pers. (duta.co/dedik ahmad)

MALANG | duta.co – Universitas Brawijaya  (UB) Malang terus menambah guru besarnya. Kini lahir dua profesor bidang Entomologi Ekologi dan bidang manajemen rekayasa sumber daya air. Yakni Prof Amin Setyo Leksono dan Prof Dr Ir Pitojo Tri Juwono MT yang menggelar jumpa pers, Selasa (12/11).

Amin Setyo Laksono profesor ekologi pertama di fakultas matematika dan IPA (Mipa) UB. Dalam penelitiannya ia mengupas mengenai upaya peningkatan peran komunitas arthropoda khususnya di agroekosistem untuk mengendalikan hama. Arthropoda merupakan komponen biologi yang memiliki peran penting dalam agroekosistem, yaitu salah satunya merupakan musuh alami hama.

Profesor Amin melakukan inovasi kombinasi rekayasa habitat pupuk pestisida hayati cair menggunakan potensi lokal. Rekayasa habitat dilakukan dengan menanam jenis tumbuhan refugia yang sebagian merupakan tumbuhan liar dan sebagian lain merupakan tumbuhan budidaya. Rekayasa habitat ini dilakukan dengan menanam buhan tumbuhan refugia di tepi kebun atau di pematang sawah.

Selain melakukan rekayasa habitat Iya juga melakukan inovasi dengan membuat pupuk pestisida hayati cair berasal dari bahan alami lokal, seperti empon-empon, Gadung, buah maja yang dicampur dengan air cucian beras air kelapa gula dan terasi.

“Hasilnya menunjukkan peningkatan kelimpahan dan keragaman antropoda sebagai musuh alami hama. Juga meningkatkan kualitas tanah dan  kualitas produk lahan budidaya,” urai Prof Amin.

Lain pada itu, dalam kesempatan yang sama Prof Pitojo, yang guru besar bidang manajemen rekayasa sumber daya air mengupas tentang ketersediaan air pada rencana pemindahan ibukota. Planing besar tersebut akan sukses jika tidak lepas dari daya dukung sumber daya air yang mencukupi secara kuantitas dan kualitas.

Menurutnya air permukaan menjadi pilihan utama dalam pemenuhan kebutuhan air baku guna menopang rencana pemindahan pusat pemerintahan.

“Diperkirakan pemindahan ibukota ini melibatkan 800.000 ASN,  juga penambahan jumlah penduduk hingga 5 juta orang. Lokasi induk yang dibutuhkan sekitar 40.000 hektar. Hingga membutuhkan dukungan ketersediaan air yang mencapai 8,38 m3/det. Padahal saat ini hanya 2,56 m3/det,” paparnya.

Solusi yang diberikan oleh Prof Pitojo adalah dengan penyediaan air baku dalam jumlah besar menampung teknik nya membangun waduk atau bendungan hal tersebut disuplai dari bendungan Manggar, Loa Kulu dan sungai Mahakam

Selain memanfaatkan teknologi rancang bangun struktur infrastruktur bendungan dan waduk maka penerapan pengembangan Ilmu manajemen dan rekayasa sumber daya air mutlak dilakukan. Berbagai strategi untuk itu seperti pendekatan model deterministik dan stokastik, juga dengan pendekatan model optimasi linier programming dan dinamik programming serta simulasi operasi waduk juga model statistik dan matematika hujan

Selain itu upaya mengantisipasi dampak negatif yang timbul akibat rencana pemindahan ibukota negara tersebut maka wajib menyiapkan yang ramah terhadap tata kelola sumber daya air. Menjadikan ibukota negara berkonsep forest City yang diyakini akan dapat menekan perubahan tata guna lahan dari hutan menjadi lahan terbangun.

Dengan forest City juga sebagai upaya tahankan mempertahankan 50% luas hutan. Dengan begitu Kalimantan Timur dapat diprediksi menjawab tantangan keberlangsungan dan ketersediaan kebutuhan air baku.dah

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry