Warga Dusun Brangkal, Desa Jipurapah, Kecamatan Plandaan, Jombang

JOMBANG | duta.co – Lampu-lampu pesta menyala terang, panggung hiburan bergemuruh, dan ribuan orang larut dalam kemeriahan Jombang Fest 2026, Sabtu malam (24/10/2026). Kabupaten Jombang merayakan hari jadinya yang ke-116, beriringan dengan peringatan Hari Santri Nasional. Namun, di balik gemerlap perayaan di pusat kota, ada warga yang justru harus menggali kubangan di dasar sungai demi mendapatkan air untuk mandi dan mencuci.

Di Dusun Brangkal dan Jipurapah, Kecamatan Plandaan, sumur-sumur mengering, sungai kehilangan aliran, dan air bersih menjadi barang yang harus diperjuangkan. Inilah dua potret yang berhadapan di Kota Santri: satu berpesta merayakan usia, lainnya berjibaku mempertahankan kehidupan di tengah kemarau panjang.

Ketika kota merayakan pertambahan usia, sebagian warganya justru berjuang mendapatkan kebutuhan paling mendasar: air. Sebuah ironi di tanah yang mewarisi ajaran para ulama tentang kepedulian terhadap sesama.

Mengais Air di Dasar Sungai

Bagi Leni (45), warga Dusun Brangkal, kemarau panjang bukan sekadar perubahan musim. Kekeringan telah mengubah rutinitas hariannya. Ketika sumur di rumah tak lagi mengeluarkan air, ia terpaksa menuju sungai yang mengering untuk mencuci pakaian dan memenuhi kebutuhan sanitasi keluarga.

Di dasar sungai itulah warga menggali lubang-lubang kecil yang mereka sebut wedekan. Lubang tersebut dibuat secara gotong royong untuk menampung resapan air tanah yang masih tersisa.

“Tidak ada air di rumah, sudah kering sekitar dua bulan. Jadi setiap hari mencuci di sini,” tutur Leni saat ditemui, Sabtu (24/10).

Air dari kubangan itu menjadi tumpuan warga. Selain untuk mencuci dan mandi, air wedekan juga dimanfaatkan untuk memberi minum ternak. Warga mengaku airnya masih terlihat jernih karena terus meresap dari dalam tanah. Meski demikian, terbatasnya jumlah lubang membuat mereka harus berbagi dan bergantian saat menggunakannya.

“Ini dibuat bareng-bareng secara gotong royong oleh warga. Kadang satu lubang dipakai ganti-gantian. Kalau pas ramai ya harus antre,” ujarnya.

Pemandangan warga mengantre air di kubangan sungai menjadi gambaran nyata betapa sulitnya mendapatkan kebutuhan paling mendasar di tengah kemarau panjang. Bagi sebagian orang, air mungkin tinggal memutar keran. Namun, bagi warga Brangkal dan Jipurapah, air harus dicari, ditunggu, bahkan digali dari dasar sungai yang mengering.

Sumur Kering, Sungai Pun Kehabisan Air
Kesulitan serupa dirasakan Suko (57), warga Dusun Brangkal. Ia menuturkan, persoalan air mulai dirasakan sejak Agustus dan semakin berat menjelang akhir Oktober.

“Kalau sekarang sumur sudah tidak bisa keluar airnya. Sungai di sebelah barat juga tidak ada airnya,” katanya.

Sebelum bantuan datang, warga harus mencari sumber air alternatif dengan mendatangi sungai yang berjarak sekitar 200 hingga 300 meter dari permukiman. Di sana, mereka menggali lubang kecil untuk mendapatkan air yang masih meresap dari tanah.

Untuk kebutuhan minum, sebagian warga memilih membeli air isi ulang. Sementara itu, kebutuhan mandi, mencuci, dan keperluan lainnya diupayakan dari sumber air yang masih tersedia.

Keluarga Suko, misalnya, membutuhkan sekitar tiga ember air dalam sehari. Jumlah itu tentu berbeda antara satu rumah dan rumah lainnya, terlebih bagi warga yang juga memelihara ternak.
“Kalau bisa, bantuan air dikirim terus sampai musim hujan. Ini baru pertama kali ada kiriman,” harapnya.

Harapan sederhana itu menyimpan persoalan yang lebih besar: bagaimana warga dapat memenuhi kebutuhan air bersih secara berkelanjutan ketika sumber air di lingkungan mereka tak lagi bisa diandalkan?

Kepala Dusun Brangkal, Suwoto, menyebut kesulitan air bersih dirasakan warga selama kurang lebih satu bulan terakhir. Wilayah RT 1 menjadi salah satu kawasan yang paling parah terdampak, disusul RT 2 dan RT 4.

Jika pada musim kemarau sebelumnya warga masih mengandalkan sumur bor di rumah masing-masing, tahun ini kondisinya berbeda. Persediaan air semakin menipis, memaksa masyarakat mencari sumber alternatif hingga ke sungai.

Persoalan bertambah karena fasilitas Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) yang dibangun sekitar setahun lalu belum dapat dimanfaatkan secara optimal.

Menurut Suwoto, air yang keluar dari fasilitas tersebut terasa asin sehingga belum layak digunakan untuk memenuhi kebutuhan warga. “Sejak dibangun, airnya memang asin. Jadi tidak layak digunakan warga,” ungkapnya.

Kondisi ini membuat masyarakat belum memiliki sumber air komunal yang dapat diandalkan ketika sumur-sumur pribadi mengering.

BPBD Bergerak, 1.140 Jiwa Terdampak

Merespons kondisi tersebut, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang mulai menyalurkan bantuan air bersih ke Dusun Brangkal dan Dusun Jipurapah pada Sabtu (24/10/2026).

Supervisor BPBD Jombang, Stevy Maria, yang akrab disapa Pepy, menjelaskan bahwa distribusi air dilakukan secara berkala setiap dua hari sekali.

Masing-masing dusun memperoleh dua tangki air dengan kapasitas 5.000 liter per tangki. Dengan demikian, total pasokan untuk setiap dusun mencapai 10.000 liter dalam satu jadwal penyaluran.

“Setiap dusun mendapat dua tangki, masing-masing 5.000 liter. Jadi, totalnya 10.000 liter per dusun dalam sekali penyaluran,” terang Pepy.

Berdasarkan pendataan BPBD Jombang, kekeringan di Desa Jipurapah berdampak pada 400 kepala keluarga atau 1.140 jiwa. Rinciannya, Dusun Jipurapah mencatat 200 KK atau 540 jiwa terdampak, sedangkan Dusun Brangkal sebanyak 200 KK atau 600 jiwa.

Dampaknya tidak hanya dirasakan rumah tangga. Sektor pendidikan juga ikut terdampak, dengan SDN Jipurapah 1 yang memiliki 94 siswa dan SMP Negeri 3 Plandaan dengan 53 siswa masuk dalam pendataan BPBD.

Bantuan air bersih diharapkan dapat meringankan beban warga, terutama untuk memenuhi kebutuhan dasar yang tidak bisa ditunda. Namun, distribusi tangki masih menjadi penyangga sementara selama sumber air setempat belum pulih. Warga berharap pasokan terus berlanjut hingga hujan kembali turun dan sumur-sumur mereka kembali terisi.



Di Balik Pesta, Ada Pekerjaan Rumah 

Kekeringan di Jipurapah menambah daftar wilayah yang mengalami persoalan air bersih di Kabupaten Jombang. Sebelumnya, kondisi serupa dilaporkan terjadi di Desa Latsari, Kecamatan Mojowarno, dan Desa Kebondalem, Kecamatan Bareng.

Di Latsari, berkurangnya air sumur warga menjadi persoalan di tengah operasional irigasi perpompaan. Sementara di Kebondalem, masyarakat menghadapi keterbatasan pasokan ketika fasilitas Pamsimas tidak berfungsi sebagaimana diharapkan.

Di tengah situasi tersebut, Jombang merayakan hari jadinya yang ke-116 melalui Jombang Fest 2026. Perayaan ini menjadi ruang hiburan dan kebersamaan bagi masyarakat. Namun, momentum yang sama juga mengundang perhatian terhadap persoalan mendasar yang masih dihadapi sebagian warga.

Beredar informasi di lingkungan pemerintah daerah bahwa rangkaian perayaan tersebut diperkirakan menghabiskan anggaran sekitar Rp3 miliar dari APBD 2026. Besaran dan rincian anggaran itu masih perlu dikonfirmasi melalui data resmi pemerintah daerah.

Persoalannya bukan semata-mata mempertentangkan pesta dengan bantuan air bersih. Perayaan hari jadi daerah dan Hari Santri tentu memiliki ruang serta tujuan masing-masing. Namun, ketika ada warga yang masih harus mengantre di kubangan sungai untuk mendapatkan air, pertanyaan mengenai prioritas pembangunan dan pemerataan pelayanan dasar layak diajukan.

Apalagi, Jombang bukan hanya dikenal sebagai Kota Santri, melainkan juga sebagai tanah kelahiran para ulama yang mewariskan nilai kepedulian, kesederhanaan, dan keberpihakan kepada masyarakat kecil.

Nilai-nilai itu semestinya tidak berhenti dalam seremoni dan pidato peringatan. Ia perlu hadir dalam kebijakan yang memastikan kebutuhan dasar masyarakat terpenuhi, termasuk akses terhadap air bersih yang layak.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan sebuah perayaan tidak hanya terletak pada meriahnya panggung atau ramainya pengunjung. Ada pula kehidupan warga di pelosok yang perlu mendapat perhatian, terutama ketika mereka sedang berjuang mendapatkan air untuk mandi, mencuci, dan memberi minum ternak. Di pusat kota, lampu-lampu pesta menyala. Di Jipurapah, warga menggali tanah di dasar sungai, berharap masih ada air yang tersisa.

Dua potret itu berlangsung di Kabupaten Jombang yang sama, pada momentum hari jadi yang sama. Dan di antara kemeriahan ulang tahun ke-116 Kota Santri, suara warga yang mengantre air bersih layak menjadi pengingat bahwa pembangunan sejatinya bukan hanya tentang merayakan kemajuan, melainkan juga memastikan tak ada warga yang tertinggal dalam memenuhi kebutuhan paling mendasar. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry