Tetyana Lytvinenko dan Anasasiia Kachan saat menari Tarian Batik di pembukaan lomba Pidato Bahasa Inggris yang digelar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Jumat (6/12). DUTA/endang

SURABAYA l duta.co – Dua mahasiswa dari Taras Shevchenco National University of Kylv menjadi tamu istimewa di pembukaan lomba pidato Bahasa Inggris (Speech Contest) yang digelar Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FEB UWKS), Jumat (6/12).

Tidak hanya menjadi juri lomba tersebut, Tetyana Lytvinenko dan Anasasiia Kachan justru menari.

Dengan mengenakan kebaya dan pakaian khas penari, keduanya gemulai menari tari Batik. Nampak keduanya tidak canggung menari di depan peserta lomba, jajaran dekanat dan dosen FEB di ruang Penataran Bangsal Pancasila kampus UWKS Dukuh Kupang Surabaya.

Tepuk tangan membahana. Apalagi ketika keduanya melakukan gerakan menari seakan mencanting batik di atas kain. Senyum tak lepas mengembang di bibir keduanya. “Senang sekali. Responnya luar biasa,” ujar Tetyana usai tampil.

Kedua mahasiswa Ukraina itu sebenarnya adalah penerima beasiswa dari pemerintah Indonesia untuk belajar bahasa, sastra dan budaya di Universitas Negeri Semarang (Unnes) selama setahun.

Mereka sengaja diundang untuk menjadi tamu di lomba pidato Bahasa Inggris itu karena sebelumnya keduanya pernah diajari Bahasa Indonesia oleh salah satu dosen FEB UWKS, Rica Wuryaningrum selama empat bulan di Ukraina.

Diakui Tetyana, dia dan Anasasiia adalah mahasiswa yang selama dua tahun belajar bahasa, sastra dan budaya Indonesia di kampusnya di Ukraina.

Selama belajar itu, dia mengaku sangat mencintai dan tidak salah mengambil jurusan. Bahkan kini dia bisa lebih mengenal semua hal tentang Indonesia dengan lebih baik.

“Saya di Ukraina sudah belajar tarian Indonesia juga. Tari Batik belajar di Unnes selama tiga bulan. Seru juga walau sulit. Terutama gerakan tangan. Menari tarian Indonesia itu harus lebih luwes gerakan tangannya kalau tarian Ukraina lebih cepat gerakannya,” jelas Tetyana yang sangat lancar berbahasa Indonesia.

Keduanya mengaku sangat jatuh cinta dengan Indonesia, walau sebelumnya tidak mengenal sama sekali Indonesia apalagi budaya dan sastranya.

Dekan FEB UWKS, Gimanto Gunawan mengungkapkan kedatangan dua mahasiswa Ukraina untuk beberapa hari di kampus UWKS ini karena memiliki sebuah benang merah.

“Keduanya belajar tentang budaya, bahasa dan sastra Indonesia, sementara UWKS adalah kampus budaya. Jadi klop untuk saling mengenal lebih jauh,” tukasnya.

Selain itu, Gimanto ingin memberikan sesuatu bagi mahasiswanya untuk bisa berprestasi di tingkat global tanpa meninggalkan akar budaya yang dimiliki.

“Orang luar belajar budaya, bahasa dan sastra Indonesia, masak kita sendiri melupakannya. Jadi akar budaya itu harus tetap dipegang setinggi apapun prestasi yang diraih,” tukasnya.

UWKS direkomendasikan Kemenrlstekdiktl menjadl kampus budaya sehingga kampus ini berkomitmen agar Iulusannya menjadi pribadi yang berwawasan global namun temp melestarlkan budaya Indonesia. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry