
Oleh Bey Arifin*
DI tengah hiruk-pikuk menjelang Muktamar NU 2026, sebuah kisah klasik dalam tradisi tasawuf kembali menemukan relevansinya. Kisah tentang seorang sahabat Anshar yang dijamin sebagai penghuni surga bukan karena banyaknya ibadah lahiriah, melainkan karena kebersihan hatinya seakan menjadi cermin yang jernih bagi dinamika yang sedang berlangsung hari ini.
Diceritakan, Rasulullah SAW berulang kali menunjuk seorang laki-laki biasa sebagai penghuni surga. Tidak ada yang istimewa dari penampilannya, tidak pula tampak sebagai sosok yang menonjol dalam ibadah. Namun setelah ditelusuri oleh Abdullah bin Amr bin al-As, terungkap satu rahasia sederhana sekaligus mendalam: setiap malam, lelaki itu membersihkan hatinya dari iri, dengki, dan kebencian kepada siapa pun. Di situlah letak kemuliaannya.
Kisah ini bukan sekadar pelajaran akhlak individual, tetapi juga pesan sosial yang kuat terutama dalam konteks suksesi kepemimpinan Nahdlatul Ulama.
Muktamar bukan hanya forum organisasi, melainkan ruang pertaruhan nilai. Di sana, bukan hanya gagasan yang diuji, tetapi juga kejernihan niat. Bukan hanya strategi yang dimainkan, tetapi juga kebersihan hati yang dipertaruhkan.
Realitasnya, setiap momentum suksesi selalu berpotensi melahirkan gesekan. Perbedaan pilihan bisa berubah menjadi polarisasi. Dukungan bisa bergeser menjadi fanatisme. Bahkan, tidak jarang ruang-ruang diskusi dipenuhi narasi yang saling menjatuhkan.
Dalam situasi seperti ini, pesan dari kisah sahabat tersebut menjadi sangat relevan: bahwa yang paling menentukan bukan siapa yang paling kuat secara lahiriah, tetapi siapa yang paling bersih hatinya.
Nahdlatul Ulama sejak awal dibangun di atas fondasi adab, bukan sekadar struktur. Para muassis tidak mewariskan tradisi perebutan kekuasaan, tetapi tradisi keikhlasan dan pengabdian.
Kepemimpinan dalam NU bukanlah alat dominasi, melainkan amanah untuk menjaga umat dan merawat peradaban. Karena itu, proses menuju kepemimpinan pun seharusnya mencerminkan nilai yang sama: bersih, jernih, dan bermartabat.
Di sinilah “jalan sunyi” itu menjadi penting. Jalan untuk menata niat di tengah godaan ambisi. Jalan untuk menahan diri dari ujaran yang melukai. Jalan untuk tetap menghormati perbedaan tanpa harus kehilangan persaudaraan. Jalan ini mungkin tidak populer, tidak riuh, dan tidak terlihat, tetapi justru di situlah kualitas kepemimpinan diuji.
Pesan moral ini tidak hanya ditujukan kepada para kandidat, tetapi juga kepada seluruh warga NU. Muktamar adalah milik bersama, dan kualitasnya ditentukan oleh cara kita menyikapinya. Jika ruang publik diisi dengan kedewasaan, maka hasilnya akan membawa keberkahan.
Namun jika dipenuhi prasangka dan rivalitas yang tidak sehat, maka yang rusak bukan hanya proses, tetapi juga marwah jam’iyah.
Ungkapan hikmah dalam tradisi ulama terasa begitu kontekstual untuk situasi ini: “Bukan perkara banyaknya amal, tetapi perkara besarnya keikhlasan.”
Dalam konteks Muktamar NU 2026, kalimat ini dapat dimaknai ulang bukan siapa yang paling luas dukungannya, tetapi siapa yang paling tulus pengabdiannya.
Pada akhirnya, suksesi kepemimpinan bukan sekadar soal siapa yang terpilih, tetapi bagaimana proses itu dijalankan. Apakah ia menjadi panggung ambisi, atau justru ladang ibadah?
Kisah sahabat Anshar itu telah memberi jawabannya: kemuliaan sejati lahir dari hati yang bersih. Dan dalam setiap momentum besar seperti muktamar, jalan sunyi itulah yang seharusnya menjadi pilihan bersama.(*)
*Bey Arifin adalah Pengurus IKAPETE Jombang.





































