Nonot Sukrasmono (kanan) dan KH Agus Sunyoto (kiri-ft/jatimsatu.id)

SURABAYA | duta.co – Keluarga Besar Nahdlatul Ulama berduka karena ditinggal untuk selama-lamanya oleh KH Agus Sunyoto Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) PBNU yang wafat pada Selasa (27/4/2021) pagi bertepatan dengan 15 Ramadhan 2442 H di RSAL Dr Ramelan Surabaya karena sakit lambung dan pernapasan.

Pengasuh Ponpes Global Tarbiyatul Arifin Malang itu selain menjadi dosen di UNISMA juga dikenal sebagai budayawan dan ahli sejarawan Islam Nusantara yang mampu menggali dari sumber primer subyek dan obyek sejarah hingga fakta sejarah yang diungkap memiliki nilai otoritas yang tinggi.

Salah satu karya terbaik yang ditulis almarhum KH Agus Sunyoto hingga mendapat penghargaan buku non fiksi terbaik tahun 2014 versi Islamic Book Fair adalah Buku Atlas Wali Songo.

Menurut Nonot Sukrasmono ketua PW Lesbumi Jatim, sosok almarhum KH Agus Sunyoto itu orangnya Bohemian. Sebab dalam mengemban misi NU tentang kebudayaan, dan kesenian sangat luar biasa.

“Beliau itu orang yang sangat sederhana, sabar dan mau menerima perbedaan pendapat dalam memimpin organisasi,” kata Nonot Sukrasmono saat dikonfirmasi Selasa (27/4/2021).

Di sisi lain, kata Nonot, almarhum itu orang yang tidak bisa menolak undangan jika memang lagi kosong jadwalnya. Padahal beliau memiliki kesibukan yang luar biasa, namun mau menyempatkan waktu untuk kegiatan Lesbumi dimana pun.

“Itu adalah bagian dari strategi beliau dalam mengembang amanah dan menjaga misi Islam Nusantara,” ungkapnya.

Ia mengakui sering berbeda pendapat dalam konteks pemikiran dengan almarhum terkait misi Lesbumi. Namun perbedaan itu tak sampai dibawah ke ranah konflik karena beliau sangat menghargai pendapat orang lain, sehingga masih bisa jalan bersama-sama dan selalu berkoordinasi.

“Beliau itu ingin Lesbumi menjadi salah satu Banom itu, tapi saya tidak setuju dengan alasan yang bisa diterima. Makanya penentuan jadi atau tidak Lesbumi jadi banom NU diserahkan dalam Muktamar NU mendatang,” tegas Nonot.

Secara khusus, Nonot juga memiliki kenangan khusus dengan KH Agus Sunyoto yakni saat sama-sama menjadi calon ketua PP Lesbumi.

“Saya minta beliau saja yang ada di pusat. Tapi beliau justru minta saya yang menjadi ketua PP Lesbumi. Makanya saya minta saran KH Hasan Mutawakkil Alallah (Ketua PWNU Jatim), dan saya disarankan tetap di Jawa Timur sehingga beliau bisa sepakat dengan alasan saya,” kenangnya.

“Jangan ada dua harimau di Jakarta, sebab itu menjadi kurang baik bagi organisasi, sehingga harus ada pembagian tugas KH Agus Sunyoto di Jakarta dan saya di Jawa Timur. Itulah hasil musyarawah kita berdua,” imbuhnya.

Nonot berharap kader Lesbumi di seluruh Indonesia bisa meniru keteladanan KH Agus Sunyoto dalam mengemban misi organisasi, penyabar, demokratis, mau menerima perbedaan pendapat dan mau turun lapangan.

“Walaupun beliau itu ketua pusat tapi tak mau hanya bekerja di belakang meja, itulah yang membuat kami terkesan dan merasa kehilangan,” ungkapnya.

Kendati demikian, NU tak perlu khawatir sebab KH Agus Sunyoto telah menyiapkan kader-kader yang kualitasnya tak kalah jauh. Sebut saja Gus Muwafik, Gus Miftah, Kiai Jaduk, Gus Malik hingga Gus Sastro. “Mereka itu siap jalankan misi NU dalam kebudayaan, kesenian dan menjaga Islam Nusantara,” pungkas Nonot. (ud)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry