Oleh Aguk Irawan MN.

KH ABDUL Hakim Mahfudz (Gus Kikin) resmi terpilih sebagai Ketua Umum PBNU periode 2026-2031 melalui musyawarah mufakat sembilan anggota Ahlul Halli wal Aqdi (AHWA) dalam Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Namun, sejarah mencatat bahwa riak paling dinamis dan reflektif dalam kontestasi ini justru lahir dari rahim keresahan kultural yang dimotori oleh dua figur utama Presidium Penyelamat Organisasi dan Muktamar Luar Biasa (MLB) NU, yaitu KH Abdussalam Shohib (Gus Salam) dan KH Imam Jazuli (Kiai Imjaz).

Kehadiran mereka di bursa pimpinan tertinggi Tanfidziyah bukan sekadar drama perebutan takhta struktural, melainkan kulminasi dari gerakan moral yang panjang, sebuah manifesto spiritual untuk mengembalikan marwah jam’iyah ke jalur khittah aslinya.

Muktamar ke-35 NU menjadi panggung pembuktian betapa akar rumput merindukan keseimbangan baru dan pemulihan wibawa ulama. Dalam proses penjaringan suara oleh para muktamirin, Gus Salam berhasil mengamankan dukungan riil sebesar 261 suara. Angka ini menjadi simbol perlawanan kultural yang sangat kuat karena berhasil mengungguli perolehan suara petahana, KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya), yang mengantongi 258 suara.

Di sisi lain, fenomena yang tidak kalah memikat dihadirkan oleh KH Imam Jazuli. Pengasuh Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon tersebut baru menyatakan kesiapannya untuk dicalonkan sekitar 12 jam sebelum pemilihan dimulai, sebuah keputusan spontan yang didorong oleh desakan arus bawah dan dinamika forum yang menuntut alternatif pemimpin independen.

Meski maju tanpa persiapan logistik politis dan dalam waktu yang luar biasa singkat, Kiai Imjaz mampu mengumpulkan 22 suara dari para pengurus cabang yang berani menyuarakan kejujuran nurani mereka.

Lahirnya Presidium MLB NU itu sendiri merupakan babak sejarah yang penuh dengan muatan reflektif. Gerakan ini bermula dari akumulasi kegelisahan para kiai sepuh dan pengasuh pesantren terhadap arah kebijakan struktural PBNU yang dinilai terlalu bergeser dari peran masyarakat sipil dan terjebak dalam anomali tata kelola organisasi.

Sebagai dzurriyah, pewaris sah biologis sekaligus ideologis dari salah satu muassis NU—KH Bisri Syansuri—Gus Salam merasakan beban sejarah yang mendalam untuk menjaga warisan suci para pendiri. Bersama Kiai Imam Jazuli, mereka mendirikan presidium bukan sebagai makar, melainkan sebagai katup penyelamat ketika komunikasi formal organisasi mampat.

Mereka menyuarakan pentingnya tertib organisasi, pembenahan atas pembekuan kepengurusan daerah yang sewenang-wenang, serta penegasan kembali bahwa struktur Tanfidziyah sejatinya adalah pelaksana teknis atau operator dari visi besar para ulama sepuh di jajaran Syuriyah.

Gus Salam dan Kiai Imjaz adalah dua potret kiai yang unik dengan karakter khidmah yang saling melengkapi. Gus Salam merepresentasikan ketenangan, keteguhan tradisi pesantren, dan kepemimpinan yang merangkul. Ia bukan orator yang meledak-ledak di panggung politik nasional, melainkan kiai yang telaten mengajar kitab, membina santri di Denanyar, dan rajin merajut jembatan silaturahmi antarpasukan kultural di Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Keberaniannya mengkritik struktur lahir dari rasa cinta yang tulus, sebuah bentuk tabayyun terbuka demi menjaga agar NU tidak kehilangan jiwanya. Prestasinya nyata dalam merumuskan konsep “Rekonsiliasi Total” dan menawarkan terobosan struktur baru, seperti komitmen menunjuk Sekretaris Jenderal dari luar Jawa demi afirmasi pemerataan kepemimpinan serta mengangkat diaspora luar negeri untuk memperkuat jejaring global jam’iyah.

Sementara itu, Kiai Imam Jazuli atau Kiai Imjaz adalah representasi dari kiai transformatif, progresif, dan berpikir out-of-the-box. Di bawah asuhannya, Pesantren Bina Insan Mulia Cirebon menjelma menjadi pusat pendidikan Islam modern yang adaptif tanpa menanggalkan identitas kepesantrenan.

Kiprah monumentalnya terlihat dari inisiatif menyelenggarakan Workshop Transformasi Pesantren bagi 5.000 pengasuh pondok pesantren se-Indonesia, sebuah khidmah strategis untuk memastikan bahwa benteng pertahanan NU di akar rumput siap menghadapi disrupsi zaman.

Keresahannya sama dengan Gus Salam, yaitu kerinduan akan kepemimpinan NU yang alim secara substantif, mandiri secara ekonomi, bersih dari kepentingan politik praktis jangka pendek, serta kembali memprioritaskan pelayanan umat.

Melalui angka 261 suara yang diraih Gus Salam dan 22 suara kilat milik Kiai Imjaz, sejarah Muktamar ke-35 NU mengirimkan pesan moral yang terang benderang. Gerakan Presidium MLB NU yang semula dipandang sebelah mata oleh elite struktural, terbukti memiliki jangkar spiritual dan dukungan riil yang kokoh di tingkat cabang dan wilayah.

Fenomena kemunculan kedua tokoh ini mempertegas bahwa di dalam tubuh Nahdlatul Ulama, kekuasaan tertinggi tidak pernah benar-benar berada di tangan pemilik modal politik atau jabatan publik, melainkan bersemayam dalam restu para kiai sepuh, kesucian nasab ideologis, serta ketulusan khidmah yang dirasakan langsung oleh umat.

Kontestasi telah usai dengan terpilihnya Gus Kikin, namun gagasan pembaruan, keberanian bersuara, dan komitmen rekonsiliasi yang ditiupkan oleh Gus Salam dan Kiai Imjaz akan tetap menjadi kompas moral yang mendewasakan perjalanan jam’iyah Nahdlatul Ulama ke depan. Wallahu’alam.

*AGUK IRAWAN MN adalah Pengasuh Pesantren Baitul Kilmah, Budayawan dan Aktivis Muda NU.
Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry