Oleh: H.N Falah Amru-DPR RI

GANTENG, priyayi dan otak brilian  membuat tokoh ini diberi julukan  sang Pangeran Jawa-De Javanese Prins,  Si Jenius dari Timur dan wanita-wanita Eropa memujanya dengan julukan De Mooie Sos (si Sos yang ganteng). Ia memang tokoh spesial, x-tra ordinary untuk julukan orang sekarang. Walau mungkin tak sepopuler adik kandungnya R.A Kartini tokoh ini sangat inpirastif, jasanya bagi pertiwi sangat besar. Tak  bisa dipungkiri, ia turut andil menjadikan Kartini pejuang emansipasi wanita lewat dialog dan surat menyurat.

Untuk ukuran pangeran Jawa, Panji Sostokartono punya pemikiran global karena mengenyam pendidikan di Eropa dan menjadi mahasiswa pertama bumiputra  yang meneruskan pendidikan ke Eropa disusul tokoh-tokoh lainnya. Di Jepara, anak keempat R.M Ario Sostrodiningrat tamat di Europeesche Lagere School teruskan pendidikan ke H.B.S Semarang dan lanjut ke Belanda tekuni ilmu di sekolah Teknik Delft. Kurang pas dengan passionnya ia pindah ke jurusan Bahasa dan Sastra Timur dan dapat gelar Doctorandus in de Oostdersche Talen dari Universitas Leiden.

Sostrokartono memiliki anugrah photographic memory , seorang poliglot (ahli bahasa) jenius. Bagaimana tidak, ia menguasai 26 bahasa di dunia juga bahasa Nusantara. Untuk ukuran orang Jawa jaman itu, kelahiran 10 April 1877 berkiprah global  sebagai jurnalis. Ia bekerja di The New York Tribune-Eropa dan mewartakan peristiwa penting di Perang Dunia ke-1. Reportasenya ia buat dalam berbagai bahasa. Ialah yang mengabadikan peristiwa-peristiwa itu dalam kacamata orang pribumi. Jabatannya juga mentereng, sebagai Kepala Juru Bahasa untuk Liga Bangsa-Bangsa (Volkenbond) sekarang Liga Bangsa-Bangsa itu bernama PBB. Ia diplomat ulung juga, buktinya artikelnya pernah gemparkan Eropa-Amerika dalam artikel berisi perundingan Jerman-Perancis di gerbong kereta api tengah hutan Compiegne (Foret de Compiegne) wilayah Picardy Perancis (1918). Secara reportase perundingan rahasia gencatan senjata PD 1 dan menandai kekalahan Jerman ini sangat sulit diwartakan. Akses untuk wartawan mustahil ditembus dijaga ketat tentara. Tapi Sostrokartono mampu meliputnya. Tidak heran, Soekarno dan Moh. Hatta menyebutnya sebagai seorang yang  jenius.

Untuk persoalan ini, banyak ahli sejarah dan spiritual menganggapnya punya kemampuan spritual tinggi. Saat pulang ke Indonesia tahun 1921, banyak cerita ajaib mengenai kiprahnya. Di Nusantara ia diangkat KI Hajar Dewantara sebagai Kepala Sekolah Menengah di Bandung, anehnya banyak orang meminta air dan doa darinya untuk kesembuhan dan manjur. Ia lantas mendirikan klinik bernama Darussalam. Ada sebuah peristiwa ia menyembuhkan anak Eropa saat semua dokter tidak mampu menyembuhkannya, peristiwa ini mirip kisah legendaris saat Rasputin penyembuh anak kaisar Rusia. Dalam kejadian lain, ia juga pernah memotret kawah Tangkuban Perahu dari udara untuk kepentingan jurnalistik. Anehnya, hasil foto  itu ia ambil tanpa bantuan pesawat apalagi drone yang belum ada di jamannya.

Soal jiwa nasionalisme, ia bernyali besar. Pada jaman Belanda, Jepang dan sekutu, bendera Merah-Putih selalu berkibar di rumahnya. Ini juga keajaiban, ketiga pihak seakan tidak peduli atau memang tidak melihat bendera itu secara kasat mata? Mungkin itu juga yang menyebabkan ia dianggap ahli kebatinan. Di sisi lain, sebagai wartawan perang ia diberi pangkat Mayor oleh sekutu tetapi menolak membawa senjata.”Saya tidak pernah menyerang orang, oleh karena itu sayapun tidak akan diserang, jadi apa perlunya saya membawa senjata,” ucapnya suatu waktu.

Tahun 1951, insan mulia ini wafat di Bandung, jenazahnya lantas di bawa ke makam Sido Mukti, desa Kaliputu, Kudus, Jawa Tengah disamping makam kedua orangtuanya, Nyai Ngasirah dan RMA Sostrodiningrat. Ia juga berjiwa sosialis sejati! Saat wafat ia tak berharta, padahal dengan kiprahnya dan nasabnya sebagai bangsawan ia bisa saja bergelimang harta. Hartanya hanyalah selembar kain bertuliskan ALIF. Nisannya tertulis petuah pusaka yang wajib direnungi. Di nisan sebelah kiri-barat tertulis: Soegih Tanpo Bondo (Kaya Tanpa Harta), Ngaloerog Tanpo Adji (Berkuasa Tanpa Kesaktian), Menang Tanpo Ngasoraken (Menang tanpa Merendahkan). Tulisan di Nisan Kiri-Timur: Trimah Mawi Pasrah (Menerima dengan Ikhlas dan Pasrah), Suwung Pamrih Tebih Ajrih ( Tanpa Pamrih Jauh Dari Rasa Takut), Langgeng tan Ana Susah tah Ana Bungah (Tenang tidak terombang ambing oleh Susah dan Senang), Anteng Manteng Sugeng Jenang (Tenang dan Fokus maka Hidupnya akan Selamat Sentosa).

Benar-benar insan pusaka! (*)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry