
SURABAYA | duta.co – Tak banyak yang tahu, Dr Sumiati, Wakil Rektor 3 Untag Surabaya, pernah masuk lingkaran politik bersama Krisdayanti dan juga pernah duduk menjadi DPRD Jawa Timur (2009-2014). Namun di balik sorot panggung itu, ia tetap setia pada dunia akademik.
Sumiati lahir di Gresik Jawa Timur pada 4 Januari 1969 sebagai anak sulung dari dua bersaudara. Keinginannya untuk kuliah sangat kuat. Demi mewujudkan hasrat itu, ia bekerja sebagai guru les sambil menempuh pendidikan S1 di Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP). Langkah tersebut menjadi awal perjalanan panjangnya dalam dunia akademik.
Lulus kuliah, Sumiati sempat berbelok ke dunia media. Pada 1992 hingga 1996, ia bekerja di SCTV Surabaya, yang saat itu hanya ada dua televisi swasta di kota ini, yakni RCTI dan SCTV.
Setelah beberapa tahun menikmati pekerjaannya di SCTV, perjalanan Sumiati harus berbelok setelah ada kebijakan seluruh stasiun televisi swasta memusatkan siaran di Jakarta. Kariernya di televisi terhenti. Jalan hidup membawanya kembali ke pendidikan. Setelah menempuh S2 Magister Manajemen di Untag Surabaya, pada Desember 1996 ia resmi bergabung sebagai dosen di kampus tersebut.
Sebelumnya, ia juga sempat menjadi Wakil Direktur 3 Akademi Sekretaris Manajemen Indonesia (ASMI) Surabaya pada 1995. Ia juga bergabung dengan Koperasi Mega Gotong Royong (KOMEGORO) Jawa Timur hingga dipercaya menjadi sekretaris.
Pada 2003, ia didaulat menjadi Direktur Forum Perempuan Nasionalis Indonesia (FPNI) Jawa Timur, organisasi yang bergerak di bidang pemberdayaan perempuan dan kesetaraan gender. Dari sini dia bisa belajar ke Malaysia, Australia, hingga Amerika Serikat lewat program IVLP (International Visitor Leadership Program). Ia bahkan berkeliling tujuh negara bagian AS dan menjelajahi lima benua.
Pengalaman itu membuatnya semakin aktif dalam politik. Pada 2005 hingga 2010, ia tercatat sebagai pengurus Dewan Perwakilan Daerah (DPD) PDIP Jawa Timur di bidang pemberdayaan perempuan dan kesra. Karier politiknya berlanjut ketika ia duduk sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jawa Timur Komisi E pada 2009 hingga 2014, membidangi kesehatan, pendidikan, dan sosial.Sembari menjadi legislator, ia melanjutkan pendidikan S3 di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untag Surabaya hingga meraih gelar Doktor Ilmu Ekonomi pada 2013.
Pengalamannya di dunia politik pun penuh warna. Meski tidak lagi mencalonkan diri, Sumiati masih aktif memberi dukungan. Ia bahkan sempat masuk ke lingkaran artis-politik nasional dengan mendampingi Krisdayanti dalam kampanye legislatif.
Bersama suami KD, Raul Lemos, ia terlibat sebagai Steering Committee (SC) dan ikut berkeliling dalam kampanye bertajuk “Perempuan Hebat, Indonesia Kuat.” Momen itu menjadi pengalaman berharga mengantarkan Krisdayanti duduk di kursi legislatif, tetapi juga memperkaya pandangan Sumiati tentang strategi politik.
Setelah itu, ia kembali sepenuhnya ke kampus. Pada 2016, ia dipercaya sebagai komandan pendirian Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) P1 Untag Surabaya yang kini menjadi rujukan benchmark LSP P1 hingga level Nasional. Berkat pengalamannya, ia dipercaya menjadi Master Assessor BNSP, satu-satunya di Untag Surabaya. Sumiati juga mengantongi Sertifikat Instruktur Level 6. Ia juga sering diminta LPPM Untag Surabaya sebagai narasumber Bimtek DPRD.
Perjalanan panjang itu akhirnya membawanya menjadi Wakil Rektor 3 Untag Surabaya yang dilantik pada 19 Agustus 2025. Baginya, bekal utama dalam hidup adalah bekerja dengan totalitas. Dunia pendidikan melatihnya konsistensi, sementara pengalaman politik membentuknya tangguh menghadapi beragam karakter manusia.
Ia dikenal sebagai sosok pekerja keras yang tak pernah berhenti belajar. Dari pernikahannya, Sumiati dikaruniai empat putra yang kini sukses di bidang politik, kesehatan, pendidikan, dan dunia kerja internasional, menjadi kebanggaan sekaligus bukti perjuangan panjangnya sebagai ibu tunggal.
Keteguhannya membuat ia dijuluki “Mrs. Struggle” di forum-forum politik, karena tidak pernah tunduk begitu saja. Prinsipnya sederhana yaitu pelajari sesuatu secara total, aplikasikan yang relevan, dan jadikan sisanya bekal pengalaman.
Sebagai aktivis perempuan, Sumiati percaya perjuangan perempuan tidak mudah, apalagi ketika masih dipandang sebelah mata. Baginya, perempuan harus mandiri, terus maju, dan saling mendukung. Jaringan justru akan semakin kuat bila saling mendorong, bukan bersaing. Sifat ramah dan rendah hati membuatnya memiliki relasi luas hingga ke berbagai daerah.
“Saya berusaha untuk menerima, bersyukur, dan berpikir positif. Orang mau berbicara apapun tentang saya, tidak peduli. Yang tahu diri saya adalah saya,” katanya. ril/lis






































