SURABAYA | duta.co – Belakangan masyarakat ramai membicarakan tentang keberadaan Langgar Hasan Gipo, termasuk di media sosial. Pasalnya, langgar atau mushola yang berada di Kalimas Udik, sekitar kawasan religi Makan Sunan Ampel itu memiliki nilai sejarah yang tinggi bagi warna Nahdlatul Ulama (NU).

Di langgar itu bukan hanya terukir sejarah NU karena ada jejak KH. Hasan Gipo, Ketua Umum PBNU pertama, tapi juga bagi bangsa Indonesia karena tokoh-tokoh pahlawan kemerdekaan seperti HOS Tjokro Aminoto, Soekarno pernah memanfaatkan langgar itu untuk merancang perjuangan kemerdekaan.

Sayangnya, kondisi Langgar Hasan Gipo saat ini kurang terawat dan hampir roboh sebagian atapnya. Tak ayal, Wakil Ketua DPRD Jawa Timur Hj Anik Maslachah pun menaruh perhatian pada kondisi bangunan sejarah yang perlu dirawat dan dilestarikan oleh generasi penerus bangsa.

Menurut kader Muslimat NU ini, bila melihat nilai sejarahnya, Langgar Hasan Gipo ini adalah bangunan bersejarah atau bagian dari situs sejarah karenanya layak dijadikan cagar budaya di Surabaya.

“Langgar Hasan Gipo menjadi tonggak sejarah pengembangan keagamaan, sekaligus ruang diskusi melawan penjajah. Maka sudah sepatutnya pemerintah kota Surabaya menjadikannya sebagai cagar budaya,” harap politisi asal PKB saat dikonfirmasi, Rabu (17/6/2020).

Sampai Jembatan Merah

Politisi PKB ini mengungkapkan jejak sejarah bangunan Langgar Hasan Gipo begitu tinggi nilainya, mulai sebagai tempat ibadah, ruang diskusi (pengembangan ilmu, sosial, budaya, ekonomi) serta politik (strategi melawan penjajah). Bahkan pernah menjadi tempat asrama haji pertama, sebelum diberangkatkan dengan kapal laut melalui Pelabuhan Tanjung Perak.

Karena itu, pihaknya berharap pada pemerintah kota Surabaya intervensi melakukan revitalisasi dengan menfungsikan kembali Langgar Gipo sebagai tempat ibadah, sekaligus cagar budaya. Dengan begitu dapat menjadi referensi sejarah yang bisa diketahui oleh seluruh masyarakat, sekaligus akan membuka akses perekonomian sekitarnya.

“Saya kira perlu dilakukan revitalisasi Langgar Hasan Gipo agar bisa dipergunakan kembali sebagai tempat ibadah. Sekaligus nantinya menjadi situs sejarah dan destinasi wisata yang nanti pengembangannya bisa sejalan dengan kawasan wisata teligi Ampel. Tentunya langkah-langkah itu bisa melibatkan ahli sejarah, pihak pemprov dan juga ahli waris,” imbuh Anik.

Untuk diketahui, Langgar Gipo adalah tempat ibadah yang terdiri dari dua bangunan. Lantai satu untuk beribadah. Lantai dua digunakan untuk beristirahat maupun menginap. Lantai dua ini yang pernah difungsikan sebagai asrama haji, tempat transit calon jamaah haji sebelum berangkat ke tanah suci dengan kapal dari pelabuhan Tanjung Perak

Di dalam komplek bangunan yang konon berdiri sejak 1834 ini ada dua sumur besar dengan airnya yang sangat bening. Belum lama ini ditemukan juga bangunan bawah tanah atau bunker yang menghubungkan Langgar Hasan Gipo dengan dunia luar.

Diduga bangunan bawah tanah itu terhubung hingga ke kawasan Jembatan Merah dan sekitar Tugu Pahlawan. Fakta ini menguatkan informasi yang menyebut Langgar Hasan Gipo sebagai salah satu markas Laskar Hizbullah saat revolusi fisik melawan penjajah. (ud)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry