Pertemuan Pemahaman Pengarusutamaan Gender dan Perlindungan Anak pada Jurnalis Media Massa di Provinsi Jatim’, yang digelar DP3AK di Swiss-Belinn, Kamis (28/9/2022).

SURABAYA | duta.co –  Pemberitaan di media massa saat ini belum memberi perlindungan terhadap perempuan dan anak, terutama pada korban kekerasan.

Hal itu terungkap saat ‘Pertemuan Pemahaman Pengarusutamaan Gender dan Perlindungan Anak pada Jurnalis Media Massa di Provinsi Jatim’, yang digelar Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Kependudukan (DP3AK)  di Swiss-Belinn, Kamis (28/9/2022).

Padahal menurut Kadis DP3AK Restu Novi Widiani, media massa adalah salah satu sarana penyalur informasi, pesan, dan hiburan pada masyarakat luas, memiliki kemampuan mengubah opini publik sekaligus memiliki kemampuan membentuk kontruksi gender tertentu di masyarakat.

“Pada posisi ini media massa sering kali dijadikan rujukan karena kemampuan menyajikan data dan fakta yang lebih cepat,” ungkapnya.

Masalahnya, lanjut Novi, pemberitaan masih banyak belum memberikan perlindungan pada perempuan dan anak. Dampak buruknya pemberitaan masih berpihak pada kelompok tertentu atau ada kecenderungan diskriminatif.

“Penyebabnya, masih minimnya wawasan jurnalis terkait kesetaraan gender bisa menjadi penyebab masih banyaknya berita yang mengabaikan isu responsif gender,” ujarnya.

Novilantas menyoroti berita yang sangat detail khususnya terkait kasus kekerasan seksual. Dalam beberapa kasus, pemberitaan yang detai menurut Novi malah terbias menjadi pornografi. Hal ini yang tidak disadari oleh media. Padahal informasi yang lebih mengesankan pornografi bisa memicu terjadi pengulangan kasus dan tidak menimbulkan efek jera.

“Ini bisa kontaproduktif, bukan jera tetapi bisa memicu kekerasan seksul terulang,” lanjut mantan pejabat Dinsos Jatim tersebut.

Karenanya, dengan penguatan perspektif responsif gender, diharapkan tulisan istimewa hasil  liputan jurnalistik ini tidak  hanya  melihat  sisi  fakta saja,  tapi  juga  penggalian sudut  pandang  kesetaraan dan keadilan bagi  anak-anak  dan  perempuan di media.

“Ini bukan dalam arti stop pemberitaan tentang kekerasan, justru kami senang bahwa berita itu semakin banyak artinya kita sudah tahu bahwa banyak sudah teman-teman itu yang sudah menjadi pelapor dan pelopor yang berarti ini adalah banyak yang bisa menyuarakan ke media cuman tinggal bagaimana menayangkannya,” tegasnya.

Diketahui, kegiatan kali ini diikuti oleh pimpinan media, organisasi media yakni AJI, PWI, dan FJPI, selain itu juga dari instansi terkait di lingkungan Pemprov Jatim. rum

 

 

 

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry