Ketua Pelaksana Pemberdayaan Masyarakat, Aviv Yuniar Rahman ST MT (kanan) menyerahkan tong kascing kepada wakil warga RW 4 Kelurahan Sukun Kota Malang.

MALANG | duta.co – Tim dosen Universitas Widyagama Malang (UWG), yang diketuai oleh Aviv Yuniar Rahman ST MT memberdayakan masyarakat melalui pengolahan limbah rumah tangga. Dari sisa sayuran atau nasi busuk disulap menjadi rupiah. Ekonomi warga terdongkrak, dan limbah pun tidak menumpuk menjadi masalah, malah menjadi berkah.

Hal tersebut disampaikan Ketua Pelaksana Pemberdayaan Masyarakat, Aviv Yuniar yang ditemui seusai sosialisasi dan pelatihan pengolahan limbah organik. Dimana dalam program ini melibatkan dua mitra, yakni pengolah limbah organik, dan pemanfaat limbah organik. Tim pemberdayaan masyarakat ini juga menghibahkan mesin pengolah limbah organik, tong cacing sejumlah 30 buah. Juga ada aplikasi kas yang memonitoring manajemen keuangan untuk kelompok pengolah limbah organik.

“Karena kelemahan rata-rata di setiap UKM ialah lemahnya pencatatan. Hingga nanti dapat diketahui program ini dapat untung atau malah rugi atau juga piutang,” ungkap Aviv, Sabtu (9/10).

Lebih lanjut, dosen Teknik Informatika yang juga Kaprodi ini menjelaskan pula, bila permasalah awal yang ditemukan, limbah organik dibuang begitu saja tanpa pemanfaatan. Jika limbah skala pasar, dapat diolah dengan mesin hingga menjadi bubur. Sedangkan untuk limbah rumah tangga harus dipilah-pilah terlebih dahulu, baru kemudian dicacah baru kemudian dibuat pakan untuk cacing. Solusinya dengan menyediakan tong pengolah limbah tersebut di tiap rumah yang memang konsern terhadap sampah.

“Nantinya, warga yang mendapat hibah tong tersebut, tiap bulan dapat dipanen dan dijual ke PT RAJ. Cacingnya dihargai per kilo 20 ribu rupiah. Sedangkan kascing per kilo dihargai 500 rupiah. Paling tidak, mereka tiap bulan mendapat penghasilan 100 ribu rupiah,” jelasnya.

Aviv tak sendiri, ia beserta Feddy Wanditya Setiawan ST MT dan April Lia Hananto SKom MKom. Ke tiga dosen ini menyadari, dampak pandemi yang begitu dasyat memukul sektor ekonomi dan sosial, lewat hibah ini penghasilan tambahan dapat terdongkrak.

Program Pengma ini dimulai pertengahan Juli kemarin dan berakhir Desember ini. Dimana yang banyak memakan waktu dalam Program ini saat proses riset dan uji coba formulasi. Hingga akhirnya menemukan perbandingan yang tepat antara jumlah cacing dan volume limbahnya.

Rencananya Senin (11/10) 30 tong penglolah limbah rumah tangga ini akan dibagikan kepada masyarakat RW 04 Kelurahan Sukun Kota Malang.

Program ini tidak dilepas begitu saja, namun nanti tiap minggu akan dimonitor oleh tim dosen dan mahasiswa beserta pengolah limbah. Tidak itu saja, program Pengma ini juga melibatkan Pemerintah, dalam hal ini Kelurahan setempat. Dengan harapan, kesuksesan mendongkrak ekonomi warga dapat ditularkan oleh Pemerintah Kota ke kampung-kampung yang lain.

Dengan harapan akhirnya, limbah ini dapat terus berkurang. Lantaran jika pengolahan limbah ini dijadikan terpusat tanpa peran serta warga, biayanya mahal. Biaya pembuatan satu unit tong kascing ini mencapai 2,6 Juta, yang didanai dari Hibah Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Ditambahkan oleh Abdul Aziz Adam, pemilik PT Rumah Alam Jaya (RAJ) lembaga pengolah pertanian terpadu. Perusahaan ini memang bergerak dari hulu sampai hilir, dari bahan baku, pengolahan hingga marketingnya.

Ia menjelaskan, bahwa program ini sifatnya kemitraan, dimana masyarakat yang menyuplai cacing dan bahan bakunya, kemudian pihak RAJ yang menerima. Perusahaan ini akan mengolah cacing dari warga tersebut untuk suplemen tanaman. Sedangkan kastingnya dieksport, untuk memenuhi permintaan 60 ton per bulan. Permintaan terbesar dari negara-negara Timur Tengah yang peruntukannya untuk perombakan struktur tanah gersang di sana. (dah)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry