Kegiatan dosen Unusa saat melakukan pengabdian masyarakat bagi Kader Surabaya Hebat agar bisa memberdayakan keluarga dalam proses pengobatan TBC. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co –  Penyakit tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan di negara tropis seperti Indonesia. Penanganan penyakit ini tidak bisa dilakukan sendiri namun harus komprehensif dan melibatkan banyak pihak. Baik itu tenaga kesehatan, kader kesehatan serta juga peran keluarga.

Penanganan penyakit mengalami permasalahan terutama aspek managemen kesehatan dan sosial masyarakat.

Aspek manajemen kesehatan yakni adanya tantangan dalam penanganan pasien TBC terutama terkait dengan tingginya risiko pasien mengalami putus obat atau drop out dari pengobatan. Salah satu faktor utama yang berkontribusi terhadap masalah ini adalah kurangnya pengembangan dan pemberdayaan mitra dalam memberikan dukungan psikologis kepada pasien.

Banyak mitra yang telah aktif dalam pendampingan medis, namun belum memiliki keterampilan yang memadai dalam mendeteksi tanda-tanda kelelahan mental atau demotivasi pada pasien yang berisiko menghentikan pengobatan.
Aspek sosial masyarakat yaitu ketiadaan pelatihan khusus dalam aspek psikososial membuat kader kesulitan dalam memberikan motivasi yang efektif serta membangun hubungan empati dengan pasien. Akibatnya, banyak pasien yang merasa kurang didukung secara emosional dan akhirnya memilih untuk menghentikan pengobatan sebelum waktunya.

Untuk mengatasi hal ini, tiga dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) yakni drg. Umi Hanik, M.Kes,
Dr Chilyatiz Zahroh dan Prof Dr dr Mulyadi, dibantu empat mahasiswa yakni Fendi Khoirul Amilin, Satrio Dwimeiditia Rifqi, Nur Rahma dan Putri Eva Nursyakhinah melakukan pengabdian masyarakat (pengmas) untuk pemberdayaan kader.

Dikatakan drg Umi Hanik, selaku Ketua Tim Pengabdian Masyarakat, pemberdayaan itu melalui pelatihan teknik komunikasi suportif, pendekatan psikososial berbasis komunitas, serta strategi membangun kepercayaan dan motivasi pasien.

“Dengan adanya intervensi ini, diharapkan kader dapat berperan lebih aktif dalam memberikan dukungan tidak hanya secara medis, tetapi juga secara psikologis, sehingga berdampak dalam meningkatkan angka kepatuhan pasien terhadap pengobatan dapat meningkat dan angka putus obat dapat ditekan,” ujar Umi.

Libatkan KSH

Pemberdayaan dilakukan bagi para Kader Surabaya Hebat (KSH) yang ada di wilayah RW 4 Kelurahan Wonokromo,  Kota Surabaya mulai Oktober hingga November 2025 ini.

Ada sekitar 30 KSH yang diberikan pengetahuan dan keterampilan terkait pencegahan, penatalaksanaan dan komunikasi asertif. Sehingga diharapkan  dapat mencapaian kondisi End Endemic Tuberculosis pada  2030 sesuai target SDGs 3.3.

kSH sendiri adalah sebagai penggerak yang membantu masyarakat dalam mengakses berbagai layanan pemerintah, khususnya di bidang kesehatan. KSH tersebar di berbagai kelurahan di Surabaya salah satunya di Kelurahan Wonokromo RW 04.

Kader Surabaya Sehat di kelurahan Wonokromo RW 4  beranggotakan berbagai elemen masyarakat, termasuk Bunda PAUD, Kader PKK, Kader Lingkungan, Kader Posyandu, dan masyarakat lainnya. Mereka berperan aktif dalam memberikan edukasi, menyebarluaskan informasi, serta memfasilitasi akses layanan kesehatan dan sosial di tengah masyarakat. Keberadaaan KSH di kelurahan ini sangatlah berpotensi untuk meningkatkan aspek kesehatan di lingkungan masyarakat sekitar, mengingat wilayah Wonokromo merupakan wilayah padat penduduk

“Dengan pemberdayaan KSH ini kami harapkan bisa jadi kepanjangan tangan dari para tenaga medis agar bisa mengedukasi pasien dan keluarganya akan pentingnya aspek manajemen dan sosial dalam penanganan penyakit TBC ini,” turut Umi. ril/hms

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry