GERTAK KITA : Dekan FKK Unusa Yanis Kartini meresmikan tim untuk membantu mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak di Kelurahan Gayungsari Surabaya, Kamis (23/5) DUTA/endang

Kota Surabaya yang merupakan kota terbesar kedua di Indonesia, justru mengalami banyak masalah kesehatan. Masalah kepedulian akan kesehatan masih rendah,  kematian ibu dan bayi ternyata masih sangat tinggi. Serta banyak problematika kesehatan lainnya. Karena itu dua dosen Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) membentuk Laskah Gertak Kita. Apa itu?

—–

Laskar Gertak Kita (Gerakan Serentak Kesehatan Ibu dan Anak) dibentuk dua dosen keperawatan Unusa yakni Rusdianingseh dan Khairiyatul Afiyah. Mereka berkolaborasi dengan salah satu perawat dari Puskesmas Kebonsari yakni Didik Dwi Winarno yang memilili ide awal untuk membentuk laskar Gertak Kita itu.

Awalnya ide itu dihembuskan Didik yang menceritakan kondisi kawasan Kebonsari yang masih banyak masalah kesehatan dan problem ibu dan balita.

Dari sana, ketiganya berkumpul untuk membuat sebuah langkah-langkah tertentu yang bisa membantu mengatasi problematika tersebut. “Akhirnya kami berpikir untuk melibatkan masyarakat sekitar dalam mengatasi masalah ini. Kalau tidak problematika ini tidak akan terselesaikan. Karena tenaga kesehatan juga tidak mencukupi,” ujar Khairiyatul Afiyah.

Akhirnya selama dua minggu ketiganya mencari orang-orang yang bisa dilibatkan dalam tim untuk membantu tenaga kesehatan mengatasi problematika yang ada. Tim melakukan survei dan menemukan hasil bahwa masyarakat di RW 1 Kelurahan Kebonsari sangat aktif terutama para ibu-ibu PKK.

Akhirnya dengan persetujuan  banyak pihak, dipilih perwakilan dari 10 RT di RW 1 itu untuk bergabung di tim. Ada 10 orang yang dipilih dengan perwakilan satu orang per RT. “Karena RW 1 itu ibu-ibunya sangat aktif. Mereka diharapkan bisa menularkan ke RW-RW berikutnya,” tandasnya.

Selama dua minggu dua dosen Unusa dan satu perawat Puskesmas Kebonsari itu menjadi mentor. Mereka memberikan pelatihan kepada 10 anggota tim itu. Dua minggu pelatihan dilakukan baik tentang masalah kesehatan ibu dan anak serta masalah kesehatan pada umumnya.

“Kita membantu program pemerintah. Mengatasi masalah kesehatan ibu dan anak, pelatihan tentang tumbuh kembang anak, pelatihan tentang deteksi dini penyakit kanker dengan sadari (periksa payudara sendiri) dan savari (periksa vagina sendiri) serta banyak lainnya,” jelas Khairiyatul.

Dosen keperawatan Unusa yakni Rusdianingseh dan Khairiyatul Afiyah. Mereka berkolaborasi dengan salah satu perawat dari Puskesmas Kebonsari yakni Didik Dwi Winarno (tengah) yang memilili ide awal untuk membentuk laskar Gertak Kita itu. DUTA/endang

Pelatihan- pelatihan ini dibantu juga mahasiswa program studi Ners yang memang sedang praktik kompetensi keperawatan komunitas dan keluarga. Karena visi misi prodi ini adalah keperawatan komunitas bisa lebih baik lagi.

Setelah dilakukan pelatihan tiga mentor itu pun mengaku merasa perlu untuk memberikan nama pada ibu-ibu yang sudah mendapatkan pelatihan. Tim berusaha mencari nama sampai akhirnya muncul Laskar Gertak Kita.

Tim ini pun secara resmi dilaunching pada Kamis (23/5) di Kelurahan Kebonsari. Lurah Kebonsari  Heru Sumarko mengapresiasi langkah dosen dan mahasiswa Unusa yang sudah membentuk kader di Kelurahan Kebonsari untuk meningkatkan kepedulian masyarakat akan kesehatan.

Foto bersama para mentor dan laskar Gertak Kita. DUTA/endang

“Program ini akan terlihat nyata kalau ada keberlanjutan. Jangan berhenti sampai di sini. Unusa harus melanjutkan program ini hingga semua warga Kebonsari sadar akan kesehatan,” jelasnya.

Heru pun menantang Unusa untuk membuat kontrak kerjasama agar program ini bisa berlanjut terus. “Kita bikin MoU agar program ini terus berlanjut. Jadikan Kebonsari ini sebagai kelurahan binaannya Unusa,” tukasnya.

Kepala Puskesmas  Kebonsari, dr Rayner Maylaksana juga mengapresiasi langkah yang dilakukan Unusa. Ini membantu tugas puskesmas karena sebagai pusat kesehatan, puskesmas memiliki tanggung jawab yang besar.

“Di Surabaya ini, kota metropolitan. Tapi angka kematian ibu dan bayi masih tinggi. Padahal semua ada di sini, rumah sakit besar ada di sini, puskesmas tersebar di mana-mana. Ini kenapa. Ini menjadi tantangan bagi kita. Dan Unusa membantu kami untuk mengatasi masalah itu,” jelasnya.

Karena itu ke depan apa yang sudah dilakukan itu akan terus berlanjut. Dekan Fakultas Keperawatan dan Kebidanan (FKK) Unusa, Yanis Kartini mengaku akan menindaklanjuti apa yang sudah dilakukan ini.

“Nanti kita akan melakukan pengabdian masyarakat di sini, bisa jadi kuliah kerja nyata (KKN) Unusa di sini. Banyak hal yang bisa dilakukan,” jelasnya. end

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.