Ilustrasi kebun cabai merah. (FT/petani cabe.blogspot)

MALANG | duta.co – Dosen Universitas Islam Malang (Unisma) berhasil menemukan model pengelolaan kebun cabai merah yang ramah lingkungan. Penelitian model pengelolaan kebun cabai merah ini menjadi alternatif upaya pengendalian penyakit yang mendominasi menyerang tanaman ini, yakni penyakit antraknosa.

Menurut dosen Unisma, Ir Djuhari MSi, yang dalam penelitiannya menemukan model pengelolaan kebun cabai merah ini, khusus untuk mengantisipasi serangan penyakit antraknosa. Pasalnya hama dan penyakit terutama serangan penyakit ini, menjadi kendala besar yang teridentifikasi dalam penurunan produksi, selain cuaca yang tidak menentu, dan teknologi budidaya yang kurang tepat.

“Kebaruan dari penelitian model ini sebagai upaya pengendalian penyakit antraknosa yang merupakan perpaduan Good Agricultural Practices (GAP) yang spesifik lokasi untuk mengendalikan penyakit antraknosa dengan rekayasa habitat dan teknik budidaya dengan variabel terpilih,” ungkap  Djuhari.

Dosen Fakultas Pertanian Unisma ini kemudian membeberkan, cabai merah sendiri saat ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dengan daya adaptasi dan sebaran geografi yang luas, dan segmen pasar tradisional, modern, hingga industri. Kondisi yang demikian mendorong banyak petani yang menanam cabai merah. Namun produktivitas tanaman ini selalu berfluktuasi yang disebabkan oleh serangan hama dan penyakit tanaman, terutama penyakit antraknosa.

“Dalam penelitian ini saya mengevaluasi profil teknik budidaya, faktor lingkungan, intensitas serangan penyakit antraknosa, dan produksi tanaman cabai di sentra produksi Jawa Timur,” tutur Djuhari.

Penelitian oleh dosen Kampus kebanggaan NU ini juga berhasil menemukan faktor-faktor yang dominan berpengaruh terhadap timbulnya serangan penyakit antraknosa dengan model structural Partial Least Square. Selain itu, ia juga melakukan verifikasi model Structural Partial Least Square dengan percobaan di budidaya cabai merah.

“Hasil penelitian saya ini merekomendasikan model manipulasi habitat kebun cabai merah spesifik lokasi di beberapa sentra produksi Jawa Timur yang dapat digunakan untuk  rekayasa pengendalian penyakit antraknosa,” ujarnya.

Penelitian dilaksanakan di empat sentra cabai merah di Jawa Timur antara lain Kabupaten Malang, Kabupaten Kediri, Kabupaten Madiun, dan kabupaten Tuban. Penelitian ini dilakukan Djuhari mulai Oktober 2017 sampai September 2018.  Dengan menggunakan metode penelitian  survey, pemodelan, dan verifikasi model, dengan percobaan.

Hasil Penelitian model pengelolaan kebun cabai merah dengan manipulasi habitat dan teknik budidaya ini dapat digunakan sebagai pengendalian HPT yang ramah lingkungan. Dengan model tersebut pestisida tidak digunakan. Sebagaimana diketahui bahwa di sentra hortikultura umumnya sangat intensif menggunakan pestisida. Padahal cairan kimia ini jika digunakan berlebihan dampaknya sangat berbahaya bagi petani, maupun masyarakat konsumen, serta menyebabkan pencemaran lingkungan. (dah)

Express Your Reaction
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry