Mahasiswa FEB UWKS mempraktikkan cara membuat lilin aroma terapi dari minyak jelantah. DUTA/ist

GRESIK | duta.co – Limbah minyak goreng seringkali menjadi masalah terutama bagi lingkungan. Karena limbah ini tidak bisa terurai dengan baik di tanah sehingga menyebabkan pencemaran.

Karena itulah, lima dosen Fakultas Ekonomi Bisnis, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya (FEB UWKS) mengedukasi warga Desa Balongtunjung, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik agar tidak membuang sisa minyak goreng sembarangan.

Lima dosen yakni James Tumewu,
Siti Asiah Murni, Akhmad Zainuddin, Lilik Pirmaningsih dan Yanis Ulul A’zmi dibantu beberapa mahasiswa dan tenaga pendidikan memberikan pelatihan mengolah minyak jelantah ituenjadi barang bernilai, yakni lilin aroma terapi, Selasa (8/7/2025).

Ketua Tim Pengabdian Masyarakat FEB UWKS, James Tumewu mengatakan pelatihan ini selain karena masyarakat desa yang banyak menghasilkan minyak jelantah, juga untuk mengatasi problem banyaknya nyamuk.

“Pemanfaatan minyak jelantah jadi lilin aroma terapi ini selain agar minyak bekas tidak dibuang ke tanah juga untuk mengatasi masalah nyamuk yang cukup banyak. Karena daerah itu lahan pertanian yang memang banyak nyamuk. Nah lilin aroma serai ini bisa mengatasi nyamuk. Bisa dipakai di rumah agar nyamuk bisa berkurang. Nyamuk juga bahaya buat kesehatan,” jelas James.

Pelatihan membuat lilin aroma terapi ini mendapatkan respon positif. Sri Wahyuni selaku Ketua Penggerak PKK desa setempat mengatakan pemanfaatan minyak jelantah baru pertama kali dilakukan. Selama ini memang sisa jelantah hanya dibuang.

“Saya berterima kasih sekali. Ibu-ibu di sini akhirnya tahu jika jelantah jika dibuang ke tanah akan menyebabkan kerusakan. Mereka bisa memanfaatkannya untuk hal berguna. Bahkan lilinnya bisa dijual. Bisa menambah keuangan keluarga. Ke depan kita akan kembangkan,” jeladnya.

Selain edukasi dan pelatihan membuat lilin aroma terapi, para dosen juga memberikan pelatihan bagi pengelola BUMDes tentang pengelolaan keuangan.

Penyusunan laporan keuangan BUMDes penting dipahami dan dilakukan karena laporan itu sebagai bentuk pertanggungjawaban atas anggaran negara yang sudah diterima desa. “Mereka harus melaporkan semua dana desa yang diterima. Nah, BUMDes ini juga laporannya harus transparan dan akuntabel. Kita ajari itu semua,” kata James.

Kepala Desa Balongtunjung, Eko Budianto mengaku sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki desa belum memadai. Untuk memberikan mendatangkan pengajar, kemampuan keuangan desa masih belum mampu.

“Sehingga ketika dosen dan mahasiswa FEB UWKS datang ke desa kami, kami hanya bisa mengucapkan terima kasih yang tak terhingga. Ini sangat bermanfaat,” ungkapnya.

Diakui Eko, pelaporan keuangan BUMDes selama ini menjadi kendala. Apalagi 90 persen warganya memang bekerja sebagai petani, sehingga pendidikan dan pengetahuan warga juga tidak terlalu tinggi.  “Sehingga kami ini kesulitan mencari SDM unggul yang bisa melakukan pelaporan keuangan dengan baik. Alhamdulillah UWKS hadir di desa kami” tuturnya.

Desa Balongtunjung, Kecamatan Benjeng, Kabupaten Gresik selama ini sudah menjadi desa binaan FEB UWKS. Para dosen dan mahasiswa secara berkelanjutan melakukan pengabdian masyarakat di desa itu dengan berbagai program menarik dan bermanfaat. Seperti yang saat ini dikerjakan yang merupakan program pengabdian masyarakat dari dana hibah internal kampus. ril/lis

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry