
SURABAYA | duta.co – Bank Indonesia dan Pemerintah Provinsi, Pemkot/Pemkab se-Jawa bersama berbagai pihak berusaha untuk terus mengoptimalkan potensi yang ada untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Salah satu caranya yakni dengan mengoptimalkan potensi terutama investasi. Karena investasi merupakan aspek yang sangat penting dalam mendukung pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan itu.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPwBI) Jawa Timur, Ibrahim mengatakan pangsa investasi di Indonesia maupun di Jawa saat ini sekitar 27 persen hingga 28 persen dari produk domestik regional bruto (PDRB).
“Dan kita akui ini masih bisa kita optimalkan, kita upayakan bisa di atas 30 persen untuk menjamin kelangsungan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” kata Ibrahim usai 2nd Java Regional Economics Forum di Surabaya, Selasa (4/11/2025).
Dikatakan Ibrahim, dari pertemuan dan diskusi yang dilakukan, ada tiga aspek yang perlu dilakukan untuk bisa meningkatkan investasi. Pertama yakni aspek infrastruktur, kedua aspek regulasi dan aspek ketiga dukungan pembiayaan.
“Tiga aspek itu direspon oleh masing-masing perwakilan dari Pemprov se Jawa baik dari Jawa Timur, Jawa Tengah, DIY, Jawa Barat dan DKI maupun Banten itu adalah bagaimana terkait dengan infrastruktur. Infrastruktur itu penting untuk tetap mengoptimalkan konektivitas. Karena tidak hanya Jawa Timur yang memerlukan konektivitas antara utara dan selatan tetapi Jawa Tengah, Jawa Barat dan lainnya itu juga menyuarakan hal yang sama, konektivitas,” jelasnya.
Kemudian terkait dengan regulasi banyak yang sudah dilakukan yang mengupayakan untuk menyederhanakan aturan. Tetapi kata Ibrahim, implementasi ini akan dikawal bersama-sama. “Kalau pun ditemukan adanya tantangan ini kita sampaikan kepada dinas terkait maupun ke Kementerian agar diupayakan agar implementasi semakin mudah dan ini kita pastikan kita ikut mengawal bersama-sama,” ujar Ibrahim.
Selanjutnya untuk aspek pembiayaan, dengan merelaksasi ketentuan POJK (peraturan otoritas jasa keuangan) yang diupayakan memberikan angin segar bagi dunia usaha. “Jadi kami berharap dari forum seperti ini kita bisa mengurai peta permasalahan kemudian kita yang paling ee bagus ujungnya adalah memberikan rekomendasi yang tepat sasaran sehingga implementasi terkait dengan dukungan investasi ini bisa berjalan dengan baik,” tutur Ibrahim.
Atong Soekirman, Asdep Pengembangan Industri Logam, Mesin, Alat transportasi dan Aneka, Kemenko Perekonomian menambahkan untuk meningkatkan investasi pihaknya mencoba untuk meningkatkan iklim investasi yang baik. Iklim investasi ini penting dijaga agar investor menjadi nyaman untuk menanamkan modalnya di Indonesia.
Yang kedua adalah melakukan link and match bagi sumber daya manusia (SDM) dunia industri dan dunia usaha. “Yang ketiga adalah kita harapkan sinergi maupun kolaborasi dalam rangka meningkatkan investasi. Karena dengan investasi akan menimbulkan multiplayer efek yang sangat bagus,” tuturnya.
Sementara itu Ratih Purbasari Kania, Direktur Perencanaan Sumber Daya Alam dan Industri Manufaktur, Kementerian Investasi dan Hilirisasi menambahkan realisasi investasi hingga triwulan 3/2025 untuk Pulau Jawa sudah mencapai 48 persen dari pangsa pasar nasional.
Karena itu pihaknya juga akan memperkuat potensi-potensi investasi yang ada terutama proyek-produk strategis nasional. “Dan ke depan kami juga mengajak investor baik nasional maupun internasional untuk ikut serta masih aktif dalam pembangunan industri menuju pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan,” ungkapnya. ril/lis





































