Kepala OJK Kantor Regional Jawa Timur, Heru Cahyono (kanan) usai memukul gong tanda dimulainya Musyawarah Daerah (Musda) Perbarindo di Surabaya, Kamis (19/9). DUTA/endang

SURABAYA |duta.co  – Tantangan bank perkreditan rakyat (BPR) ke depan semakin berat. Persaingan bukan hanya  dengan bank-bank umum biasa, tapi dari lembaga keuangan lain yang memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Apalagi di era revolusi industri 4.0, BPR harus bisa mengubah paradigm, karena semua hal sudah berubah dengan eranya teknologi canggih itu.

Hal itu diungkapkan Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Regional 4 Jawa Timur, Heru Cahyono saat membuka Musyawarah Daerah Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia (Perbarindo) di Surabaya, Kamis (19/9).

“Gaya hidup orang sudah berubah. Dari yang sebelumnya,kalau anak lapar mencari ibunya, kini, anak lapar mencari handphone untuk beli makan secara online,” ujar Heru

Karena itu, agar bisa bertahan di tengah gempuran teknologi yang sangat canggih itu, maka BPR harus bisa melakukan perubahan.

Dikatakan Heru Cahyono, BPR harus bisa berinovasi dan melakukan kreativitas. “Itu faktor yang sangat menentukan agar bisa bertahan di industri keuangan,” ungkapnya.

Memang untuk mengembangkan teknologi itu, diakui Heru, memang banyak kendala. Misalnya, kendala biaya dan sumber daya manusia (SDM). Namun, hal itu bukan sesuatu yang tidak bisa diatasi. Seharusnya, BPR itu bisa berkolaborasi bersama untuk membuat sebuah platform yang bisa diakses semua anggota.

Dalam hal ini, platform tersebut bisa untuk menampilkan produk-produk BPR, untuk sistem pembayaran dan sebagainya.

“Dengan begitu bisa menekan investasi, bisa menekan biaya. BPR tidak harus mengeluarkan uang sendiri-sendiri.  Biaya bersama, dipakai bersama. Dan ini tentunya harus diinisiasi Perbarindo,” tukas Heru.

Apa yang diungkapkan Heru Cahyono, memang diakui Ketua Dewan Pimpinan Pusat Perbarindo, Joko Suyanto.

Dalam kesempatan yang sama, Joko mengatakan revolusi industri 4,0 mau tidak mau memang harus dihadapi oleh para pelaku bisnis jasa keuangan termasuk BPR.

“Kita memang harus bisa merespon keinginan pasar agar tidak ketinggalan. Karenanya, kita sedang sudah mulai melakukan banyak langkah agar bisa mengakomodir keinginan pasar itu,” jelasnya.

Kolaborasi memang hal mutlak yang akan dilakukan Perbarindo. Hal itu dilakukan secara bertahap menuju transformasi pelayanan berbasis digital.

“Banyak hal yang akan kita lakukan. Dan semuanya masih dalam persiapan. Insha Alloh kami akan perkenalkan saat Munas Perbarindo di Jakarta beberapa bulan ke depan,” tandasnya.

Dari catatan OJK Regional 4 Jawa Timur, hingga saat ini ada 326 BPR dan BPR Syariah di Jawa Timur. Kinerjanya cukup baik, begitupun dengan pertumbuhannya walau masih di bawah pertumbuhan bank umum lainnya.

Hingga Juli 2019, total aset sebesar Rp 16,7 triliun. Dana pihak ketiga (DPK) yang berhasil dihimpun sebesar Rp 11 triliun dengan total kredit yang disalurkan sebesar Rp 12,2 triliun. Namun, yang masih harus diperhatikan adalah tingkat kredit macet.

Dari dana OJK pula, hingga saat ini tingkat kredit macet BPR di Jawa Timur sebesar 8,28 persen, jauh lebih tinggi dibanding bank umum yang hanya 3,69 persen. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry