
JAKARTA – Dulu, lagi dulu, di Kantor PWNU Jawa Timur ada gaple, permainan kartu yang cukup terkenal di Indonesia dengan sebutan domino. Orang melihatnya dengan nyinyir, negatif karena permainan ini sering dipakai taruhan atau judi. Kini, domino bisa menyalip olahraga pikiran lain, seperti catur dan bridge.
Ketua PB PORDI (Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia), Purwanto M Ali mengatakan, bahwa, olahraga pikiran ini harus dibaca dengan positif. Menurutnya PORDI sudah ada di 21 provinsi, 179 Kabupaten/kota. Komunitas PORDI sudah lebih dari 2000. Sekarang sudah diakui sebagai cabang olahraga. Ada Turnamen Domino. “Jadi perlu mengubah persepsi (negatif) masyarakat. Lewat domino bisa kita dorong untuk kesejahteraan sosial,” kata senior GP Ansor ini kepada duta.co, Minggu (28/6/26).
Selama puluhan tahun, katanya, permainan domino di Indonesia identik dengan citra yang kurang baik. Di berbagai daerah, permainan ini sering dipersepsikan sebagai aktivitas yang melekat dengan perjudian, taruhan uang, hingga konsumsi minuman keras. Akibatnya, domino lebih banyak dipandang sebagai permainan yang tidak memberikan nilai sosial maupun edukatif bagi masyarakat.
“Namun, dalam beberapa tahun terakhir terjadi perubahan yang sangat signifikan. Berkat upaya sistematis yang dilakukan oleh Perkumpulan Olahraga Domino Indonesia (PORDI), domino berhasil ditransformasikan menjadi cabang olahraga berbasis kemampuan berpikir (mind sport) yang mengedepankan strategi, konsentrasi, kerja sama tim, sportivitas, dan etika pertandingan,” katanya.
Transformasi tersebut, lanjutnya, bukan sekadar mengubah cara bermain, tetapi juga mengubah cara masyarakat memandang permainan domino. Kini, domino tidak lagi hanya dimainkan di pos ronda, warung kopi, atau pasar, melainkan telah hadir dalam turnamen berskala nasional yang diselenggarakan secara profesional di gedung-gedung pertemuan bahkan hotel berbintang, sekaligus menjadi objek kajian akademik di berbagai perguruan tinggi.
“Perubahan ini merupakan contoh nyata bagaimana sebuah aktivitas budaya masyarakat dapat direformulasi menjadi instrumen pembangunan sosial,” tegasnya.
Kini, Ketua Umum PORDI adalah mantan Ketua PBNU (Pengarus Besar Nahdlatul Ulama), Dr Andi Jamaro Dulung. Ia berhasil membesut PORDI tampil secara internasional. SebagaiPengurus Besar PORDI, ia sukses membuka ajang Jakarta Domino Tournament (JDT) 2026 Series 2, Sabtu (27/6/2026).
Turnamen berskala nasional yang berlangsung di Aula Lantai 3 GOR Universitas Negeri Jakarta (UNJ) ini diikuti oleh 1024 peserta atau 512 pasangan dari 20 provinsi di Indonesia. Rangkaian acara JDT 2026 Series 2 berlangsung hingga Minggu (28/6/2026). Sebelumnya, PB PORDI juga telah menyelenggarakan Seminar Nasional bertajuk “Olahraga Domino dalam Perspektif Holistik: Integrasi Sport Science, Kesehatan, Sport Industry, Budaya dan Sosial Menuju Indonesia Emas” di lokasi yang sama pada Jumat (26/6/2026).
Ketum PB PORDI, Dr Andi Jamaro, menegaskan efek JDT 2026 terhadap memiliki peranan krusial sebagai momentum penting sekaligus ajang pemanasan menuju Festival Olahraga Rekreasi Nasional (Fornas) 2027 di Palu, Sulawesi Tengah.

Menurutnya, deretan event nasional dan internasional yang digelar PORDI sejauh ini selalu mendapat sambutan positif dari masyarakat. “PORDI yang tadinya adalah organisasi kampung, berada di tempat-tempat terpencil, di bawah pohon, di pinggir sungai, di warung-warung kopi. Hari ini kita sudah angkat derajatnya, naik pada level tertinggi. Semua gedung terbaik di Indonesia sudah bisa dimasuki oleh pemain domino,” ujar Andi.
Andi juga menambahkan bahwa kehadiran 1024 peserta ini membawa angin segar bagi ekonomi Jakarta. Seluruh hotel di kawasan Rawamangun dan sekitar UNJ dilaporkan penuh. Tak hanya itu, denyut nadi ekonomi warga ikut berdenyut kencang—mulai dari UMKM yang laris manis hingga pusat perbelanjaan dan tempat makan yang padat pengunjung.
Hanya dalam dua hari, perputaran uang di event ini diperkirakan menembus angka Rp6 miliar, menciptakan efek ekonomi sirkular yang luar biasa. Sebagai olahraga berbasis masyarakat, Andi menilai tingginya antusiasme peserta dari seantero nusantara menjadi bukti nyata bahwa domino mampu mewujudkan ikatan nasionalisme yang kuat. Melalui olahraga ini, batasan suku, agama, ras, dan jabatan melebur dalam semangat kebersamaan dan sportivitas.
Lebih lanjut, Tokoh asal Makassar ini menuturkan bahwa JDT 2026 Series 2 merupakan langkah taktis PB PORDI dalam memperluas ekosistem olahraga domino sekaligus memperkuat pembinaan atlet menuju kompetisi profesional. Atas capaian ini, ia mengapresiasi kerja keras Pengurus Daerah (Pengda) PORDI DKI Jakarta, Komite Olahraga Masyarakat Indonesia (KORMI), dan High Games Island (HGI) selaku mitra penyelenggara. Dukungan nyata terhadap perkembangan olahraga asah otak ini juga datang dari pemerintah daerah.
Manajer Event sekaligus Ketua Litbang PB PORDI, Dr. Wahyu Irfandi, mengungkapkan bahwa Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta memberikan respons luar biasa pasca-audiensi terkait JDT 2026. Pemprov DKI Jakarta berencana mengintegrasikan pembinaan olahraga domino ke dalam program unggulan “Jaga Jakarta”, yang memungkinkan domino masuk hingga ke tingkat Rukun Warga (RW). Melalui komunitas dan klub domino yang tersebar di tingkat kelurahan, pemerintah daerah berpeluang menyisipkan program pemberdayaan masyarakat.
Wahyu menegaskan bahwa PB PORDI sangat siap bersinergi dengan agenda besar Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno untuk mengoptimalkan empat pilar program “Jaga Jakarta” melalui medium olahraga domino. Empat pilar tersebut mencakup Jaga Warga (pencegahan tawuran dan narkoba), Jaga Lingkungan (kebersihan dan tata ruang), Jaga Aturan (edukasi hukum), serta Jaga Amanah (transparansi pelayanan aparat).
Domino tidak hanya menjadi sarana kompetisi, melainkan juga wadah strategis bagi tokoh agama, tokoh masyarakat, organisasi kemasyarakatan (ormas), hingga rekan media untuk bersama-sama menjaga ketertiban wilayah. (net)




































