Panglima TNI, Jenderal Andika Perkasa saat melihat laboratorium bedah plastik di FK Unair, pekan lalu. DUTA/ist

SURABAYA | duta.co – Dokter-dokter militer yang selama ini bertugas di rumah sakit TNI, akan menjadi mahasiswa program pendidikan dokter spesialis (PPDS) di Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK Unair).

Untuk mahasiswa PPDS ini, FK Unair secara khusus akan melakukannya secara hybrid, sehingga dokter-dokter militer itu tidak harus menempuhnya di rumah sakit jejaring FK Unair seperti RSU dr Soetomo dan RS Universitas Airlangga (RSUA), namun tetap dilakukan di rumah sakit milik TNI yang akan dipandu oleh dosen-dosen FK Unair secara online.

Dekan FK Unair, Prof Dr dr Budi Santoso, SpOG(K) menjelaskan para dokter militer ini akan menempuh proses PPDS di rumah sakit TNI. Namun untuk proses rekruitmen, penilaian, pelantikan sampai kelulusannya tetap akan dilakukan di FK Unair. “Mereka akan belajar di RS pendidikan Unair hanya di waktu tertentu,” kata Prof Bus, panggilan akrab Prof Budi Santoso.

Ada sembilan program studi spesialis yang sudah siap untuk melakukan pendidikan hybrid ini. Yaitu Spesialis 1 Jantung, Obgyn, Anastesi dan Pediatri, Spesialis 1 Bedah Saraf, Bedah Umum, Penyakit Dalam dan Radiologi serta Bedah Plastik Rekonstuksi dan Estetik. “Jumlah prodi spesialis yang yang akan bekerjasama dalam pendidikan ini akan bertambah nantinya. Namun sementara yang sudah siap ada 9,” tambahnya.

Pembelajaran dokter spesialis hybrid untuk dokter militer ini akan diberlakukan mulai tahun ajaran baru pada April 2022 mendatang yang ditandai dengan penandatanganan nota kesepahaman antara Unair yang dilakukan Prof Mohammad Nasih dengan Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa, Jumat (4/2/2022) lalu.

Prof Nasih menambahkan, melalui kerjasama ini, diharapkan persebaran dokter spesialis di Indonesia bisa merata. Di mulai dari mengisi kekurangan dokter spesialis di rumah sakit milik TNI.

Seperti diketahui, sebaran dokter spesialis di Indonesia belum merata. Dari 34 provinsi yang ada di Indonesia, hanya 14-15 di Indonesia yang cukup jumlah dokternya. Itupun terpusat di kota besar. Sementara kondisi jauh berbeda di kabupaten atau daerah terluar dan terdalam.

“Misalnya, dokter spesialis sudah tentu banyak terdapat di Surabaya sebagai ibu kota Jatim. Namun, di daerah terjauh, yakni Pacitan, jumlah dokter spesialis belum memadai. Situasi ini harus dipecahkan bersama,” terangnya.

Jenderal Andika menambahkan, saat ini TNI memiliki 116 rumah sakit dari kelas A-D. Jika menacu pada standar Kemenkes, TNI seharusnya memiliki jumlah dokter spesialis sebanyak 936. Namun saat ini dokter spesialis yang tersedia hanya sebanyak 422 orang.

“Jadi kami hanya memenuhi 46-47 persen dari yang seharusnya. Karenanya dengan kerjasama yang baik ini kami berharap bisa membantu menambah jumlah dokter spesialis di rumah sakit kami yang juga tersebar hingga daerah terluar Indonesia, seperti di Papua,” tambahnya.

Melalui kerjasama ini juga, diharapkan bisa bermanfaat pada kedua belah pihak dalam mengembangkan penelitian dan terutama pelayanan masyarakat. Andika berharap, dengan ini, rumah sakit TNI di daerah-daerah, bisa lebih legkap jumlah dokter spesialisnya. “Semoga dengan diawali dengan ini pemerintah semakin terdorong dalam melakukan pemerataan dokter spesialis di Indonesia, tukasnya. ril/end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry