dr Syifa Mustika, SpPD (kanan) saat menerima menghargaan IDI Award 2021, Sabtu (18/12/2021). DUTA/endang

Diusir Ponpes, Dianggap Antek Pemerintah hingga Berkah Doa para Kiai

Dokter Syifa Mustika,SpPD mendapatkan penghargaan Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Jawa Timur Award 2021 katagori Dokter Pejuang Covid-19. Dokter kelahiran Banyuwang ini dianggap pantas menerimanya karena dedikasi dan pengabdiannya sebagai garda terdepan dalam menangani pandemi Covid-19.

Saat menerima penghargaan di Kantor IDI Surabaya, Sabtu (18/12/2021) dr Syifa mengatakan penghargaan itu bukan untuk dirinya sendiri tapi untuk rekan sejawatnya yang sampai saat ini masih berjibaku dengan Covid-19.

Karena dikatakannya dalam menangani Covid-19 dibutuhkan kerjasama tim medis bukan hanya satu orang dokter. “Penghargaan ini saya dedikasikan untuk rekan sejawat saya,” ujarnya.

Perempuan kelahiran 30 April 1978 ini mengaku tidak menyangka akan dapat penghargaan. Dia dicalonkan IDI Cabang Malang Raya karena melihat sisi lain dari seorang dokter. Selain itu karena kiprapnya dalam menangani pandemi dan juga sebagai relawan Nahdlatul Ulama (NU) Peduli Covid-19 Malang Raya.

Selama menjadi dokter, lulusan Univesitas Brawijaya ini mengabdikan diri di Rumah Sakit Syaiful Anwar Malang. Tapi sejak pandemi Covid-19, tugasnya menjadi bertambah. Dia harus mengurusi pasien-pasien Covid-19 di tiga rumah sakit rujukan yang ada di Malang yakni RS Syaiful Anwar, Lavayet dan Hermina.

“Saya berhubungan langsung dengan pasien Covid-19 lho. Setiap hari, setiap saat ketika sedang bertugas,” katanya.

Selain itu, sebagai Ralawan NU Peduli Covid-19, tugasnya semakin bertambah besar. Karena dia harus berkeliling dari satu pondok pesantren satu ke yang lainnya. Ini untuk melakukan skrining, treating dan sebagainya.

Namun pekerjaan ini tidaklah mudah. Karena selalu terjadi penolakan di pondok pesantren yang dia datangi. “Karena kebanyakan mereka tidak percaya Covid-19. Saya pernah diusir karena datang ke pesantren mau melakukan tracing. Saya dibilang antek pemerintah dan sebagainya. Semua saya terima dengan lapang dada,” jelasnya.

Diakui dr Syifa, sebenarnya mental dia sempat down ketika diusir dan dikata-katai tidak mengenakkan oleh masyarakat. “Tapi kalau saya down pastinya tim saya juga down. Saya berpikir ini mungkin tantangannya. Mental saya diuji sekali. Tapi kalau saya menuruti emosi pastinya semua buyar. Saya terima saja, sampai akhirnya semua menerima dengan baik,” tandas dr Syifa.

Sampai akhirnya, banyak para kiai yang mulai menerima kehadirannya sebagai relawan NU Peduli Covid-19. Karena selain testing, tracing dan treating, dr Syifa dan tim juga melakukan banyak hal lainnya. Mulai memberikan panduan bagaimana melakukan isolasi mandiri bagi yang terkena dan tanpa gejala, hingga mengurusi rujukan pasien yang mengalami kondisi berat.
“Bahkan banyak para kiai yang mendoakan saya untuk tetap sehat dan bisa terus mengabdi sebagai dokter Covid-19. Saya mendapatkan doa itu hingga saat ini saya masih bisa mengabdi,” katanya..
“Yang semula tidak percaya, ketika sudah terkena, baru mereka percaya. Ya kami rawat dengan baik. Ada yang sembuh dan ada juga yang tidak tertolong. Rasanya sedih sekali ketika kami sudah berupaya sekuat tenaga tapi akhirnya tidak tertolong,” tambahnya.

Kini, dr Syifa dan tim juga fokus untuk edukasi vaksinasi Covid-19 selain menjadi vaksinatornya. Dari pengabdian selama pandemi hampir dua tahun ini, dr Syifa menghasilkan dua buku yakni New Normal Life dan Kupas Tuntas Vaksin Covid19.

Tidak hanya dr Syifa, ada banyak figur dokter yang terpilih dalam IDI Jatim Award ini. Yakni Dokter Inspiratif Pelayanan Medis diberikan pada dr Atok Irawan, SpP (Dirrektur RSUD Sidoarjo) dan DR dr Joni Wahyuhadi, SpBS(K) (Direktur RSU dr Soetomo Surabaya). Katagori Dokter Inspiratif Ilmu Pengetahuan dan Teknologi diberikan pada Prof Dr dr Cita Rosita Prakoeswa, Sp.DV(K), FINSDV, FAADV (salah satu penemu Vaksin Merah Putih dan Wadir RSU dr Soetomo).

Untuk katagori Dokter Inspiratif Sosial Kemasyarakatan diberikan kepada Dr dr Christijogo Sumartono W, SpAn, KAR, KIC. Sedangkan untuk katagori Figur Inspiratif di Bidang Kesehatan diberikan kepada Aeshnina Azzahra Aqilani.

Ketua IDI Jatim, Dr dr Sutrisno, SpOG (K) mengatakan penghargaan ini sebagai sebuah penghargaan bagi para dokter yang sudah bekerja keras mengabdikan diri terutama selama pandemi Covid-19 ini.

Karena selama pandemi ini, sudah 169 dokter di Jawa Timur meninggal dunia, ribuan yag terinfeksi dan ratusan dirawat, bahkan ada puluhan yang menggunakan ventilator. Ini harus kami hargai agar para dokter ini masih tetap setia pada sumpah dokternya,” jelas dr Sutrisno.

Ketua Dewan Juri, Prof Dr dr Budi Santoso, SpOG(K) mengaku kesulitan menilai para nominator. Terutama untuk katagori Dokter Inspiratif Pelayanan Medis. “Kita dewan juri sempat berdebat sampai akhirnya kita putuskan pemenangnya dua yakni dokter Atok dan dokter Joni. Karena kami nilai keduanya memang layak,” tukas Prof Budi Santoso.

Dalam kesempatan yang sama, hadir secara virtual, Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Dardak. Emil mengapresiasi semua dokter di seluruh Indonesia terutama di Jawa Timur yang sudah berjuang selama pandemi Covid-19.

“Dokter adalah profesi mulia. Selama pandemi Covid-19. Kami berterima kasih dan memberikan apresiasi yang setinggi-tingginya untuk para dokter,” tukasnya. end

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry