Dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan, dr Hari Paraton, SpOG (K) Uroginekologi Rekonstruksi berbincang dengan dr Eighty Mardian Kurniawati, SpOG(K) membahas masalah pihat perineum, Jumat (5/7). DUTA/endang

SURABAYA | duta.co  – Tidak hanya persalinan sesar yang bisa menyebabkan risiko-risiko tertentu.

Persalinan normal pun bisa menyebabkan hal-hal yang tidak diinginkan, salah satunya robeknya vagina baik karena alami yang dengan sendirinya robek maupun karena pengguntingan yang dilakukan dokter kandungan.

Dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan, dr Hari Paraton, SpOG (K) Uroginekologi Rekonstruksi mengatakan saat ini dokter ahli kandungan diharapkan meminimalisir pengguntingan vagina saat membantu proses persalinan.

“Kecuali robek dengan sendirinya. Karena robek alami dengan digunting itu komplikasinya berbeda. Sekarang ini pandungan tingkat dunia untuk persalinan normal tidak digunting kecuali ada indikasi-indikasi tertentu,” jelasnya usai memberikan pelatihan di ajang Perineal Rupture and Vaginal Surgery di RSU dr Soetomo, Jumat (5/7).

Hari Paraton berbicara di depan para dokter spesialis kandungan dari berbagai kota di Indonesia dalam rangkaian acara Pekan Ilmiah Tahunan (PIT) POGI 2019.

Diungkapkan jika robek persalinan karena alamiah maka robekan itu tidak akan meluas. Namun jika digunting dikhawatirkan jika tidak tepat akan menyebabkan robekan yang meluas.

“Bisa jadi kalau digunting, robekan bisa sampai ke anus jika tidak tepat. Ini yang nantinya menyebabkan komplikasi-komplikasi lainnya. Kalau sudah sampai robek ke anus, mengembalikannya yang sulit karena kalau tidak tepat, akan ada hal-hal yang tidak mengenakkan, misalnya nyeri saat berhubungan suami istri,” ungkapnya.

Selain itu, dari sisi perdarahan, robek akibat digunting bisa mengeluarkan darah yang lebih banyak dibandingkan yang alami. “Jadi kami sudah sosialisasikan agar meminimalisir pengguntingan,” tukas Hari Paraton.

Walau begitu, menggunting tetap bisa dilakukan dokter kandungan. Ada indikasi-indikasi tertentu yang bisa membuat hal itu bisa dilakukan. Misalnya, persalinan macet, bisajuga akibat persalinan sebelumnya di mana dinding vagina luar terlalu kaku.

Juga bisa karena bayinya dalam ancaman dalam hal ini karena kelamaan tidak lahir sehingga menyebabkan bayinya jelek serta untuk memperluas jalan lahir. “Atau bayi yang kepalanya lunak biasanya bayi yang lahir prematur,” tuturnya.

Namun menggunting juga tidak bisa sembarangan. Hari Paraton mengungkapkan ada tingkatan tertentu dalam pengguntingan mulai tingkat satu hingga empat.

Dan dokter spesialis kandungan di daerah hanya boleh melakukannya hingga tingkat tiga. Sedangkan tingkat empat hanya boleh dilakukan dokter ahli yang berada di rumah sakit besar.

Lalu bagaimana untuk menghindari agar tidak robek alami atau bahkan dokter tidak sampai melakukan pengguntingan saat persalinan? Rekan Hari Paraton di Fakultas Kedokteran Unair/RSU dr Soetomo,  dr Eighty Mardian Kurniawati, SpOG(K) mengatakan perlu adanya usaha dari si ibu hamil.

Usaha itu berupa teknik pemijatan yang diberinama pijat perineum atau pemijatan di daerah vagina. Pijat ini bisa dilakukan ketika kandungan memasuki usia 34 minggu.

Ini dilakukan agar otot vagina bisa menjadi lentur, mengurangi rasa sakit saat persalinan. “Karena otot vagina itu lentur, maka pengguntingan tidak terjadi. Bahkan robek alami pun tidak terjadi. Karena sebenarnya diameter vagina secara normal itu tiga centimeter. Dan saat melahirkan bisa tiga kali lipat melebar dari diameter kepala bayi yang ukurannya antara 9,5 hingga 10 centimeter,” tukasnya.

Dokter yang mantan wartawan ini mengungkapkan pijat ini bisa dilakukan sendiri, atau dengan bantuan suami dan petugas medis. Dilakukan tiga kali dalam seminggu dengan teknik yang bisa dipelajari dari tim medis.

“Tapi tidak boleh dilakukan kalau ada infeksi, kutil di kelamin dan sejenisnya. Nantinya malah kontra indikasi,” tandasnya.

Namun ketika robekan atau pengguntingan tetap tidak bisa dihindari, maka jahitan yang dilakukan dokter harus diperhatikan dengan baik. Pasien hanya boleh mengkonsumsi obat anti nyeri tanpa antibiotik. Karena dikhawatirkan antibiotik akan membuat kebal kondisi pasien.

Jahitan atau luka yang dialami akan dengan sendirinya sembuh dalam waktu 10 hari. Jika dalam waktu 10 terjadi infeksi, maka seluruh jahitan yang dilakukan harus dibuka dan dibersihkan serta diobati infeksi itu hingga sembuh. Penjahitan ulang hanya bisa dilakukan tiga bulan berikutnya. end

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry