SURABAYA | duta.co – Haul 52 Bani Aryo Redjo terasa istimewa. Acara yan digelar di guesthouse Kiai, Kompleks Museum NU Jl Gayungsari Timur 35 Surabaya, Selasa (16/6/26), membuat dzuriyah Aryo Redjo paham, bahwa, keberadaan Gedung Museum NU adalah bagian dari perjuangan dzuriyah Aryo Redjo.

“Saya sering lewat sini. Tahu kalau ada Gedung Museum NU, tetapi, tidak tahu kalau pengurusnya, bahkan yang bangun gedung ini adalah Cak Anam yang masih dzuriyah Aryo Redjo,” begitu komentar Bani Aryo Redjo dari Bendul Merisi, Wonocolo, Surabaya.

Ada juga kiai yang mengenalkan putranya aktivis MWCNU di Surabaya. Ada yang sehari-harinya sibuk mengasuh pesantren. “Saya punya mahasiswa, saya tanya dari mana? Pernah mondok? Jawabnya pernah di PP Manbaul Hikam. Lalu saya tanya siapa pengasuhnya? Dia jawab Kiai Wahid. Saya tidak tahu, bahwa, Kiai Wahid yang dimaksud adalah beliau ini. MasyaAllah, saya baru tahu sekarang kalau ternyata mahasiswa saya adalah alumni pesanten yang diasuh Bani Aryo Redjo,” demikian disampaikan Prof Dr KH M Sulthon dalam acara tersebut.

Mokhammad Kaiyis, tuan rumah Haul 52 Bani Aryo Redjo berkali-kali mohon maaf, karena semangat dzuriyah begitu besar untuk mengikuti Haul. “Mohon maaf, yang terdaftar siap hadir sedikit, tidak sampai seratus, tetapi, nyatanya, yang datang sangat luar biasa, ini ada lima kali lipat,” jelas Kaiyis kepada KH Salahuddin Karim yang memimpin tahlil.

Usai pembacaan tahlil, ia memohon agar seluruh keluarga Bani Aryo Redjo untuk ikut serta berdoa demi kesuksesan Munas dan Konbes NU yang akan berlangsung di Pesanten Al-Falah Ploso, Kediri. “Jamiyah NU bukan hanya konsen soal Islam, tetapi juga soal kebangsaan, soal perdamaian dan soal pemberdayaan umat. Anak cucu Mbah Aryo Redjo bisa belajar soal rekam jejak perjuangan para kiai NU di Museum,” tegasnya.

Ia juga sempat menjelaskan, bahwa, ada 4 amanah Gus Dur kepada Cak Anam. Pertama, soal Graha Astranawa (gedung Bintang Sembilan). Kedua, Gedung Museum NU (Nahdlatul Ulama). Ketiga, Guesthouses Kiai NU. Keempat, Menara Rukyat. “Semua suda dikerjakan oleh Cak Anam, tinggal Menara Rukyat yang belum. Dan semua itu bukan untuk diwaris (pribadi) keluarga, tetapi, untuk media dakwah NU, Islam yang rahmatan lilalamin,” tambahnya.

Menurut Kaiyis, dzuriyah Aryo Redjo tidak perlu kecil hati ketika harus merantau ke Surabaya. Tidak sedikit keluarga (Bani) Aryo Redjo yang berada di Kota Pahlawan ini. “Kalau ada kesulitan, tinggal hubungi salah satu keluarga. Kalau perlu mampir ke Guesthouses Kiai NU. Atau mampir ke Museum NU, kami siap mendampingi,” tegasnya.

Salah seorang keluarga, mengaku ingin melihat apa saja yang ada di dalam Museum NU. “Saya dengar ada tongkat dan keris para kiai. Mumpung Muharram barangkali ada yang ingin ikut ‘ngumbas’ keris. Saya bisa lihat-lihat isi Museum NU,” kata salah seorang keluarga.

Sayang, karena waktunya mempet, sehingga batal berkunjung ke dalam Museum NU. “Lain waktu monggo datang. Ada teman-teman yang sedang PKL (mahasiswa UNESA, jurusan sejarah) yang siap mendampinginya,” pungkas Kaiyis yang juga Anggota Badan Kehormatan PWI Jatim ini. (MKY)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry