Kepala DKPP Jombang, Bambang Sriyadi saat sidak ternak lele.

JOMBANG | duta.co – Di tengah upaya pemerintah daerah mencari formulasi ekonomi rakyat yang berkelanjutan, sentra budidaya lele di Desa Temuwulan, Kecamatan Perak, Kabupaten Jombang, mulai dilirik sebagai model wirausaha perikanan yang berhasil tumbuh dari bawah.

Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Jombang turun langsung ke lokasi pada Selasa (23/12/2025). Kunjungan ini bukan sekadar agenda seremonial, melainkan ruang dialog terbuka antara pemerintah dan pelaku usaha perikanan yang telah lebih dulu mapan.

Kepala DKPP Jombang, Bambang Sriyadi, menegaskan bahwa langkah tersebut merupakan tindak lanjut arahan Bupati Jombang, Warsubi, untuk memperbanyak lahirnya wirausaha baru di sektor perikanan. Pendekatan lapangan, menurutnya, menjadi kunci agar kebijakan tidak tercerabut dari realitas peternak.

“Pengalaman para pembudidaya yang sudah berjalan ini sangat berharga. Dari merekalah kami belajar, lalu merumuskan pendampingan yang tepat bagi calon peternak baru,” ujar Bambang dalam keterangan resminya, Rabu (24/12/2025).

DKPP menilai, pengembangan wirausaha perikanan tidak bisa berjalan sendiri. Ia harus tumbuh bersama komunitas yang telah ada, melalui pola pendampingan, berbagi pengetahuan, dan jejaring produksi yang saling menguatkan.

Salah satu pembudidaya yang disiapkan sebagai percontohan sekaligus pendamping adalah Heri Purnomo (46), warga Desa Temuwulan. Pengusaha lele ini telah menekuni usahanya sejak era 1990-an, dimulai dari satu kolam sederhana hingga kini berkembang menjadi ratusan kolam aktif.

“Respons peternak di sini sangat positif. Mereka tidak melihat peternak baru sebagai pesaing, tetapi sebagai mitra,” imbuh Bambang.

Heri sendiri menyambut baik langkah Pemkab Jombang. Lulusan S1 Ekonomi Manajemen Universitas Islam Malang (Unisma) ini memilih meninggalkan jalur kerja formal dan menekuni budidaya lele secara serius. Modal awalnya sederhana, bahkan tak lagi ia ingat secara pasti. Namun konsistensi menjadi kunci.

“Dulu hanya satu kolam, sekarang sekitar 150 kolam dan insyaallah masih akan bertambah,” kata Heri.

Di atas lahan seluas sekitar 2.800 meter persegi, kolam-kolam berukuran rata-rata 3×7 meter itu dikelola bersama sejumlah karyawan. Air kolam berasal dari sumber mata air alami yang terus mengalir, menjadi penopang utama sistem tebar padat yang ia terapkan.

“Lele memang tidak terlalu butuh oksigen, tapi karena tebarannya padat, aliran air harus terus dijaga,” jelasnya.

Dalam satu kolam, Heri bisa menebar hingga 15 ribu bibit lele. Produktivitasnya pun tergolong tinggi. Setiap hari, panen bisa dilakukan dengan hasil mendekati satu ton per kolam. “Target kami satu kolam bisa tembus 1,2 sampai 1,3 ton saat panen penuh,” ujarnya.

Untuk menekan biaya produksi, Heri mengombinasikan pakan pabrikan dengan pakan alternatif. Strategi ini terbukti efektif menjaga margin usaha. Dalam satu kali panen satu ton, keuntungan bersih yang ia kantongi bisa mencapai sekitar Rp18 juta.

Model usaha inilah yang kini dilirik DKPP Jombang sebagai rujukan pengembangan wirausaha perikanan berbasis komunitas. Pemerintah berharap, ekosistem semacam ini tak hanya meningkatkan produksi ikan, tetapi juga menciptakan sumber penghidupan yang berkelanjutan bagi masyarakat pedesaan Kota Santri. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry