SURABAYA | duta.co – Rumus penanganan covid-19 dikenal dengan istilah 3 T, yakni Test, Tracing dan Treatment. Namun ketiga unsur itu harus saling terkait atau berjalan berseiring agar hasilnya bisa maksimal.

Sebaliknya, jika ketiga unsur 3T itu berdiri sendiri-sendiri, maka hasilnya juga tidak sesuai dengan harapan yakni bisa memutus mata rantai sebaran covid-19.

Satgas percepatan penanganan covid-19 Jatim telah membuat matrics korelasi antara kemampuan kabupaten/kota melakukan tracing dari temuan kasus positif covid-19 untuk menemukan ODP/OTG dan isolasi untuk menekan kasus baru dan menekan angka kematian akibat covid-19.

Sidoarjo Peringkat 2

Namun kemampuan kabupaten/kota di Jatim berbeda-beda dalam prakteknya di lapangan. Hasilnya, Kota Surabaya menempati peringkat terendah atau nomor ke-38 dengan rasio tracing (ODP/OTG) / positif case sebesar 2,8 dari 234 kematian.

“Artinya, hanya 2,8 kasus ODP/OTG dari 1 kasus positif yang ditemukan dari proses tracing  di Surabaya. Padahal jumlah kasus positif di Surabaya saat ini mencapai 4.962 kasus dengan tingkat kesembuhan sebanyak 1.838 orang dan tingkat kematian sebesar 369 orang,” kata ketua Satgas Percepatan Penanganan Covid-19 Jatim Khofifah Indar Parawansa saat memberikan paparan dihadapan Menko Polhukam dan Menkes serta BNPB di gedung negara Grahadi Surabaya, Rabu (24/6/2020) malam.

Peringkat selanjutnya (ke-37) ditempati Sidoarjo dengan rasio 3,5 dari 57 kematian,, lalu Magetan dengan rasio 5,7 dari 5 kematian, Kab Pasuruan dengan rasio 6,2 dari 5 kematian, Gresik dengan rasio 8,8 dari 19 kematian, Kab Malang dengan rasio 9,4 dari 12 kematian, dan Kota Pasuruan diperingkat ke-32 dengan rasio 9,9 dari 1 kematian.

Sementara peringkat tertinggi (ke-1) ditempati Kab Blitar dengan rasio 116.1 dari 3 kematian. Kemudian Bondowoso dengan rasio 115,7 dari nol kematian dan Banyuwangi dengan rasio  111,1 dari 1 kematian dan peringkat keempat Trenggalek dengan rasio 108,3 dari 1 kematian.

Akibat menurunnya kemampuan daerah untuk tracing dan isolasi terhadap pasien covid-19, maka potensi OTG menjadi postif covid-19 juga meningkat dari 34% menjadi 41%. Bahkan lanjut Khofifah banyak OTG yang menulari orang dengan komobid hingga terjadi kasus fatal sehingga menimbulkan kematian.

Ditegaskan Khofifah, ada korelasi yang kuat, grafik menunjukkan jika untuk setiap kasus positif dapat dilacak ODP dan OTG setidaknya 25 orang, maka penyebaran yang tidak terlihat oleh OTG dapat dicegah dan pada akhirnya angka kematian covid-19 bisa diminimalisir di suatu wilayah.

Tracing ratio bersama-sama dengan testing ratio itu berfungsi untuk pengekangan penyebaran. Selain itu tracing ratio juga dapat dipakai sebagai metrics pada kabupaten/kota dan PKM ukurannya jelas dan sederhana.

“Kalau setiap kasus positif harus diiringi tracing minimal 25 orang atau lebih besar lebih baik, maka semakin banyak ODP/OTG terlacak, lalu diwajibkan isolasi, dialihkan jadi PDP dan dirawat maka angka kematian bisa dikurangi dan angka kesembuhan bisa ditingkatkan,” dalih Khofifah.

Kemampuan Masih Rendah

Tracing dan isolasi juga perlu disupport jika kemudian hasil testingnya ditemukan gejala sehingga perlu mendapatkan treatment khusus supaya tidak menjadi kronis dan berakibat kematian. “Jadi testing yang massif juga harus dibarengi dengan tracing ratio yang ditingkatkan agar bisa meredam penularan,” harap Gubernur Jatim.

Penurunan kemampuan daerah melakukan tracing dan isolai pasien covid-19 terungkap berdasarkan hasil pantauan selama 22 Mei hingga 13 Juni 2020. Kota Surabaya dari 2,8 menjadi 2,17. Sidoarjo dari 3,5 menjadi 2,58, Kab Pasruan dari 6,2 menjadi 2,67, Gresik dari 8,8 menjadi 5,17 dan Kab Malang dari 9,4 menjadi 6,76.

Lebih jauh mantan Mensos ini mengakui testing di Jatim jumlahnya memang meningkat hingga 9.004 test/2 minggu di bulan Juni. Hasilnya positivity rate juga mengalami peningkatan hingga 31,6%.

“Menurut pedoman WHO, angka ini akan akurat dan ideal apapbila test sudah dilakukan sebanyak 1:1000 populasi/minggu dan positivity rate lebih kurang dari 5%,” beber gubernur perempuan pertama di Jatim.

Khofifah juga mengakui jika kapasitas total mesin PCR yang ada di Jatim baru sekitar 2.250 tset/hari. Sehingga dalam seminggu mampu mengcover sebanyak 13.500 test, padahal idealnya bisa 40.000 test.

“Karenanya masih dibutuhkan penambahan mesin PCR sekitar 30-40 unit maupun reagen untuk mencapai standart WHO 40.000 test/minggu. Selain itu juga butuh SDM untuk operasional mesin tersebut,” imbuhnya.

Bantu Tracing dan Isolasi

Kendala lain dalam percepatan penanganan covid-19 di Jatim, lanjut Khofifah adalah kondisi rumah sakit khususnya di Surabaya Raya yang kekurangan bed isolasi dan nakes yang mulai banyak terinfeksi covid-19. Ketaatan terhadap protokol kesehatan juga sangat rendah, komitemen pemerintah daerah dari anggaran dan implementasi tidak merata dan masih adanya isu-isu negatif yang menghambat pengendalian covid-19.

Oleh karena itu, pihaknya mengusulkan RS Bhakti Dharma Husada (BDH) dkembangkan menjadi RS khusus covid-19 dengan gejala sedang dan berat di Kota Surabaya dan RS Lapangan diekspansi menjadi 500 bed. Kemudian Surabaya Raya disupport oleh tim pakar khusus penanganan covid-19 dengan target mengontrol penyebaran infeksi. Serta peningkatan komitmen anggaran dan implementasi untuk penanganan covid-19 khususnya di wilayah Surabaya Raya.

“Kami juga ingin ada penambahan pasukan untuk membantu tracing dan isolasi di Jatim, serta pengelolaan isu negatif yang kontraproduktif terhadap penanganan covid-19,” pungkas Gubernur Khofifah Indar Parawansa di hadapan Menkes Terawan, Menko Polhukam Mahfud MD dan kepala BNPB Doni Monardo. (ud)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry