SEGERA DIREHAB : Wisata alam Air Terjun Sedudo sejak Jumat (06/10) kemarin ditutup untuk umum, detinasi wisata andalan kabupaten Nganjuk digelontor anggaran Rp 12 miliar (duta.co/agus)

NGANJUK| duta.co -Pemerintah Kabupaten Nganjuk nampaknya juga berusaha mengikuti program pemerintah pusat yang digagas oleh Presiden Joko Widodo melalui Kementrian Pariwisata yang dikenal dengan sebutan program “10 bali baru”.

Terbukti, tahun 2017 ini, wisata alam air terjun sedudo yang menjadi icon Bumi Anjuk Ladang, sekaligus salah satu destinasi wisata andalan penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) terbesar sektor pariwisata, digerojok anggaran sebesar Rp 12 miliar untuk renovasi.

Terhitung mulai, Jumat (06/10/2017) wisata alam yang berada di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk tersebut ditutup untuk umum. Rencananya, wisata alam di lereng Gunung Wilis ini akan ditutup hingga 3 bulan ke depan.

“Ditutup sementara untuk dilakukan pembangunan kawasan wisata Sedudo ini,”ujar Kepala Dinas Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Pemerintah Kabupaten Nganjuk Gondo Hariyono.

Penutupan untuk umum itu, tertuang dalam surat bernomor 556/1718/411.302.2017, berisi tentang rencana pembangunan Objek Wisata Air Terjun Sedudo tahun anggaran 2017, demi kelancaran pembangunan dan keselamatan pengunjung, maka Sedudo akan ditutup mulai Jumat (06/10/2017) hingga 25 Desember 2017 mendatang.

Renovasi ini, kata Gondo Hariyono adalah upaya pemerintah untuk meningkatkan pelayanan pariwisata. Dengan begitu diharapkan dapat menarik wisatawan lebih banyak lagi sehingga PAD sektor pariwisata juga semakin meningkat.

Seperti diketahui, saat ini pemerintah pusat melalui Kementrian Pariwisata tengah gencar menjalankan program “10 bali baru”, dengan demikian diharapkan pemerintah daerah di seluruh Indonesia juga melakukan hal yang sama untuk mengimbangi program tersebut.

“Kalau untuk anggaran, tahun ini empat triliun, anggaran itu untuk Nasional,” ujar Plt Asisten Deputi Strategi Pemasaran Pariwisata Nusantara, Kementrian Pariwisata RI, Hariyanto di Nirwana Hotel Nganjuk belum lama ini.

Selain itu, kata Hariyanto, pengembangan destinasi wisata itu bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja, namun lebih pada kultur dan budaya masyarakat, bagaimana melakukan upaya agar wisata alam yang ada di masing-masing daerah menjadi dikenal.

“Apalagi kalangan muda saat ini sudah sangat familiar dengan sosial media, facebook, internet, twiter dan lain-lain, bagaimana masyarakat lokal melakukan sebuah upaya promosi, itu yang penting,” kata Hariyanto, usai acara Sosialisasi Panduan Penyelenggaraan Festival.

Pemerintah, kata Hariyanto lagi, intinya hanya mendorong dan ikut mempromosikan namun tanpa disertai dengan kreatifitas masyarakat lokal dimana destinasi wisata itu berada, seakan tidak akan ada artinya.

“Saya contohkan bali, provinsi penyumbang devisa terbesar Negara sektor pariwisata, tahun dua ribu enam belas kemarin, angggaran untuk dinas pariwisata hanya tujuh miliar rupiah, habis itu untuk satu event saja, tapi karena masyarakat lokal sana (bali-red) pro aktif, puluhan destinasi wisata dan budaya tetap menjadi daya tarik wisatawan,” jabarnya.

Mengenai Kabupaten Nganjuk, Hariyanto menilai memiliki potensi alam yang luar biasa, namun jika tidak ditangani dengan serius, tidak akan berkembang sesuai harapan.

“Begini, untuk Nganjuk ini potensi wisata alamnya cukup menggeliat, tinggal bagaimana cara menggarap potensi yang sudah ada itu, tanpa mengecilkan CEO (Chief Executive Officer/Pejabat Eksekutif Tertinggi) daerah setempat, ini memang harus digarap secara serius,” tandasnya. (agk)

 

 

Tinggalkan Balasan