JAKARTA | duta.co – Akun media sosial alias medsos bernama @Opposite6890 menuding  polisi menggunakan sebuah aplikasi bernama Shambar untuk mengkoneksikan seluruh buzzer di tingkatan Polri dan beralamat pada Internet Protokol (IP) milik Mabes Polri.
Kontan saja akun Twitter @Opposite6890  pun menjadi  perbincangan publik lantaran berani menuding Mabes Polri mengorganisir ribuan akun untuk menjadi buzzer politik mendukung capres petahana Jokowi. Polisi membantah tuduhan itu.
Kepala Biro Penerangan Masyarakat (Karo Penmas) Divisi Humas Polri, Brigjen Dedi Prasetyo meminta kepada awak media untuk tidak menjadikan akun Twitter @Opposite6890 tersebut karena tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.
“Opposite ini akun sifatnya anonimus. Anonimus ini bahwa akun ini enggak bisa dipertanggungjawabkan enggak kredibel,” terangnya.
Politisi Partai Amanat Nasional (PAN), Mustofa Nahrawardaya, sebelumnya juga melempar tuduhan bahwa Polri membentuk pasukan buzzer untuk mendukung pasangan capres 01 Jokowi-Ma’ruf Amin.
Mustofa menyampaikan tuduhan tersebut secara terbuka pada sebuah dialog bertajuk “Penyebaran Hoaks Terorganisasi?” di sebuah televisi swasta, Selasa (5/3/2019). Tuduhan Mustofa ini juga mengutip cuitan akun twitter anonim @opposite6890 di mana Mustofa mengaku mengenal adminnya.
Dalam cuitannya 3 Maret 2019 lalu, akun anonim @opposite6890 menuduh Polri telah membentuk tim buzzer beranggotakan 100 orang per Polres di Seluruh Indonesia. Ini yang membuat suhu politik makin panas.
Juru bicara PSI bidang Teknologi Informasi, Sigit Widodo, di Jakarta, Rabu (6/3/2019) pun menantang Mustofa membuktikan tuduhannya itu.
“Akun opposite6890 menyebutkan tim ini menginduk pada akun @alumnisambhar dan menyebut ada aplikasi berbasis android yang bisa diunduh di situs mysambhar.com,” tutur Sigit.
Situs mysambhar.com sendiri saat ini sudah tidak bisa diakses. Akun @opposite6890 kemudian memberikan tautan untuk mengunduh aplikasi tersebut di filedropper.com.
“Opposite6890 kemudian menuduh keterlibatan Polri karena menurutnya, setelah dicek, ada kaitan ke jaringan milik Mabes Polri,” ujar Sigit.
Menurut Sigit, yang pernah selama beberapa tahun menjabat sebagai direktur operasional Pengelola Nama Domain Internet Indonesia (PANDI) ini, ada beberapa hal yang harus diklarifikasi terkait tuduhan ini.
“Pertama, tuduhan domain mysambhar.com dimiliki Polri. Ketika saya cek, domain ini dilindungi layanan proteksi nama domain dari sebuah perusahaan di Panama. Jadi tidak mungkin Opposite6890 bisa membuktikan siapa pemilik nama domain tersebut, “ ujar Sigit.
Yang kedua, menurut Sigit, apakah benar file berjenis APK yang ada di filedropper.com benar-benar buatan Polri. “Bisa saja dia buat sendiri, lalu mengunggahnya sendiri, kan? Ini juga harus dibuktikan,” kata Sigit.
Hal ketiga yang juga harus diklarifikasi adalah kaitan file APK itu dengan jaringan Mabes Polri.
“Opposite6890 menuduh ada link ke jaringan bernomor IP 120.29.226.193. Memang betul, menurut data APNIC nomor IP itu terdaftar atas nama Divisi Teknologi Informasi Mabes Polri. Tapi hubungannya seperti apa, itu harus dicek dengan kaidah-kaidah forensik TI yang valid,” ujar Sigit. (okz/wis)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.