KELAPA SAWIT: Petani sedang panen kelapa sawit di perkebunan. Minyak kelapa sawit Indonesia mendapat tantangan dari Eropa yang melakukan pembatasan bahkan ancaman boikot (duta.co/dok)

JAKARTA | duta.co- Produsen minyak kelapa sawit Indonesia mendapat tantangan besar. Ini terjadi setelah upaya Parlemen Eropa mengeluarkan resolusi tentang Palm Oil and Deforestation of Rainforests dinilai dapat menjadi kesempatan bagi produsen kelapa sawit Indonesia untuk meningkatkan kuantitas ekspor minyak kelapa sawit (CPO) di luar Uni Eropa.

Dalam data Badan Pusat Statistik, dua negara tujuan ekspor CPO terbesar adalah India sebesar 5,7 juta ton dan China sebesar 3,6 juta ton. Artinya, meskipun nantinya Uni Eropa akan melakukan pembatasan pasokan CPO dari Indonesia, pasar CPO tidak terancam.

“Meskipun ada potensi berkurangnya ekspor minyak kelapa sawit yang tidak memenuhi standar baru Uni Eropa, namun kami juga melihat bahwa hal ini dapat menjadi peluang bagi para produsen minyak kelapa sawit Indonesia untuk meningkatkan ekspornya ke negara lain seperti India dan Tiongkok yang selama ini juga menjadi konsumen terbesar di dunia,” ujar Kepala Riset Reliance Securities, Robertus Yanuar Hardy.

Menurut Yanuar, pangsa pasar CPO dalam negeri juga masih cukup menjanjikan. Apalagi jika konsumsi bahan bakar nabati (biofuel) dapat ditingkatkan. Oleh karena itu, meskipun ada black campaign dari Uni Eropa, namun hingga saat ini saham-saham emiten produsen CPO masih cukup menarik.

Menurutnya, ada saham-saham emiten CPO yang bisa menjadi pilihan seperti diantaranya AALI, SIMP, dan TBLA. Yanuar menilai, AALI telah berhasil menunjukkan peningkatan pada kinerja keuangannya. “Usaha untuk mengembangkan bisnis downstream (hilir) minyak kelapa sawit dengan pengolahan oleo-chemical diharapkan dapat meningkatkan nilai jual produk perseroan ke depannya,” terangnya.

Sementara itu, dukungan kuat dari Group Salim atas saham SIMP dapat menjamin keberlangsungan permintaan. Bahkan SIMP sudah mulai berekspansi ke komoditas pertanian lain yaitu cokelat. Ekspansi ini dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi perseroan ke depannya.

“Sedangkan untuk TBLA, selain mengandalkan kelapa sawit, perseroan sekarang ini sudah mulai menikmati hasil diversifikasi usaha ke industri gula yang memiliki potensi pasar cukup besar di dalam negeri,” ujarnya. (imm/okz)

 

 

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.