HARGA MELEJIT: Bulan Juni 2016 harga cabai rawit di pasar induk Jember, Jatim, masih Rp12.000/kg, enam bulan kemudian tembus Rp90 ribu-Rp100 ribu. (IST)

Stabilkan Harga, Sebar Lombok ‘Murah’ 100 Kg/Hari

SURABAYA-Mahalnya harga cabai di Indonesia termasuk Jawa Timur diprediksi bakal berlangsung lama. Sebab, musim panen cabai di Jatim baru mulai pada Februari hingga awal April 2017. Sementara pasokan cabai dari Jatim maupun luar provinsi sangat sulit.

“Kita sudah bekerja sama dengan Bulog dan PT PPI (PT Perusahaan Perdagangan Indonesia) Persero untuk melakukan stabilisasi harga di beberapa pasar di Jatim. Kita mendapat cabai dari luar provinsi seperti Gorontalo seharga Rp67 ribu, sehingga kita bisa jual di pasaran Rp75 ribu. Harga itu jauh dari harga pasaran saat ini,” ujar Kadisperindag Jatim Dr M Ardi Prasetyawan, Selasa (10/1).

Menurut Ardi, pihaknya akan terus berburu cabai di berbagai daerah di Jatim maupun di luar provinsi. Namun dari sekian banyak provinsi yang ada stok cabai baru di Gorontalo. Sementara provinsi lain seperti di NTB dan Sulawesi Selatan stok justru tidak ada.

“Di Jatim memang ada stok, tapi sangat menipis. Tidak mungkin kami membelinya. Seperti di Pare, Kediri, memang ada stok, tapi sedikit. Harganya juga mahal antara Rp75ribu-Rp80 ribu. Makanya, kami akan terus berusaha mencari, karena ini perintah Pak Gubernur untuk melakukan stabilisasi harga,” jelasnya.

Di Jatim, lanjut Ardi, ada 12 sentra produksi cabai yang menjadi andalan. Di antaranya, Bojonegoro, Lamongan, Tuban, Kediri, Mojokerto, Malang, Probolinggo, Jember, Bondowoso, Banyuwangi, dan Madura. Namun sentra-sentara produksi cabai tersebut saat ini produksinya merosot tajam, tidak sesuai dengan perkiraan.

“Produktivitas panen cabai saat ini menurun antara 60-70 persen. Kondisi ini tidak hanya terjadi di Jatim, tapi seluruh Indonesia. Makanya cabai saat ini langka, dan akhirnya menyebabkan harga sangat tinggi. Nanti saat musim panen tiba, harga akan kembali normal,” ungkapnya.

Penyebab menurunnya panen cabai ini, kata Ardi, lebih disebabkan faktor cuaca yang sangat tidak mendukung. Selain itu, banyak cabai yang terserang hama penyakit. Cabai yang baru berbunga mati, sementara yang sudah tumbuh cabainya diserang penyakit.

“Saat ini rata-rata harga cabai rawit di pasaran Rp 90 ribu. Sedangkan harga cabai merah besar Rp29 ribu dan cabai keriting Rp42 ribu. Cabai rawit selain pengonsumsinya banyak, cabai jenis ini juga rentan penyakit. Biasanya panen raya itu terjadi bulan Februari sampai April 2017,” tambah Ardi.

 

Sebar 100 Kg per Hari

Terkait upaya menstabilkan harga, Disperindag Jatim mendistribusikan 100 kilogram (Kg) cabai di tiap titik pasar untuk per harinya. “Kami hanya menyediakan cabai rawit dan beberapa komoditas yang harganya mengalami kenaikan. Dan ini adalah program stabilisasi harga, bukan operasi pasar (OP),” kata Ardi.

Program stabilisasi harga ini, lanjutnya, dilakukan di beberapa pasar, seperi Pasar Wonokromo dan Pasar Tambakrejo di Surabaya, serta beberapa daerah di Jawa Timur. “Program ini kita mulai pada 8 Januari kemarin, dan kami menyiapkan 100 kilogram cabai rawit merah untuk setiap harinya, di tiap titik,” katanya.

Harga cabai yang dijual Disperindag ke pasar, hanya Rp 75.000 per Kg untuk cabai rawit merah dan Rp 37.000 per Kg untuk cabai rawit hijau. Dengan program stabilisasi ini, Disperindag berharap akhir Januari nanti harga cabai kembali normal, yaitu Rp30.000 per Kg.

Ardi membantah bahwa kenaikan harga cabai ini karena ulah spekulan. Namun, Pemprov Jawa Timur yang bekerja sama dengan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) pasti akan menindak tegas jika menemukan praktik monopoli pasar.

“Memang, harga cabai naik ini merupakan mekanisme pasar. Fluktuasinya sangat cepat untuk cabai ini. Kami juga melakukan pengecekan ke produsen (petani). Harga cabai di petani memang berada di kisaran Rp 70.000 sampai 80.000 per Kg,” tutup Ardi.

Bicara terpisah, anggota Komisi B DPRD Jatim Subianto mengatakan, kenaikan dan kelangkaan cabai rawit saat ini lebih diakibatkan anomali cuaca. Pihaknya berharap pemerintah memberikan pelatihan penanaman cabai rawit dengan metode hibrida seperti yang sudah dilakukan terhadap cabai besar.

“Pemerintah harusnya memberikan pelatihan tata cara tanam modern bagi petani cabai rawit karena selama ini mayoritas masih menggunakan metode tradisional,” jelasnya.

Ia juga berharap pemerintah tidak melakukan import cabai untuk menurunkan harga cabai  karena itu hanya solusi sementara tapi justru merusak harga cabai lokal.  “Kami berharap pemerintah tidak melakukan impor untuk mengatasi kelangkaan cabai saat ini,” pungkas politisi asal Partai Demokrat. ud, mer

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan