
Jombang | duta.co – Islam tidak cukup hanya dipahami sebagai rutinitas ibadah. Lebih dari itu, Islam harus mampu membangun kesadaran umat, memperkuat persaudaraan, serta menjadi kekuatan untuk melawan penindasan dan memperjuangkan keadilan sosial.
Gagasan tersebut mengemuka dalam diskusi publik yang digelar oleh DPC PKB Jombang bertema Sosialisme Islam “Membedah Pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dan Ali Syari’ati” yang menghadirkan Assoc. Prof. Dr. M. Makmun, Dr. Moch. Nurcholis, dan Hendra Jaya, M.Pd.I.
Assoc. Prof. Dr. M. Makmun mengajak umat Islam untuk tidak hanya menjalankan rutinitas keagamaan, tetapi juga membangun tradisi berpikir kritis terhadap berbagai persoalan sosial di tengah masyarakat.
Menurutnya, Islam memiliki kekuatan besar untuk menyatukan umat tanpa memandang perbedaan suku, golongan, maupun latar belakang.
“Yang bisa mengikat mereka adalah Islam. Terserah sukunya dari mana, kelompoknya dari mana, tetapi kita tetap Islam,” ungkapnya. Sabtu (7/11).
Semangat persatuan tersebut, lanjutnya, tercermin dalam perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto ketika mendirikan Sarekat Islam. Organisasi ini menjadi wadah untuk menyatukan umat sekaligus membangun kekuatan masyarakat di tengah tekanan kolonialisme.
Sementara itu, Dr. Moch. Nurcholis menyoroti belum optimalnya penerapan nilai-nilai sosialisme Islam dalam kehidupan masyarakat.
Ia menyayangkan masih adanya kesenjangan antara pemahaman keagamaan dan praktik sosial. Padahal, tidak sedikit khatib yang menyampaikan bahwa Islam mengandung nilai-nilai sosialisme yang kuat.
Menurut Nurcholis, menarik untuk melihat kembali pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto. Pada awalnya, gagasan yang dibangun bukan semata-mata berbicara tentang ekonomi, melainkan mengajak umat untuk melaksanakan salat berjamaah.
Di balik salat berjamaah, terdapat nilai sosial yang mendalam. Semua orang berdiri dalam satu barisan, tanpa membedakan status, kedudukan, maupun kekayaan. Di situlah tercermin nilai kebersamaan, persamaan derajat, dan persaudaraan dalam Islam.
Diskusi juga mengulas pemikiran Ali Syariati, khususnya tentang tauhid, kebebasan, dan kesadaran manusia terhadap penindasan.
Pemikiran Ali Syariati mengajak manusia membangun kesadaran bahwa selama ini masih ada berbagai bentuk penindasan dan ketidakadilan yang harus dilawan.
Dalam konteks tersebut, pemikiran Ali Syariati memiliki titik temu dengan H.O.S. Tjokroaminoto. Keduanya sama-sama menempatkan kesadaran dan perjuangan sosial sebagai bagian penting dalam membangun masyarakat yang berkeadilan.
Pandangan senada disampaikan Hendra Jaya, M.Pd.I. Ia menjelaskan bahwa perjuangan H.O.S. Tjokroaminoto merupakan bentuk perlawanan terhadap penindasan yang dilakukan kaum kolonial.
Perlawanan Islam terhadap penjajahan bukan semata-mata untuk merebut kekuasaan, melainkan juga memperjuangkan kesejahteraan dan keadilan bagi rakyat.
Hendra juga membandingkan pemikiran sosialisme Karl Marx dengan sosialisme Islam yang dikembangkan H.O.S. Tjokroaminoto. Menurutnya, sosialisme Karl Marx lebih bertumpu pada persoalan material dan ekonomi. Sementara dalam pemikiran Tjokroaminoto, ekonomi bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk mencapai tujuan yang lebih tinggi, yakni pengabdian kepada Tuhan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa sosialisme Islam memiliki landasan ketuhanan. Kesejahteraan ekonomi tidak dipisahkan dari nilai moral, persaudaraan, dan tanggung jawab manusia kepada sesama.
Sebagaimana pemikiran H.O.S. Tjokroaminoto dalam bukunya Sosialisme Islam prinsip-prinsip persamaan derajat, persaudaraan, dan keadilan merupakan bagian penting dari ajaran Islam. Tjokroaminoto bahkan menegaskan bahwa nilai-nilai sosialisme bukan sesuatu yang asing bagi Islam. Prinsip-prinsip tersebut telah dipraktikkan sejak zaman Nabi Muhammad SAW.
Sementara itu, Ketua DPC PKB Jombang Anas Burhani menegaskan, dalam diskusi publik bagaimana kita memperjemahkan instruksi Ketun Umum untuk bersama sama menegakkan UUD 45 Pasal 33 Ayat 3 yang dimana “Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.”
” Untuk itu kami mengudang semua elemen baik akademik mahasiswa dan lain untuk kita mintai masukan untuk memperjuangkan ini bersama-sama,”pungkasnya. (din)








































