SURABAYA | duta.co — Menteri Negara Senior Urusan Pertahanan dan Luar Negeri Singapura, Dr Mohamad Maliki Osman berkunjung ke Pesantren Mahasiswa (Pesma) An-Nur Wonocolo, Surabaya,  Selasa (13/0/2018) sore. Silaturrahim yang digelar di Aula Putri Pesma An-Nur itu, berlangsung hangat, penuh keakraban.

Kedatangan Mohamad Maliki ini untuk merekatkan hubungan kedua negara, dan saling berbagi pengalaman untuk kebaikan keduanya. Banyak hal penting yang harus disinergikan antara Indonesia dan Singapura.

Menlu Singapura disambut Dr KH Imam Ghazali Said MA, pengasuh Pesma An-Nur. Dekan Fakultas Adab dan Humaniora (Fahum) UIN Sunan Ampel Surabaya ini, mengapresiasi kunjungannya disertai harapan adanya kerjasama di bidang pendidikan.

“Ini terobosan bagus. Jalinan kerjasama, silaturrahim tidak hanya tugas pemerintah saja. Saya apresiasi kehadiran beliau karena mau melakukan kunjungan kepada santri dan kiai. Harapannya, hubungan baik ini bisa berlanjut pada kerjasama pendidikan. Untuk santri, jangan ada yang tidak punya cita-cita keluar negeri,” demikian disampaikan Pengasuh Pesma An-Nur,  Dr KH Imam Ghazali Said MA dalam sambutannya.

Hal yang sama disampaikan Dr Mohamad Maliki Osman. Menlu Singapura yang dikenal energik ini, menegaskan, bahwa kunjungannya ke Surabaya memang khusus untuk mendekat dan mendengar pesantren. Ini sekaligus untuk memberikan masukan kepada santri sebagai penerus bangsa.

“Saya sudah banyak mengunjungi daerah di Indonesia. Namun ketika saya sampai di Surabaya, saya sampaikan bahwa saya ingin melakukan kunjungan ke pesantren. Saya ingin bertemu dengan santri dan kiai serta pemuda. Saya ingin mendengar, mungkin, apa yang ingin di sampaikan mereka. Karena pemuda merupakan penerus sebuah bangsa,” ujarnya.

Suami Sadiah Shahal ini, juga menjabat Menteri Pertahanan serta Walikota di salah satu wilayah di Singapura, didampingi beberapa staf dan keluarga menyampaikan, dua tema inovasi menarik yang didiskusikan.

Pertama isu ancaman terorisme, radikalisme dan ancaman-ancaman lainnya. Kedua kedua berbagi pengetahuan akan teknologi terkait dengan pendidikan.

“Dua tema ini kita sampaikan, pertama ancaman terorisme serta radikalisme, yang merupakan ancaman yang bersama sebagai saudara serumpun. Sama halnya di Malaysia, Singapura, Indonesia,” tegasnya.

Selanjutnya, jelas Dr Mohamad Maliki Osman, inovasi dalam menggunakan teknologi.  “Kita harus bijak menggunakan teknologi informasi baru ini. Untuk lebih memajukan hubungan kedua negara serta memajukan Negara, sekarang ini harus memanfaatkan teknologi,” ucap pria asli Singapura ini.

Menganai isu-isu radikalisme dan terorisme, Menteri Pertahanan Singapura ini menyampaikan, bahwa radikalisme tidak boleh mengatasnamakan agama. Karena apapun agamanya, tidak ada yang mengajarkan radikalime.

“Tidak ada agama  yang mengajarkan kekerasan. Semua agama mengajarkan kebaikan. Islam memiliki arti ‘peace’ kedamaian. Apabila ada yang melakukan tindakan kekerasan mengatasnamakan Agama, itu merupakan sebuah kekeliruan, dan harus ditindak,” tuturnya.

Sedangkan terkait inovasi teknologi, pria kelahiran 19 Juli 1965 ini berharap agar pemuda Indonesia bisa menggunakan teknologi secara maksimal, karena saat ini merupakan eranya teknologi. Melihat pasar yang sangat tinggi, inovasi teknologi sangat dibutuhkan saat ini.

“Saat ini semua menggunakan smartphone. Di sini ada Go-Jek dan tab-tab lainnya. Pangsa pasar Asean mempunyai lebih kurang 630 juta rakyat. Yang mana sebagian besar usianya di bawah 35 tahun dan menggunakan teknologi. Disinilah Inovasi teknologi baru sangat dibutuhkan, sehingga ke depan Indonesia dan Singapura menjadi negara yang kuat dan benar dalam pertumbuhannya,” pesannya kepada para santri. (roy)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.