KAMPANYE. Kepala Dishub Kota Mojokerto drs Endri Agus Subianto (pakai jas) saat kampanye keselamatan lalin ke sekolah. (DUTA.CO/YUSUF W)

MOJOKERTO | duta.co — Guna membentuk karakter yang disiplin dan tertib dalam berlalu lintas di jalan, Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Mojokerto melakukan kampanye keselamatan lalu lintas (lalin) ke sekolah.

Pembentukan karakter tertib lalu lintas melalui kampanye keselamatan lalu lintas ke sekolah ini memanfaatkan masa golden age dengan harapan pengalaman belajar Sadar Lalu Lintas Usia Dini (SALUD) akan terus membekas di dalam hati dan diimplementasikan dalam kehidupan sehari hari.

“Mendidik satu anak, diharapkan anak akan mengubah pola pikir keluarga,” ujar Kepala Dishub Kota Mojokerto drs Endri Agus Subianto, Senin (27/5/2024).

Kampanye dilaksanakan di sekolah-sekolah tingkat SMP yang ada di kota Mojokerto. “Dalam satu tahun dilaksanakan 10 kali dengan peserta untuk setiap sekolah sebanyak 60 siswa,” imbuhnya.

Adapun narasumber adalah perwakilan dari DPRD Kota Mojokerto , perwakilan dari Kejaksaan Negeri Kota Mojokerto, dan perwakilan dari Polresta Mojokerto.

Sedangkan tujuan umum pendidikan SALUD ini adalah menanamkan perilaku berkeselamatan pada anak usia dini dalam berlalu lintas. Selain itu, untuk memberikan keterampilan dasar tentang tata cara berlalu lintas yang
berkeselamatan sejak usia dini agar dapat tertanam kuat hingga mereka
dewasa.

“Tujuan jangka panjangnya untuk menanamkan perilaku SALUD menjadi fondasi pembangunan karakter keselamatan dan budaya tinggi keselamatan lalu lintas angkutan jalan di tingkat nasional,” jelasnya.

Lebih jauh dijelaskan, kecelakaan lalu lintas bukanlah takdir yang tidak bisa diubah. Kecelakaan
lalu lintas merupakan suatu kejadian yang disebabkan oleh beberapa faktor yang terjadi baik sengaja maupun secara tidak sengaja.

“Berdasarkan data dari Polresta Mojokerto selama 5 tahun terakhir (2017-2021), tren kecelakaan dan jumlah pelanggaran di Kota Mojokerto fluktuatif dan
cenderung mengalami peningkatan. Mayoritas korban kecelakaan adalah pelajar,” ungkapnya.

Kecelakaan adalah penyebab kematian nomer 9 di dunia, Indonesia menempati posisi ke empat sebagai negara dengan jumlah korban kecelakaan LLAJ tertinggi di kawasan Asia Tenggara.

“Tingginya angka kecelakaan di Indonesia berhubungan dengan budaya keselamatan berlalu lintas dan budaya melanggar aturan lalu lintas,” katanya.

Penyebabnya, lanjutnya, rendahnya pengetahuan, pemahaman, dan kesadaran pelajar tentang etika, tata cara, aturan dan disiplin berlalu lintas. Sehingga diperlukan suatu intervensi program untuk menanamkan budaya tertib berlalu lintas yang dapat memunculkan sikap disiplin dan tertib dalam berlalu lintas di jalan.

“Melalui program Pembentukan Karakter Tertib Lalu Lintas ke Sekolah diharapkan dapat menanamkan budaya tertib berlalu lintas yang dapat memunculkan sikap disiplin dan tertib dalam berlalu lintas di jalan,” harapnya.

Menurutnya, langkah membentuk budaya tidak bisa instan seperti membalik telapak
tangan namun membutuhkan proses, waktu, tenaga, pikiran, dan konsisten.

“Kesadaran yang mendasar tentang keselamatan lalu lintas angkutan jalan adalah bekal yang dapat digunakan agar mereka dapat tumbuh dan berkembang menjadi pengguna jalan yang baik dan benar,” pungkasnya.ywd