Foto yang 'tidak disukai' Prabowo itu pun beredar. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Salah satu yang dibenci Prabowo Subianto adalah ketika ibadahnya diekspos wartawan. Karena urusan dengan Allah swt. bukan dengan manusia. Tuhan yang maha Mengetahui. Itu juga menjadi ciri khas prajurit sejati. Pamer ibadah kepada seseorang, sama saja dengan menyekutukan-Nya.

Ini yang membuat Prabowo tidak pernah galau dengan tudingan tidak salat, tidak jumatan. Karena dia tidak butuh sanjungan orang, tidak butuh rekaman menjadi imam, tidak butuh penampilan sok khusyuk segala.

“Jangan pernah berdoa jelek, sekalipun kepada orang yang membenci kita,” demikian orang dekat Prabowo menirukannya.

Hari ini, Ahad (10/2/2019) masih ramai pertanyaan sindiran yang berseliweran di media sosial hingga menjadi trending topic,  #PrabowoJumatanDimana. Pertanyaan ini juga tidak membuatnya galau. Justru Ustad Sambo yang sibuk membalasnya. Dia balas dengan selembar foto yang viral.

“Hari ini, Jumat 8 Februari 2019, saya ikut Jumatan bersama Pak Prabowo,” kata Sambo dalam pesan singkat kepada CNNIndonesia.com.

Ironisnya, dasar tidak suka, foto saat Prabowo salat Jumat pun kembali dikomentari dengan nada miring. “Ustaz Sambo itu berilmu. Saya percaya tak bermaksud riya mempertontonkan ibadahnya,” kata Ketua GNPF Ulama Kota Binjai Ustaz Sani Abdul Fattah kepada Kantor Berita Politik RMOL, Sabtu (9/2).

Ustad Sani mengatakan, foto salat Jumat Prabowo dan Ustaz Sambo itu sama sekali tidak riya seperti yang dituduhkan. “Hanya menjawab pertanyaan dari pendukung petahana yang nampaknya sibuk sekali mempertanyakan Prabowo Jumatan dimana,” sambung Sani.

Menurut Sani, pendukung petahana tak perlu membesarkan pertanyaan-pertanyaan yang kecenderungannya mendiskreditkan Prabowo. “Kalau Jokowi itu kan masih presiden, salat juga bawa fotografer. Jadi ketahuan salat dimana,” kata Ustaz Sani.

Kampanye menuduh orang tidak salat, tidak jumatan justru membuat masyarakat muak. Semua mafhum, masalah salat adalah hak pribadi seseorang. Menjadi rusak salat seseorang kalau hanya untuk pamer sesama.

Hebatnya lagi, Prabowo tidak pernah meladeni tuduhan itu. Padahal setiap prajurit mengantungkan nyawanya kepada Tuhan, dan bersandar penuh kepada ulama. Djoko Santoso Ketua Badan Pemenangan Nasional pemenangan Prabowo-Sandi tidak habis pikir dengan model kampanye fitnah ini.

“Contoh kecil. Setiap pak Prabowo mengirimkan satu regu untuk melakukan penyusupan ke daerah yg dikuasai lawan, selalu dilakukan pada malam hari. Saat pasukan tersebut menjalankan tugasnya, pak Prabowo selalu mengajak dan memerintahkan kepada pasukan yang tinggal di basecamp untuk melakukan salat malam,” katanya.

Mengapa? “Hal ini penting selain meminta perlindungan kepada Allah terhadap misi yang dijalankan secara keseluruhan, juga untuk memohon agar pasukan yang tengah menjalankan tugas penyusupan tersebut dapat menjalankan tugasnya dengan baik dan dapat kembali dengan selamat,” tambahnya.

Prabowo bisa saja membantah, lalu pamer ibadah. Lalu mendoakan para penfitnahnya dengan keburukan. Tetapi, itu tidak akan pernah dilakukan meski itu sebenarnya sah-sah saja. “Allah tidak menyukai ucapan buruk, (yang diucapkan) dengan terang kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Nisa’: 148)

Ibnu Abbas berkata tentang ayat ini: “Allah tidak suka seseorang mendoakan keburukan untuk selainnya, kacuali ia dalam keadaan dizalimi. Allah memberikan keringanan baginya untuk mendoakan keburukan atas orang yang menzaliminya.dan itu ditunjukkan oleh firman-Nya, “Kecuali oleh orang yang dianiaya.” (namun), jika bersabar maka itu lebih baik baginya. (Lihat Tafsir Ibnu Katsir terhadap ayat di atas).

Tidak. Jika ia membalas kepada orang yang menzaliminya dengan doa keburukan, maka ia tidak mendapat apa-apa karena ia telah mendapatkan apa yang ia inginkan (kepuasan). Jika ia bersabar, memaafkan, dan membalas keburukan dengan kebaikan maka ia mendapat pahala yang besar di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah.” (QS. Al-Syuura: 40)

Disebutkan dalam hadits shahih, “Tidaklah Allah menambah kepada hamba melalui maaf yang ia berikan kecuali kemuliaan.” (HR. Muslim). Subhanallah! (net*)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.