Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan Adi Suwito, saat memberikan penjelasan tentang pendidikan anti korupsi.

LAMONGAN | duta.co – Dinas Pendidikan (Disdik) kabupaten Lamongan terus berupaya melakukan inovasi di bidang pendidikan, aplikasi terbaru yang diluncurkan salah satunya adalah jaringan informasi pendidikan tanpa ribet “Jari Pintar”.

Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Lamongan, Adi Suwito mengatakan, aplikasi Jari Pintar akan memberikan kemudahan akses dan informasi pelayanan seputar pendidikan yang berada pada naungan Disdik setempat.

“Dengan aplikasi ini berkas kertas dan dokumen yang menggunung akan terkurangi 50 sampai dengan 70 persen,” kata Adi Suwito Rabu, (08/05/2019).

Menurut Adi, Jari Pintar ini sebagai paket komplit karena memiliki beragam menu, di antaranya menu E-Bekisar yang berisi berkas seluruh jajaran pendidikan di Kabupaten Lamongan.

Kemudian, lanjut Adi, menu E-Gakin untuk mengakses beasiswa bagi keluarga miskin. Menu Pak-e untuk penilaian angka kredit dengan elektronik dan menu E-klinik forum sebagai wadah diskusi.

Di sisi lain, Disdik Kabupaten Lamongan juga sangat gencar melakukan upaya untuk pemberantasan korupsi, upaya tersebut di antaranya dengan memasukan mata pelajaran pendidikan anti korupsi di Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

“Mulai tahun ajaran 2019/2020, kurikulum untuk jenjang SD dan SMP di Kabupaten Lamongan akan ditambah dengan pendidikan anti korupsi,” ujarnya.

“Sangat penting menanamkan pendidikan anti korupsi di usia sejak dini, itu untuk membentuk karakter agar di kemudian hari mereka anti korupsi,” imbuhnya.
Pria yang dikenal sangat kalem tersebut mengatakan, bertepatan dengan Upacara Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) Tahun 2019 kemarin, kurikulum pendidikan anti korupsi untuk jenjang SD dan SMP sudah dilaunching.

“Selain diserahkan perangkat pembelajaran pendidikan anti korupsi jenjang SD dan SMP, juga dilaunching buku membangun Lamongan berkarakter melalui jalan pendidikan dan menanamkan karakter di kalangan pelajar,” jelas Adi Suwito.

Pembelajaran pendidikan anti korupsi tersebut, kata dia, dimasukkan sebagai insersi implementasi dalam mata pelajaran di SD dan SMP, ada tujuh mata pelajaran yang menjadi insersi.

“Pendidikan Agama dan Budi Pekerti, Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) Matematika, Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris,” tandasnya. (ard)