
SURABAYA | duta.co – SD Khadijah Wonorejo Surabaya menggelar puncak presentasi proyek siswa bertajuk Discover to Deliver oleh siswa-siswi kelas 6 dalam suasana meriah dan penuh antusiasme. Kegiatan yang merupakan hasil dari program intensif minat bakat tersebut dihadiri oleh siswa-siswi, guru, orang tua murid, jajaran Yayasan Khadijah serta jajaran Dinas Pendidikan Kota Surabaya.
Aula sekolah pada Rabu (13/5/2026), tampak semarak dengan berbagai stan inovasi karya siswa dengan tema smart living: teknologi ramah lingkungan dan makanan untuk generasi hebat, mulai dari teknologi sederhana namun inovatif hingga produk pangan kreatif hasil olahan mandiri para peserta didik.
Dalam pidatonya, Kepala Sekolah SD Khadijah Wonorejo Surabaya, Dr. H. M. Rochman Firdian. Menyampaikan apresiasi tinggi kepada seluruh pihak yang telah mendukung keberhasilan program tersebut.
“Program ini bukan sekadar kegiatan akademik biasa, tetapi menjadi proses pembelajaran nyata bagi anak-anak untuk mengenal kehidupan, memahami masalah, lalu mencari solusi bersama. Kami bersyukur karena kolaborasi antar-mapel, para pendamping kelas 6, guru-guru, panitia, tenaga kebersihan, hingga dukungan orang tua berjalan luar biasa,” ujarnya di hadapan para tamu undangan.
Ia juga menekankan pentingnya pendidikan berbasis pengalaman dan karakter dalam membentuk generasi masa depan.
“Anak-anak hari ini tidak cukup hanya pintar menghafal. Mereka harus mampu berpikir kritis, kreatif, bekerja sama, dan berani menyampaikan gagasan. Itulah kompetensi 4C, kecakapan abad 21 yang terus kami bangun di sekolah ini,” tambahnya.
Selama program berlangsung, siswa menjalani metode pembelajaran berbasis proyek atau Project-Based Learning (PjBL) dengan tahapan Discover, Define, Design, hingga Deliver. Para siswa diminta mengidentifikasi persoalan di sekitar mereka, merumuskan akar masalah, lalu menciptakan solusi nyata dalam bentuk karya inovatif.
Berbagai hasil karya siswa dipamerkan dalam acara tersebut. Di bidang teknologi, siswa menghadirkan alat bantu buka-tutup otomatis dan perangkat sederhana yang mempermudah aktivitas sehari-hari. Sementara di bidang pangan, siswa mengolah bahan-bahan yang jarang dimanfaatkan menjadi produk makanan kreatif dan bernilai jual.

Suasana semakin hidup ketika para siswa kelas 6 secara bergantian mempresentasikan hasil proyek mereka di depan orang tua dan tamu undangan. Dengan penuh percaya diri, mereka menjelaskan proses riset, kendala yang dihadapi, hingga manfaat dari inovasi yang dibuat. Tepuk tangan berkali-kali terdengar memenuhi ruangan saat para siswa mampu menjawab pertanyaan dengan lugas dan komunikatif.
Dalam sesi wawancara usai acara, Dr. H. M. Rochman Firdian menegaskan bahwa program tersebut merupakan bekal penting bagi siswa menuju jenjang pendidikan berikutnya.
“Anak-anak diajarkan bagaimana menyelesaikan akar masalah sejak dini. Jika kebiasaan ini terus tumbuh, mereka akan menjadi pribadi yang siap menghadapi tantangan masa depan, baik di sekolah maupun di masyarakat,” katanya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan Kota Surabaya, Febrina Kusumawati, yang turut hadir dalam kegiatan tersebut memberikan apresiasi atas inovasi pendidikan yang diterapkan SD Khadijah Wonorejo Surabaya.
Dalam pidatonya, Febrina menyampaikan bahwa pendidikan masa kini harus mampu melahirkan generasi yang adaptif dan mampu memberikan solusi terhadap berbagai persoalan di masyarakat.
“Sekolah seperti ini menunjukkan bahwa anak-anak Surabaya memiliki potensi besar menjadi inovator masa depan. Mereka tidak cuma belajar teori, tetapi juga belajar memahami kehidupan nyata dan mencari solusi atas persoalan yang ada di sekitar mereka,” ujarnya.
Ia berharap pendekatan pembelajaran berbasis proyek dapat terus dikembangkan di sekolah-sekolah lain di Kota Surabaya.
“Kita ingin anak-anak memiliki keberanian berpikir, kemampuan berkomunikasi, dan kepedulian sosial yang tinggi. Ketika mereka terbiasa memecahkan masalah kecil di sekolah, kelak mereka akan siap membantu menyelesaikan persoalan besar di kota ini,” katanya.
“Kami ingin sekolah ini menjadi laboratorium hidup. Seperti persoalan Sampah, ini harus selesai di lingkungan sekolah sendiri. Sampah organik bisa olah melalui biopori agar kembali bermanfaat. Anak-anak harus belajar bahwa menjaga lingkungan juga bagian dari tanggung jawab mereka,” tegasnya.
Febrina juga menilai bahwa kolaborasi antara sekolah, guru, siswa, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan program tersebut.
“Ini contoh pendidikan yang hidup. Anak-anak diberi ruang untuk berkembang, guru menjadi pendamping yang membimbing, dan orang tua hadir memberi dukungan penuh. Semangat seperti ini harus terus dijaga,” ungkapnya.
Melalui kegiatan ini, SD Khadijah Wonorejo Surabaya tidak semata menunjukkan keberhasilan akademik, tetapi membangun karakter siswa yang kreatif, peduli lingkungan, mampu bekerja sama, dan siap menjadi calon pemimpin masa depan juga penting. Rid


































