Sholahuddin Al-Fatih, SH., MH adalah Dosen Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Malang.

“Turki harus memiliki siasat diplomasi layaknya Rasulullah, dalam dakwahnya menyebarkan Islam, dimana beliau selalu mengutamakan pembangunan masjid di suatu wilayah sebagai pusat peradabannya.”

Oleh : Sholahuddin Al-Fatih, SH., MH

TURKI selalu menarik untuk diperbincangkan. Kebijakan Pemerintah Turki di bawah komando Erdogan, beberapa kali menimbulkan kontroversi. Seperti ketika Turki mau menerima jutaan imigran dari konflik di Timur Tengah saat negara-negara Eropa kompak menolak, menerima Muslim Uighur dan kemudian melakukan deportasi kembali ke China, pembelian Pesawat Sukhoi dari Rusia hingga yang terbaru merubah fungsi Hagia Sophia menjadi masjid.

Seperti banyak diberitakan dalam literasi sejarah, selama 15 abad terakhir, Hagia Sophia atau biasa disebut juga dengan Aya Sofia, menjadi saksi bisu sejarah berlangsungnya transisi rezim yang menguasai Konstantinopel. Rezim-rezim tersebut diantaranya mulai dari pagan, Kekaisaran Byzantium penganut Katolik Ortodoks, Kesultanan Ottoman (Utsmaniyah) sampai era Turki modern. Pada Era Turki modern pula, terjadi dua alih fungsi Hagia Sophia, yakni saat menjadi museum di era Mustafa Kemal Attaturk dan menjadi masjid di era Recep Tayyip Erdogan saat ini.

Kondisi tersebut tidak terlepas dari hasil putusan pengadilan administrasi utama Turki, yang menyatakan bahwa status Hagia Sophia sebagai museum dicabut, tepatnya pada 10 Juli 2020 lalu. alih fungsi Hagia Sophia kemudian memantik banyak perbincangan dan diskusi, mulai dari mereka yang pro hingga yang kontra.

Pihak yang menyetuji Hagia Sophia beralih menjadi masjid mengungkapkan bahwa wewenang untuk merubah fungsi suatu bangunan, merupakan wewenang mutlak pemerintah berdaulat di wilayah tersebut. Faktanya pula, tidak semua umat Kristen menolak alih fungsi tersebut. Banyak komunitas Kristen bahkan pendeta mereka yang menyetujui alih fungsi Hagia Sophia menjadi masjid dengan beragam alasan.

Misalnya saja yang disebutkan oleh Evangelos Papanikolaou, Pendeta Kristen Orthodoks Yunani, yang menyatakan dukungannya terhadap alih fungsi Hagia Sophia menjadi masjid. Evangelos Papanikolaou berdalih bahwa dengan perubahan fungsi museum menjadi masjid, maka orang tidak dengan sembarangan bisa masuk ke tempat tersebut.

Wisatawan yang awalnya masuk ke Hagia Sophia dengan pakaian terbuka, karena kini telah menjadi masjid, maka mereka “terpaksa” harus menggunakan pakaian tertutup. Yang awalnya memakai sandal atau sepatu saat masuk ke Hagia Sophia, kini mereka haurs melepas alas kaki mereka. Kondisi ini menurut Evangelos Papanikolaou justru bisa menjaga kesucian Hagia Sophia yang memang diyakni sebagai tempat suci pula oleh umat Kristen.

Sayangnya, tak sedikit pula yang menolak alih fungsi Hagia Sophia. Mereka yang menolak beranggapan bahwa alih fungsi tersebut bisa meningkatkan intoleransi antarumat beragama, mencederai nilai historis bangunan tersebut dan banyak lagi.

Sejarah konon mencatat bahwa Hagia Sophia dibangun oleh Gereja Ortodoks, yang untuk mengambil jalan tengahnya, Kemal Attaturk mengubahnya menjadi museum untuk menghormati kebebasan beragama umat Kristen dan Muslim saat itu. Hingga dalam perjalanannya, Hagia Sophia diakui sebagai salah satu dari situs Warisan Dunia UNESCO yang disebut Area Bersejarah Istanbul, sejak tahun 1985. Warisan Dunia UNESCO inilah yang juga dipermasalahkan oleh mereka yang menolak alih fungsi Hagia Sophia. Padahal, jika ditelusuri lebih lanjut, banyak warisan dunia yang juga dijadikan tempat ibadah hingga saat ini, misalnya Candi Borobudur dan Candi Prambanan di Indonesia.

Artinya, jika ada yang mempermasalahkan status warisan dunia UNESCO pada Hagia Sophia yang kini menjadi masjid, tentu salah besar. Sehingga, sah-sah saja Hagia Sophia kembali berfungsi menjadi masjid.

Kini, pekerjaan rumah selanjutnya yang harus ditunjukkan oleh Turki adalah dengan menjadikan masjid tersebut sebagai pusat peradaban. Turki harus bisa menjawab tudingan miring dari kelompok yang menolak alih fungsi Hagia Sophia atas dasar intolernasi dan sejenisnya.

Turki harus memiliki siasat diplomasi layaknya Rasulullah, dalam dakwahnya menyebarkan Islam, dimana beliau selalu mengutamakan pembangunan masjid di suatu wilayah sebagai pusat peradabannya. Sebut saja Masjid Quba, yang dibangun oleh Rasulullah pada tahun 1 Hijriyah atau 622 Masehi di Quba, sekitar 5 km di sebelah tenggara kota Madinah.

Masjid Quba tersebut kelak menjadi cikal bakal berkembangnya ajaran Islam. Dan kini, negara-negara Timur Tengah yang mayoritas berpenduduk Muslim, juga menerapkan diplomasi masjid untuk mengembangkan syiar Islam.

Langkah tersebut sepertinya diikuti oleh Turki. Seperti dikutip dari republika.co.id, Turki menjadi salah satu negara yang mendanai pembangunan masjid di banyak negara. Pemerintah yang berkuasa dari Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP) di bawah pimpinan Erdogan telah menghabiskan hampir setengah miliar dolar untuk membangun lebih dari 100 masjid di luar negeri dalam beberapa tahun terakhir. Proyek masjid Turki itu ada di beberapa negara termasuk Amerika Serikat, Jerman, Inggris, Rusia, Ghana, Albania, Filipina dan Kirgistan.

Selain untuk menyebarkan syiar Islam, pembangunan masjid-masjid tersebut juga bisa dilihat sebagai upaya diplomasi Turki dengan negara-negara berpenduduk mayoritas non-Muslim. Langkah Turki tersebut seperti ingin meneguhkan peran bahwa Islam adalah agama yang Rahmatan Lil ‘Alamin. Agama yang bisa diterima oleh semua umat manusia.

Selain itu, Turki juga ingin menunjukkan bahwa paham sekuler yang berkembang di negara mereka, tidak lantas membuat mereka lupa pada Tuhan. Cukup jauh berbeda dengan kita, yang di banyak kesempatan mengaku sebagai bangsa Timur yang beragama, namun seringkali terjadi perdebatan sesama pemeluk agama, bukan antar-agama.

Betapa tidak, saat masyarakat Turki berbondong-bondong mengikuti sholat Jum’at berjamaah di Hagia Sophia, tanpa melihat latar belakang ormas atau imam empat yang mereka anut, kita disini disibukkan dengan perbedaan mahdzab. Khilafiyah disini dijadikan sebagai alat untuk mencaci saudara sendiri, saudara seagama. Kondisi inilah yang harus kita hindari.

Mari bersama kita makmurkan masjid kita, tanpa perlu menumbuhkan fanatisme berlebihan. Masjid itu tempat kita beribadah kepada Tuhan, bukan tempat untuk saling menjatuhkan karena perbedaan paham. Semoga, dari Hagia Sophia kita bisa belajar, bahwa masjid adalah kunci untuk membangun peradaban. (*)

Sholahuddin Al-Fatih, SH., MH adalah Dosen Fakultas Hukum, Universitas Muhammadiyah Malang.

 

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry