
“Di tanah suci , Gubernur Khofifah Indar Parawansa, bukan sekadar hadir sebagai tamu negara dalam ritual ibadah haji. Ia membawa misi yang menyentuh ranah ruhani dan kemanusiaan: memanusiakan kekuasaan, menghidupkan kekuasaan dengan ketulusan.”
Oleh Dr H Romadlon, MM
DI BAWAH langit Makkah yang menyimpan gema takbir dan doa umat dari seluruh penjuru dunia, lahirlah sebuah babak baru peradaban: jejak kepemimpinan seorang Muslimah yang tidak hanya menembus batas domestik, tapi menancapkan makna dalam diplomasi global.
Dalam pusaran modernisasi dan krisis kemanusiaan lintas benua, kepemimpinan perempuan Muslim tak lagi sebatas simbol representasi. Ia menjelma kekuatan transformasional — menyulam layanan haji yang berkelas dunia, menjalin diplomasi lintas negara berbasis nilai ukhuwah, dan menjawab panggilan zaman dengan ketegasan visi dan kelembutan nurani.
Haji bukan sekadar ritual. Ia adalah panggung pertemuan global umat, dan di sanalah misi besar itu dirancang: menjadikan pelayanan sebagai perwujudan ibadah, menjadikan diplomasi sebagai bentuk kasih sayang antarbangsa, dan menjadikan kehadiran pemimpin Muslimah sebagai pelita di antara gelombang tantangan geopolitik, perubahan iklim, dan krisis solidaritas umat manusia.
Dari Makkah, lahir bukan hanya kisah spiritual — tapi juga cetak biru baru bagi masa depan peradaban yang lebih inklusif, adil, dan penuh rahmat.
Kepemimpinan Menunduk, Diplomasi Menyentuh Langit
Ketika langit Makkah membentangkan payung rahmatnya bagi jutaan umat yang bertawaf dalam irama doa, langkah-langkah dari Timur Nusantara mengukir makna yang jauh melampaui formalitas ziarah. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, bukan sekadar hadir sebagai tamu negara dalam rangkaian ibadah haji—ia hadir membawa misi yang menyentuh ranah ruhani dan kemanusiaan sekaligus: memanusiakan kekuasaan, dan menghidupkan kekuasaan dengan ketulusan.
Ia datang sebagai pemimpin, namun memilih berjalan sebagai jamaah—menanggalkan segala atribut duniawi dan menyatu dalam samudra manusia yang menengadah dalam satu bahasa: doa. Dalam kesunyian padang Arafah, dalam putaran thawaf di Baitullah, dan dalam setiap detik diam yang sarat zikir, Khofifah menjelma simbol kepemimpinan yang menunduk, yang tidak menjauh dari umat, tetapi larut bersama umat.
Di tengah arus diplomasi antarbangsa yang sering kaku dan berjarak, ia menjahit nilai-nilai ukhuwah: menyentuh hati para pemimpin Muslim dunia dengan bahasa kasih, menghormati protokol tanpa kehilangan nurani, dan memperlihatkan wajah Islam yang penuh kedamaian, tertib, dan bersahabat. Bukan hanya menyalami, tetapi menghubungkan; bukan hanya hadir, tetapi mewakili semangat rakyat kecil yang doanya diam-diam ia bawa pulang dari tanah suci.
Inilah potret pemimpin yang memahami bahwa ziarah terbesar seorang pemimpin bukanlah ke singgasana, tetapi ke hati umatnya. Ketika seorang pemimpin menanggalkan ego dan menyatu dengan jamaah, maka doanya tidak lagi bersifat pribadi—ia menjadi doa kolektif sebuah bangsa. Doa yang menjadi jalan pulang—menuju rakyatnya, menuju amanahnya, menuju Tuhannya.
Di Tanah Haram, Khofifah tidak sedang menunjukkan kebesaran jabatan, tetapi merayakan kerendahan hati. Ia menulis babak baru kepemimpinan Islam di abad ini: bahwa spiritualitas bukan pelarian, melainkan kekuatan. Bahwa kekuasaan yang paling agung adalah ketika seorang pemimpin mampu menjadi hamba sepenuhnya, dan menghadirkan kebijakan yang lahir dari sujud yang panjang.
Makkah telah menjadi saksi. Dunia menyimak. Dan rakyat menanti: akan seperti apa doa itu menjelma menjadi tindakan nyata sepulangnya dari Baitullah.
Diplomasi di Forum Haji Dunia
Pada Sabtu, 7 Juni 2025, sejarah mencatat sebuah momentum penting di bawah langit Mina — ketika Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, memenuhi undangan kehormatan dari Putra Mahkota sekaligus Perdana Menteri Kerajaan Arab Saudi, Pangeran Mohammed bin Salman, untuk hadir dalam Forum Tahunan Haji Dunia yang diselenggarakan di Istana Mina.
Forum eksklusif ini digelar atas nama Khadimul Haramain, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, dan menjadi panggung strategis bagi pertemuan para pemimpin dunia Islam lintas benua. Di ruang yang sarat dengan spiritualitas dan tanggung jawab global itu, hadir tokoh-tokoh penting seperti Presiden Mauritania, Presiden Maladewa, Wakil Presiden Benin, hingga Mufti Agung Palestina, semua duduk dalam satu majelis ukhuwah — memperkuat sinyal bahwa haji bukan hanya ritual, tetapi juga jembatan diplomasi peradaban.
Kehadiran Gubernur Khofifah di forum ini bukan sekadar representasi administratif, melainkan *representasi visioner seorang pemimpin Muslimah Indonesia yang aktif membangun jalur diplomasi lintas batas berbasis nilai-nilai Islam rahmatan lil ‘alamin. Dalam percakapan bilateral maupun multilateral, Khofifah membawa semangat pelayanan haji berbasis inklusivitas, perlindungan jemaah, dan solidaritas umat. Ia menunjukkan bahwa perempuan dalam kepemimpinan Islam tidak hanya menjadi simbol, tetapi juga penggerak misi global yang konkret.
Dalam pidato yang penuh semangat namun berbalut kelembutan, Pangeran Mohammed bin Salman menyampaikan ucapan selamat Idul Adha kepada seluruh tamu kehormatan dan mendoakan para jemaah agar mendapatkan predikat haji mabrur. Tak hanya itu, ia juga menegaskan komitmen Kerajaan Arab Saudi dalam menjaga stabilitas kawasan, keamanan umat Islam, dan memperkuat tali persaudaraan kemanusiaan lintas negara.
Forum ini menjadi lebih dari sekadar seremoni — ia adalah medan strategis baru untuk menyatukan langkah umat Islam dalam menghadapi tantangan global seperti krisis kemanusiaan, konflik geopolitik, disrupsi iklim, hingga perjuangan kemerdekaan dan keadilan seperti yang dihadapi oleh rakyat Palestina.
Mina bukan hanya tempat wukuf fisik, tapi juga tempat berhenti sejenak untuk menyusun arah baru dunia Islam — melalui diplomasi, pelayanan, dan visi peradaban.
Dari Undangan Raja Menuju Tafakur Hamba
Kehadiran Khofifah Indar Parawansa di Tanah Suci pada musim haji 2025/1446 H. bukan sekadar respons atas undangan resmi dari Khadimul Haramain, Raja Salman bin Abdulaziz Al Saud, melalui Putra Mahkota Pangeran Mohammed bin Salman. Lebih dari itu, ia mencerminkan pengakuan dunia terhadap posisi strategis seorang pemimpin Muslimah Indonesia — yang tak hanya memimpin secara administratif, tetapi juga menggerakkan semangat peradaban Islam dengan jiwa pelayanan, empati, dan spiritualitas.
Didampingi putra bungsunya, Ali Mannagalli, Gubernur Khofifah memilih hadir bukan dengan gemerlap protokoler, tetapi dengan kesederhanaan yang menyentuh nurani. Ia menolak keistimewaan fasilitas kerajaan yang lazim diberikan kepada tamu negara. Tidak ada iring-iringan, tidak ada barikade pengamanan. Ia memilih berjalan kaki ke Masjidil Haram, menyatu dalam arus lautan manusia, dan menunaikan thawaf di antara jemaah dari berbagai bangsa, status, dan bahasa.
“Saya ingin menjadi bagian dari jamaah biasa. Saya ingin melihat langsung dari bawah, bukan dari balkon kehormatan,” ujar Khofifah — sebuah pernyataan yang sederhana, namun menggema dalam makna.
Dalam setiap langkahnya di sekitar Ka’bah, Khofifah bukan sedang meninjau, melainkan menyatu. Ia menyerap denyut spiritual umat, melihat langsung wajah-wajah kelelahan yang sarat harap, dan menyapa dengan ketulusan yang tak bisa diskenariokan. Ia ingin merasakan bukan dari atas menara komando, tetapi dari titik paling dasar pelayanan haji — tempat di mana keikhlasan dan kesabaran benar-benar diuji.
Pilihan itu menjadi simbol penting: kepemimpinan yang tidak terjebak simbolik kekuasaan, tetapi tumbuh dari kepekaan sebagai hamba. Tafakur itu menjelma menjadi evaluasi batin tentang bagaimana pelayanan jemaah haji harus dibangun: bukan hanya efisiensi sistem, tetapi juga empati, humanisme, dan spiritualitas.
Dalam suasana Mina, Arafah, dan Makkah yang menyatu dalam harmoni ibadah, Khofifah merefleksikan kepemimpinan sebagai amanah yang tak lepas dari dimensi penghambaan. Ia menunjukkan bahwa menjadi pemimpin sejati justru dimulai dari kemampuan untuk melepaskan hak istimewa dan kembali ke hakikat diri sebagai hamba Allah.
Di tengah tantangan global, diplomasi lintas negara, dan modernisasi pelayanan haji, langkah Khofifah menjadi penanda: bahwa transformasi peradaban Islam di masa depan membutuhkan pemimpin yang mampu menunduk, sebelum menuntun. Yang mampu mendengar dari bawah, sebelum berbicara dari atas.
Seruan Cinta di Sepuluh Hari Terbaik
Di tengah ibadah yang khusyuk, Khofifah tak lupa berbagi pesan kepada rakyat Indonesia. Melalui media sosial, ia menyerukan keutamaan sepuluh hari pertama Dzulhijjah, yang disebut Al-Qur’an dan hadits Nabi sebagai hari-hari terbaik untuk beramal saleh: “Demi fajar dan malam yang sepuluh.” (QS. Al-Fajr: 1–2)
“Tidak ada hari-hari di mana amal saleh lebih dicintai Allah selain dari hari-hari ini.” (HR. Bukhari)
Seruannya bukan sekadar tausiyah, tetapi dakwah dari Tanah Suci—dari seorang pemimpin yang mengerti bahwa kekuasaan sejati terletak pada kerendahan hati dan kepedulian kepada sesama.
Ketika Teknologi dan Spirit Bertemu
Khofifah menyaksikan langsung bagaimana Masjidil Haram kini jauh lebih tertib dan manusiawi. Arus jemaah yang mengalir lancar, pelayanan yang bersahabat, dan askar yang penuh senyum menjadi pemandangan yang membekas.
“Kini arah masuk jelas, arus lebih tertib, dan para petugas memberikan layanan dengan empati. Ini bukan hanya profesionalisme, tapi juga spirit kasih sayang,” tutur Khofifah.
Hal ini diamini oleh para delegasi dunia Islam. Menteri Wakaf Suriah, Dr. Muhammad Abu al-Khair Syukri, memuji penggunaan teknologi modern oleh Arab Saudi dalam pengelolaan haji. Sementara Mufti Besar Yerusalem, Syekh Muhammad Hussein, menyebut bahwa haji tahun ini adalah momentum nyata penyatuan umat.
Transformasi Pelayanan Haji: Ketika Teknologi dan Spirit Bertemu
Dalam denyut spiritual yang membuncah di Masjidil Haram, Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, menyaksikan sebuah wajah baru dari pelayanan haji — wajah yang tidak hanya modern, tetapi juga penuh kasih dan kemanusiaan.
Tak sekadar melayani jutaan jemaah dari seluruh dunia, sistem haji di era terbaru ini telah mengalami transformasi besar-besaran: lebih tertib, lebih ramah, lebih manusiawi. Arus thawaf yang dulunya rawan sesak kini mengalir dengan lancar. Petugas yang dahulu dikenal tegas kini menyambut dengan senyum, isyarat tangan yang bersahabat, dan keramahan yang menyentuh. Inilah sinergi nyata antara teknologi canggih dan spirit pelayanan Islami.
“Kini arah masuk jelas, arus lebih tertib, dan para petugas memberikan layanan dengan empati. Ini bukan hanya profesionalisme, tapi juga spirit kasih sayang,” tutur Khofifah, usai menyelesaikan serangkaian ibadah di Masjidil Haram.
Apa yang dilihat Khofifah bukan sekadar hasil kerja teknokratik, tetapi manifestasi nilai-nilai Islam dalam wujud pelayanan modern. Teknologi seperti *pemantauan kerumunan berbasis AI, penanda jalur digital, penyemprotan otomatis, hingga sistem informasi berbasis multi-bahasa bukan hanya mempercepat proses — tapi juga memuliakan setiap jemaah sebagai tamu Allah yang layak dilayani dengan penuh hormat.
Pandangan Khofifah mendapat dukungan kuat dari tokoh-tokoh dunia Islam yang hadir di perhelatan haji tahun ini. Menteri Wakaf Suriah, Dr. Muhammad Abu al-Khair Syukri, menyampaikan apresiasi atas bagaimana Arab Saudi memadukan inovasi dan nilai-nilai syar’i dalam manajemen haji. Ia menyebut bahwa sistem layanan digital berbasis kebutuhan jemaah telah menjadikan haji lebih nyaman dan aman dari tahun-tahun sebelumnya.
Sementara itu, Mufti Besar Yerusalem, Syekh Muhammad Hussein, menegaskan bahwa haji tahun ini bukan hanya tertib secara teknis, tetapi juga menjadi momentum nyata penyatuan umat. Ketika jutaan umat Islam dari berbagai bangsa, mazhab, dan warna kulit bertemu dengan tertib, dalam damai dan penuh kasih — itulah saat di mana ukhuwah islamiyah tidak hanya dideklarasikan, tapi benar-benar dihidupkan.
Transformasi pelayanan haji yang disaksikan langsung oleh Khofifah menjadi cerminan bahwa peradaban Islam masa depan dibangun dari dua pilar utama: kekuatan inovasi dan kemuliaan akhlak. Teknologi bukan pengganti nilai spiritual, tetapi jembatan untuk menyalurkan cinta kasih Allah kepada para tamu-Nya.
Dari pelataran Masjidil Haram yang kini tertib dan canggih, dunia Islam sedang mengirim pesan kuat ke masa depan: bahwa kemajuan bukan berarti meninggalkan ruh, dan pelayanan yang efektif tidak harus kering dari empati. Justru di titik pertemuan keduanya, umat Islam menemukan harapan baru untuk membangun peradaban yang beradab.
Dimensi Kemanusiaan dan Kepemimpinan yang Menyatu
Bagi Khofifah, manajemen haji adalah cermin dari tata kelola umat. Penghapusan jalur haji furoda oleh pemerintah Arab Saudi misalnya, ia nilai sebagai langkah berani yang berpihak pada keselamatan dan keteraturan.
“Manajemen yang baik adalah ibadah. Ketertiban adalah bagian dari syariah. Dan pelayanan yang bermartabat adalah cermin iman,” tegasnya.
Di tengah kompleksitas dunia Islam yang kerap terpecah oleh politik dan sektarianisme, pertemuan di Mina menjadi momen langka untuk menyatukan visi global umat Islam—dari masjid ke istana, dari pemimpin ke rakyat, dari hati ke hati.
Langkah berani Pemerintah Arab Saudi untuk menghapus jalur haji furoda, yang selama ini sering bermasalah dari sisi ketertiban dan keamanan, menurut Khofifah adalah bentuk nyata dari manajemen yang berpihak pada keselamatan jemaah dan keteraturan sosial.
“Manajemen yang baik adalah ibadah. Ketertiban adalah bagian dari syariah. Dan pelayanan yang bermartabat adalah cermin iman,” tegas Khofifah.
Baginya, setiap kebijakan yang mengutamakan keselamatan dan kemaslahatan umat bukan sekadar keputusan administratif, tetapi bagian dari pengabdian kepada Allah dan tanggung jawab terhadap sesama. Haji bukan hanya arena spiritual, tetapi juga panggung kepemimpinan yang menuntut integritas, empati, dan keberanian moral.
Di tengah kompleksitas dunia Islam yang kerap tercabik oleh sektarianisme, konflik geopolitik, dan fragmentasi ideologi, pertemuan para pemimpin dunia Islam di Istana Mina menjadi momen langka dan monumental. Di tempat suci itu, tak ada gelar yang lebih tinggi dari kata “hamba.” Tak ada batas antara pemimpin dan rakyat, antara bangsa kaya dan negara miskin, selain ketulusan untuk bersatu dalam niat dan cita global keumatan.
Pertemuan di Mina — yang mempertemukan Presiden Mauritania, Wakil Presiden Benin, Mufti Palestina, hingga Gubernur Jawa Timur — bukan sekadar simbol diplomatik. Ia adalah majlis ruhaniyah dan geopolitik yang mencairkan batas-batas politik demi membangun kebersamaan umat dalam semangat ukhuwah insaniyah dan ta’awun islami.
Khofifah melihat peristiwa ini sebagai metafora penting: bahwa masa depan dunia Islam tidak dibangun oleh kekuatan militer atau kekayaan sumber daya semata, melainkan oleh kepemimpinan yang mampu merawat akal sehat, hati nurani, dan tata kelola yang adil dan amanah.
Haji bukan sekadar ibadah tahunan. Ia adalah universitas kepemimpinan yang menghadirkan pelajaran tentang kesabaran dalam antrean, kedisiplinan dalam jadwal, toleransi dalam perbedaan, dan cinta dalam pelayanan. Dan dari tempat suci inilah, Khofifah membawa pulang bukan hanya kenangan, tetapi visi peradaban: bahwa manajemen, spiritualitas, dan kemanusiaan harus berjalan seiring.
Penutup: Haji sebagai Diplomasi Nurani dan Amanah Peradaban
Perjalanan Khofifah ke Tanah Suci bukan sekadar haji individual. Ia adalah ikhtiar kolektif, representasi dari kepemimpinan spiritual di tengah dunia Islam yang sering kali tercabik oleh konflik, ego sektarian, dan rivalitas geopolitik. Dalam lanskap global yang makin terfragmentasi, Khofifah hadir bukan membawa gelar, tetapi membawa jiwa kepemimpinan yang merangkul dan merawat.
Ia melangkah di pelataran Masjidil Haram tanpa keistimewaan, memilih berjalan kaki di tengah jemaah biasa, menyelami denyut umat, dan menghidupkan kembali semangat tawadhu’ pemimpin yang menyatu dengan rakyatnya. Dalam keheningan langkahnya, tersembunyi kekuatan yang menembus batas simbolik dan protokol diplomasi.
Khofifah membuktikan bahwa seorang pemimpin muslimah tidak harus bersuara keras untuk didengar dunia. Cukup dengan menyapa dengan mata jernih, berjalan bersama umat, dan menyampaikan pesan melalui diplomasi nurani—yang lebih dalam dari wacana politik, lebih luas dari batas negara, dan lebih luhur dari sekadar pencitraan kekuasaan.
Haji, dalam dimensi ini, tidak berhenti sebagai ritual tahunan. Ia menjelma menjadi panggilan sejarah, tempat di mana umat Islam dari segala penjuru dunia bertemu, dan kepemimpinan diuji bukan oleh orasi, tetapi oleh ketulusan hadir dan kekuatan mendengar.
Khofifah menjawab panggilan itu bukan dengan parade kehormatan, tetapi dengan langkah sunyi yang bertenaga. Ia membungkus ziarahnya dalam makna yang lebih besar: bahwa kepemimpinan yang berpijak pada kasih sayang, empati, dan pelayanan, adalah pondasi bagi bangunan peradaban Islam yang berkemajuan.
Dan di antara gema takbir yang menggema dari Mina ke Arafah, dari Ka’bah ke pelosok dunia, terselip jejak seorang perempuan pemimpin yang diam-diam mengukir sejarah—bukan demi pujian, tetapi demi amanah. Bukan demi popularitas, tapi demi ukhuwah umat.
Karena pada akhirnya, Haji adalah diplomasi nurani—dan Khofifah memaknainya sebagai amanah peradaban. Wallahu a’lamu Bisshawab.
*Dr H Romadlon, MM adalah Pemerhati Lingkungan dan Pemberdaya SDM Insan Kamila Nusantara.