
JOMBANG | duta.co – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Jombang akhirnya angkat bicara usai kasus Mohamad Arifin (34), penyandang disabilitas asal Desa Mojokrapak, Tembelang, viral dan memicu dugaan keterlantaran. Melalui asesmen lapangan yang dilakukan Kamis (27/11/2025), Dinsos menegaskan bahwa informasi yang beredar tidak sepenuhnya akurat.
Temuan itu diperoleh setelah Tim URC Dinsos turun bersama Pemdes Mojokrapak dan Pemdes Menganto. Dari hasil penelusuran, Arifin tercatat sebagai penerima aktif berbagai program perlindungan sosial, di antaranya Program Sembako, BLTS Kesra, serta PBI-N BPJS Kesehatan. Seluruh bantuan tersebut masih melekat pada Kartu Keluarga almarhum ibunya, Sjamsiyah, yang wafat pada April 2025.
Setelah ibunya meninggal, Arifin sempat hidup seorang diri di Mojokrapak. Pada September 2025, ia dijemput kakak iparnya dan dibawa ke Desa Menganto, Mojowarno. Perpindahan domisili inilah yang diduga memutus alur informasi, sehingga keluarga yang merawat tidak mengetahui bahwa bantuan atas nama Arifin masih berjalan.
Kondisi tersebut kemudian memunculkan anggapan di publik bahwa Arifin tidak pernah mendapat bantuan. Padahal, secara administratif Bansos masih aktif dan rutin dicairkan.
“Bantuan untuk keluarga Arifin sebenarnya sudah berjalan. Terjadi kurangnya komunikasi di pihak keluarga yang merawat, sehingga mereka mengira tidak menerima apa pun,” jelas Kepala Dinsos Jombang, Agung Hariadi.

Dinsos kini berkoordinasi dengan Pemdes Mojokrapak dan Pos Kecamatan Tembelang untuk memastikan hak-hak Arifin tidak terputus, termasuk penelusuran, Kartu Sembako, BLTS Kesra, Akses PBI-N (BPJS Kesehatan gratis). Dokumen administrasi lain yang melekat pada KK lama.
Keluarga juga telah mendapat pendampingan terkait tata cara penggantian kartu, bila dokumen lama hilang atau masih dipegang pihak lain. Lebih lanjut. Agung menegaskan bahwa narasi yang menyebut Arifin “tanpa bantuan selama bertahun-tahun” tidak sesuai fakta.
“Kami memastikan tidak ada warga miskin di Jombang yang dibiarkan tanpa perhatian. Setiap laporan kami tindak lanjuti. Kami imbau masyarakat agar memverifikasi informasi sebelum menyimpulkan kondisi tertentu,” tegasnya.
Kasus Arifin sebelumnya ramai di media sosial setelah kondisi kelumpuhannya menjadi perhatian publik. Selain Dinsos, tim medis RSUD Jombang juga telah turun langsung ke lokasi untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. (din)






































