BOJONEGORO | duta.co – Sepanjang bulan Januari hingga tanggal 17, sebanyak 112 kasus DBD masuk ke Dinas Kesehatan (Dinkes) Bojonegoro, dari 112 orang tersebut, 2 orang meninggal akibat terjangkit DBD.

Kepala Bidang (Kabid) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinkes Bojonegoro, dr. Wheny Dyah Prajanti mengatakan, sejak dari Bulan November 2021 lalu, DBD di Kabupaten Bojonegoro mengalami kenaikan trend hingga hari ini (17/1/2022).

“Hal itu, kemungkinan besar diakibatkan oleh faktor cuaca di Kabupaten Bojonegoro saat ini tengah mengalami intensitas hujan yang begitu tinggi beberapa bulan ini,” ungkap dr. Wheny, Senin (17/1/2022).

Salah satu penyebab timbulnya DBD yang disebabkan akibat gigitan nyamuk Aedes Aegypti pembawa virus dengue, adalah kondisi yang lembab serta banyaknya genangan air, sehingga menjadi sarang bagi nyamuk untuk berkembang biak.

“Nyamuk merupakan hewan dengan metamorfosis sempurna dari wujud jentik hingga jadi nyamuk dewasa, 1 nyamuk tersebut dapat bertelur hingga 100 butir telur, dan telur tersebut jika dalam genangan air, dalam jangka waktu 2 hari akan segera menetas,” lanjutnya.

Maka dari itu, dalam upaya menanggulangi wabah tersebut, warga dihimbau tetap melakukan Gertak Satu Satu, yaitu akronim atau gerakan serentak satu rumah satu Jumantik dengan kegiatan PSN (pemberantasan sarang nyamuk), pasalnya, jika hanya nyamuk dewasa saja yang dibasmi. Tetapi,dari ratusan bahkan ribuan butir telur yang akan berkembang biak secara cepat itu tidak kita bersihkan, maka akan tumbuh nyamuk yang juga menyebabkan terjangkit nya virus DBD.

Pihaknya juga telah menerjunkan kader Juru Pemantau Jentik (Jumantik) nyamuk di setiap desa untuk memberantas sarang jentik nyamuk, untuk kader Jumantik diharapkan memasyarakat di setiap keluarga, karena nyamuk DBD sangat membahayakan keselamatan jiwa, terutama bagi anak-anak.

“Kebanyakan warga itu salah persepsi, seperti jika ada salah satu tetangga yang terkena DBD, maka masyarakat ingin untuk di lakukan fogging atau pengasapan. Tetapi, hal itu salah, seharusnya jika kita ingin terhindar dari DBD, maka kita juga harus membersihkan lingkungan, agar jentik-jentik juga ikut hilang dan tidak ada kasus DBD lagi,” tegasnya.

Wheny berharap, agar masyarakat memiliki kesadaran tersendiri untuk selalu membersihkan lingkungan dan terutama tempat-tempat yang rawan dijadikan sarang bagi nyamuk untuk bertelur.

“kita harapkan masyarakat juga tetap melakukan gerakan PSN tadi dan semoga kasus DBD khususnya di Kabupaten Bojonegoro ini segera mengalami penurunan bahkan agar segera hilang,” pungkasnya. (abr)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry