Warga saat memperlihatkan retak rumah kepada awak media.

JOMBANG | duta.co — Hujan deras yang turun hampir setiap hari bukan lagi sekadar cerita cuaca bagi Sujiono (50), warga Dusun Penggaron, Desa Penggaron, Kecamatan Mojowarno, Kabupaten Jombang. Baginya, hujan telah menjadi pertanda bahaya. Dinding rumahnya retak. Tanah di bawah bangunan perlahan turun. Dan rasa aman, ikut menghilang.

Rumah sederhana yang telah ia tempati bertahun-tahun kini tak lagi kokoh. Retakan membelah tembok kamar. Lantainya miring. Setiap hujan deras turun, getaran terasa hingga ke dalam rumah.

“Kalau hujan deras rasanya rumah ikut bergerak. Retaknya makin hari makin besar. Sekarang saya tidur di ruang tamu, takut kalau kamar ambruk,” ujar Sujiono lirih, Sabtu (13/12/2025).

Kerusakan itu bukan datang tiba-tiba. Erosi tanggul Sungai Slumbung yang berada tepat di belakang permukiman warga telah berlangsung lama. Namun, intensitas hujan tinggi dan banjir beberapa pekan terakhir mempercepat pergerakan tanah. Akibatnya, rumah-rumah yang berdiri di bantaran sungai mulai menunjukkan kerusakan serius.

Data di lapangan mencatat, sedikitnya tujuh rumah terdampak. Sebagian mengalami retakan parah, sebagian lainnya terancam longsor susulan. Bahkan, satu keluarga terpaksa mengungsi karena kondisi bangunan dinilai tidak lagi aman.

Kepala Dusun Penggaron, Mahmud Nasution, menyebut kondisi tanggul sebenarnya sudah lama memprihatinkan. Namun, baru dalam dua bulan terakhir dampaknya terasa langsung ke rumah warga.

“Ini bukan kerusakan baru. Sudah bertahun-tahun tanggul tergerus. Tapi setelah hujan deras dan banjir, tanahnya melemah. Ada rumah dapurnya sudah miring karena tanahnya turun,” jelas Mahmud.

Menurutnya, retakan yang awalnya kecil kini melebar dengan cepat. Warga hidup dalam kecemasan, terutama saat hujan turun di malam hari.

“Dua minggu terakhir ini kondisinya makin parah. Makanya ada warga yang memilih mengungsi karena takut terjadi longsor susulan,” tambahnya.

Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jombang memastikan telah melakukan peninjauan langsung ke lokasi. Hasil asesmen menunjukkan kondisi tanggul dan rumah warga masuk kategori rawan.

Kepala Pelaksana BPBD Jombang melalui Supervisor Pusdalops, Stevy Maria, mengatakan terdapat empat hingga lima rumah yang berada dalam ancaman langsung.

“Beberapa tanggul terlihat menggantung. Retakan di dinding rumah warga juga sudah cukup serius. Kondisinya memburuk setelah banjir terakhir,” ungkap Stevy.

BPBD, kata dia, telah tiga kali melakukan asesmen dan menyampaikan laporan serta surat kepada instansi terkait agar segera dilakukan penanganan lintas sektor.

“Ini butuh penanganan bersama. Kalau dibiarkan, retakan bisa melebar dan berdampak ke permukiman lainnya,” tegasnya.

Di tengah cuaca yang belum bersahabat, warga Dusun Penggaron hanya bisa berharap ada langkah cepat dan nyata dari pemerintah. Bagi mereka, penguatan tanggul bukan sekadar proyek infrastruktur, tetapi soal keselamatan jiwa.

“Yang kami harapkan bukan hanya didata, tapi benar-benar diperbaiki. Jangan sampai nunggu ada korban dulu,” pungkas Sujiono pelan. (din)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry