Masjid Isfahan Iran, salah satu bukti kejayaan Dinasti Seljuk yang sampai saat in masih terpelihara.  
Masjid Isfahan Iran, salah satu bukti kejayaan Dinasti Seljuk yang sampai saat in masih terpelihara.

Perintis berdirinya Dinasti Seljuk adalah Seljuk Beg. Namun, yang berhasil mewujudkan berdirinya dinasti ini adalah Tugril Beg.  Dinasti Seljuk berdiri pada awal abad ke-11, tepatnya tahun 1063 Masehi.

Dinasti ini menjadi kekhalifahan Islam di abad ke-11-14 Masehi. Wilayahnya terbentang dari Anatolia hingga Punjab di India. Selama masa kekuasaan Dinasti Seljuk, umat Islam dapat hidup dalam kedamaian, keadilan, dan kemakmuran.

Awalnya, dinasti ini berasal dari sebuah suku yang menghuni wilayah Asia Tengah, yaitu suku Ghuz atau Oghuz. Namun, mereka kemudian melakukan pengembaraan hingga Arab barat, termasuk kawasan Timur Tengah. Karena keahlian dan kepiawaiannya, suku ini akhirnya mampu mendirikan sebuah dinasti tersendiri.

Dinasti Seljuk adalah sebuah pemerintahan yang bermaksud membangkitkan kembali kekhalifahan Islam yang nyaris tenggelam. Maka itu, usaha keras pun dilakukan demi tegaknya pemerintahan Islam.

Dinasti Seljuk mencapai puncak kejayaannya ketika menguasai negeri-negeri di kawasan Timur Tengah, seperti Irak, Persia, Suriah, serta Kirman. Sebagai negara yang sangat kuat, Dinasti Seljuk amat disegani.

Bukan hanya kekuatan militernya, melainkan juga sikap rakyatnya yang toleran dan menghargai perbedaan ras, agama, dan gender. Tak heran, bila bangunan tempat ibadah umat Nasrani dan Yahudi berdiri berdampingan dengan masjid pada masa itu.

Pada masa Dinasti Seljuk ini, umat Islam hidup dalam damai dan makmur. Geliat ilmu pengetahuan merambah hingga ke berbagai penjuru negeri. Dan, sejumlah ilmu Muslim lahir dari dinasti ini. Mulai dari ahli agama, pakar matematika, fisika, astronomi, kedokteran, sastra, dan lainnya.  Di antaranya adalah Abu Hamid Al-Ghazali dan Umar Khayyam.

Dalam bidang arsitektur juga demikian. Para arsitek dunia mencatat ada dua karya seni arsitektur yang paling unik warisan Dinasti Seljuk, yakni caravanserai (tempat singgah bagi para pendatang) serta madrasah. Selain kedua bangunan ini, dinasti ini juga mewarisi sejumlah bangunan masjid, menara masjid, dan mausoleum (makam yang indah dan megah).

Dinasti Saljuk tercatat sebagai dinasti yang sukses dalam membangun masyarakat ketika itu. Diantara kegiatan yang dilakukannya adalah: (1) memperluas Masjid al-Haram dan Masjid al-Nabawi, (2) Pembangunan rumah sakit di Naisafur, (3) Pembangunan gedung peneropong bintang dan, (4) Pembangunan sarana pendidikan. Pada zaman Alp Arselan dan Malik Syah terdapat seorang wazir yang sangat tekenal, yaitu Nizham al-Muluk.

Beliau adalah pemrakarsa berdirinya perguruan Nizhamiyah yang berpusat di Baghdad dan cabang-cabangnya di Balkh, Naisafur, Hirah, Isfahan, Basrah, Merv dan Mosul.

Di perguruan ini muncul sejumlah ulama besar, di antaranya: Imam al-Haramayn al-Juwaini, Imam al-Ghazali, Imam Fakhr al-Razi (ahli ilmu tafsir), Zamakhsyari (ahli ilmu tafsir), Imam al-Qusayiri (ahli ilmu tasawuf).

Salah satu pengikut Al-Asy’ari adalah Muhammad Ibn al-Thayyib Ibn Muhammad Abubakar al-Bagilani . Ia belajar kepada dua murid imam al-Asy’ari : Ibn Mujahid dan Abu al-Hasan al-Bahili. (wkp/mha)

 

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan