ALMARHUM: Budi Hartanto yang oleh pamannya disebut bukan pria sewajarnya. (istimewa)
DUKA: Suasana jelang pemakaman Budi Hartanto, gunu honorer yang juga pelatih tari. Budi dimakamkan tanpa kepalanya yang belum ditemukan. (istimewa)

KEDIRI – Hingga berita ini diturunkan, Kamis (4/4) malam, kasus pembunuhan sadis dialami Budi Hartanto (28) tenaga honorer di SDN Banjarmlati II Kecamatan Mojoroto Kota Kediri yang juga pelatih tari, belum ada titik terang. Informasi berkembang, telah tujuh saksi dimintai keterangan di Polres Kediri Kota dan dikabarkan korban dipenggal kepalanya tak jauh dari lokasi cafe miliknya di GOR Jayabaya.

Sejumlah orang tampak berduka atas kematian Budi. Bukan hanya kedua orang tuanya, Hamidah dan Darmaji, yang telah puluhan tahun keliling jualan susu, namun beberapa orang yang kenal baik dengan korban. “Saya jam 4 sore sempat disapa saat dia lewat naik motor Scopy yang baru dibeli belum ada seminggu,” jelas Nasuka Sogleng, paman korban.

SHOCK: Keluarga Budi Hartanto shock saat jenazah diberangkatkan ke pemakaman, Kamis (4/4) dinihari. (istimewa)

Pihak keluarga pun memastikan bahwa korban tidak merokok apalagi mengonsumsi minuman keras. Namun, memang diakui korban bukanlah laki-laki sewajarnya. “Memang teman-temannya banyak. Cuma gayanya kayak perempuan, tapi dia baik, tidak merokok atau konsumsi minuman keras. Dia baru beli motor baru, saat pergi dia bawa uang banyak katanya menuju ke GNI,” imbuh paman korban ditemui usai pemakaman.

ALMARHUM: Budi Hartanto yang oleh pamannya disebut bukan pria sewajarnya. (istimewa)

Memang usai dilakukan visum di RS Mardi Waluyo Blitar, jenazah korban ditemukan tanpa kepala dalam keadaan telanjang berada dalam koper di bawah Jembatan Desa Karanggondang, Kecamatan Udanawu, Kabupaten Blitar, langsung dimakamkan Kamis (4/4) dini hari tadi. Budi dimakamkan tanpa kepalanya yang hingga kini belum ditemukan. Polisi kini masih menggali info dari sejumlah teman korban dan keluarganya.

Didapat kabar salah satu teman korban turut dimintai keterangan polisi bernama Imam, akrab disapa Imel. Selain sama-sama penari, Imel bekerja di salah satu counter handphone di Kota Kediri. “Usai identitas korban diketahui, kemudian Imel dijemput polisi untuk dimintai keterangan. Hingga sekarang belum ada kabarnya,” jelas salah satu temannya bekerja di counter HP tersebut. nng

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.