Dita dan puji bersama keluarga. (FT/IST)

MAGETAN | duta.co — Teka-teki pemakaman Dita-Puji sekeluarga bomber 3 gereja di Surabaya, akhirnya terungkap. Setelah ayah kandung Dita menolak pemakaman ke-6 bomber di Kabupaten Banyuwangi, digeser menuju tempat Puji Kuswati diasuh dari usia 18 bulan hingga lulus SMA Negeri 2 Kabupaten Magetan.

“Saya mendapat informasi dari para aparat keamanan, bahwa jenazah ke-6 terduga teroris itu positif dimakamkan di sini (Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan). Infonya pagi ini (Jum’at, 18/8) sekitar pukul 09.00 akan diserahkan kepada perwakilan keluarga di Polda Jatim,” jelas Kades Krajan Mujiono, Jum’at (18/5) pagi.

Selanjutnya, sesuai permintaan perwakilan keluarga, ke-6 jenazah dibawa menuju Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan. Sebelumnya, perwakilan keluarga dari Jakarta mencoba menemui ayah kandung Puji Kuswati. Tapi, tidak membuahkan hasil atau tetap ditolak oleh ayah kandung Puji Kuswati.

“Saya pribadi tidak keberatan pemakaman di desa ini. Lalu, dukungan pun datang dari tokoh agama dan masyarakat, merasa tidak keberatan. Alasannya, ke-6 tetap Muslim, sesuai Fardlu Kifayah wajib memakamkan ke-6 jenazah. Dukungan pun datang sebagian besar masyarakat tidak merasa keberatan,” ujar Mujiono lagi.

Mujiono (FT/AGUS)

Ia menyatakan sudah siapkan lahan untuk pemakaman ke-6 jenazah itu di Tempat Pemakaman Umum (TPU) milik desa, rencana dibuat dalam satu liang lahat saja. “Jika dibuat 6 liang lahat, tenaga diperlukan banyak, kami kesulitan mencari tenaga untuk menggali 6 liang lahat,” tandas Mujiono.

Dilaporkan, Puji Kuswati sejak usia 18 bulan hingga tamat dari SMA  Negeri 2 Kabupaten Magetan diasuh sang paman Rijan (80) dan budhenya bernama Sukar  (Almarhum) .Dia tinggal di RT 8/ RW 2, Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan.

Rijan Stress

Kondisi Rijan masih dalam kondisi stress, begitu mengetahui Puji Kuswati bersama suami dan 4 anak melakukan aksi bunuh diri di 6 gereja di Kota Surabaya. Bisa jadi Mbah Rijan tidak menyangka Puji, suami dan 4 anaknya jadi bomber. Warga pun juga merasa kaget dan tidak menyangka seperti itu, sosok Puji Kuswati dulu dikenal kalem serta murah senyum m

“Sampai hari ini, Mbah Rijan enggan ditemui orang tidak kenal. Kondisinya lemah, Mbah Rijan hanya mau ditemui kerabat atau tetangga dekat. Saya bisa menemui dan memberikan semangat, agar Mbah Rijan tetap kuat. Mbah Rijan juga tidak menolak jenazah Puji Kuswati, suami dan 4 anaknya dimakamkan di Desa Krajan,” ujar Mujiono.

Sebelumnya, ke-6 orang melakukan bom diri di Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela di Jalan Ngagel Madya Utara, Gereja Pantekosta Pusat Surabaya (GPPS) Jalan Arjuna dan Gereja Kristen Indonesia Jalan Diponegoro, Minggu (13/5) sekitar pukul 07.30 laku

Keterangan dari Polda Jatim, Puji Kuswati melakukan bom bunuh diri bersama 2 anak perempuannya yaitu Fadhila dan Pamela Riskita, di GKI Diponegoro. Sementara, kedua anak laki-lakinya, Yusuf Fadil dan Firman Halim, meledakkan diri di Gereja Santa Maria Tak Bercela,, dengan mengendarai motor.

Sementara itu, Dita Upriyanto, sebagai kepala keluarga, melakukan bom bunuh diri di Gereja Pantekosta Pusat dengan mengendarai mobil. Mereka tewas seketika dalam aksi bom bunuh diri itu. (ags)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.