Lia Istifhama, keponakan Gubernur Khofifah yang namanya masuk bursa bakal calon Wali Kota Surabaya 2020. Foto : istimewa

SURABAYA | duta.co – Tensi politik di Kota Surabaya semakin memanas jelang pemilihan wali kota (Pilwali) Surabaya tahun 2020 mendatang. Sejumlah figur mulai bermunculan, bahkan beberapa diantaranya sudah turun ke bawah untuk menyapa masyarakat.

Persaingan diantara bakal calon pun semakin terlihat, terutama di tataran pendukung atau tim sukses. Mereka mulai saling sindir dan psywar di media sosial hingga negatif campaign di akar rumput.

Lia Istifhama salah satu kandidat bakal calon wali kota Surabaya mengaku sudah mengalami hal tersebut. Bakan perempuan berjilbab ini  mengaku pernah disindir sebagai bakal calon wali kota bondo nekat (modal nekat) alias bonek di media sosial.

“Saya disindir Cawali bonek atau bondo nekat. Saya ucapkan Alhamdulillah, tidak apa. Memang saya orang asli Surabaya. Wong Suroboyo memang memiliki semangat tinggi untuk berikhtiar. Pede aja, Bonek itu memang karakter khas Surabaya,” kelakar Lia saat dikonfirmasi, Jumat (6/9/2019).

Semifinalis Ning Surabaya tahun 2005 ini mengungkapkan, karakter nekat justru harus dimiliki untuk bisa running di Pilwali kota Surabaya. Ia mencontohkan persaingan dalam bidang usaha atau enterpreneur juga sangat ketat.

Sebab pengusaha sukses saat ini umumnya adalah generasi kedua hingga ketiga. Mereka meneruskan dan mengembangkan usaha orang tua atau kakeknya.

“Ibarat orang mau jadi pengusaha, masak iya, harus dari anak orang kaya yang bergelimang harta? Buktinya, banyak kan, wong Suroboyo yang sukses meski dari kalangan sederhana. Itu karena mereka punya karakter nekat dan tak minder, ” jelas Ketua III STAI Taruna, Surabaya tersebut.

Lebih jauh koordinator bidang Pengembangan Dakwah PW Fatayat NU Jatim ini menjelaskan bahwa dirinya memang lebih banyak bergerak menyapa grass root (akar rumput) daripada di tataran elit. Karena itu, tak heran sosoknya banyak dibicarakan di warung kopi yang merupakan tempat berinteraksi masyarakat bawah.

Alumni Unair dan UINSA Surabaya ini menambahkan, kalau fakta itu dirinya akhirnya dianggap sebagai calon Bonek, namun Lia tak mempersoalkan. Sebab sejatinya menyerap aspiras masyarakat itu harus dari bawah, sehingga benar-benar bisa memahami permasalahan yang dihadapi warga Surabaya.

Dari proses itulah ia bisa membuat konsep Nawa Tirta yang merupakan solusi permasalahan masyarakat Kota Surabaya.

“Saya ini memang muncul karena didorong dari bawah oleh elemen masyarakat dan kelompok relawan. Saya tidak muncul dari elit. Pendukung saya banyak dari kalangan bawah. Karena itu, poster saya pun banyak terdapat di warung-warung kopi. Itu simpatisan saya yang pasang dengan inisiatif sendiri dan swadaya,” pungkas keponakan Gubernur Khofifah ini. (ud)

Bagaimana Reaksi Anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry