
JOMBANG | duta.co – Gegap gempita konser Dialog Cinta Festival Vol. 3 di Lapangan Stadion Merdeka Jombang akhir pekan ini, rupanya tak sepenuhnya menghadirkan kegembiraan bagi semua pihak. Di balik sorak-sorai penonton yang akan menikmati deretan musisi ternama seperti Dewa 19, NDX AKA, Vierratale, hingga Hadad Alwi, ada raut muram dari para pedagang kaki lima (PKL) yang justru merasa dikorbankan.
Mereka tidak diperbolehkan berjualan selama dua hari, Sabtu–Minggu (19–20 Juli 2025), akibat kebijakan sterilisasi area oleh pihak penyelenggara dan aparat keamanan. Tujuannya memang demi kelancaran acara. Namun, bagi para PKL yang biasa menggantungkan hidup di sekitar stadion, larangan ini menjadi hantaman telak.
Kisah Neneng, penjual cilok yang sudah 11 tahun menggelar dagangannya di trotoar depan stadion, hanya bisa memandangi keramaian dari kejauhan. Tangannya menggenggam erat plastik berisi adonan cilok yang batal dijual.
“Tiap ada acara di stadion, mesti nggak boleh jualan di sini. Tapi kan pedagang semua kaki lima di sini itu harus makan, Mas,” ucapnya dengan nada getir.
Ia mengaku pernah diminta pindah ke area seberang lampu merah oleh petugas, tapi menurutnya lokasi itu tak menjanjikan pembeli.
“Di lampu merah percuma, kan sama aja. Sehari-hari saya di sini. Kalau disuruh libur saya mungkin manut, tapi setidaknya lah memikirkan masyarakat kecil,” ujarnya lirih.

Larangan tersebut berlaku tanpa adanya pemberian kompensasi. Kalaupun ada, hanya diberikan kepada pedagang pemilik kios resmi di taman stadion sekitar Rp250 ribu untuk dua hari. PKL seperti Neneng, yang berdagang di trotoar dan bahu jalan, tidak mendapat apa-apa.
“Namanya juga masyarakat kecil. Mudah-mudahan ada toleransinya. Kalau sekarang ya saya tetap manut, meski ya agak nggondok juga,” lanjutnya pasrah.
Keluhan serupa datang dari Agung (25), penjual tahu solet. Dua hari tak bisa jualan di akhir pekan membuat penghasilannya anjlok drastis.
“Kalau saya pribadi, dua hari tutup bisa rugi sampai satu setengah juta. Soalnya hari Sabtu dan Minggu itu rame-ramenya pas jualan,” kata Agung.
Ia menyebut sekitar 50 pedagang di sekitar stadion terdampak langsung oleh kebijakan ini. Yang diperbolehkan tetap buka hanyalah toko-toko milik pribadi di sisi barat stadion, yang letaknya menyatu dengan rumah warga.
“Setiap ada acara besar, pasti kami yang dilarang. Tapi tidak pernah ada solusi. Kami ini juga warga Jombang, Mas. Cuma pengen bisa jualan, ikut merasakan rezeki dari keramaian,” katanya.
Dari pantauan lapangan sejak Jumat pagi (18/7/25), sebagian besar area taman stadion telah ditutupi pagar pembatas, menciptakan zona steril dari pedagang. Toko-toko di barat stadion tampak tetap buka seperti biasa, seolah hiruk pikuk konser tak memengaruhi usaha mereka. (din)





































