SURABAYA | duta.co – Graha Museum Nahdlatul Ulama (NU) yang terletak di Kelurahan Menanggal, Kecamatan Gayungan, Kota Surabaya menjadi jujugan selain para santri, siswa dan mahasiswa perguruan tinggi, juga para pengamat.

“Kemarin (5/5/26) kami kedatangan warga Maroko. Ia melihat benda-benda peninggalan kiai, selain tentu, ingin memperdalam pemikian NU tentang kebangsaan. Kebetulan jalannya satu arah dengan Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya,” demikian dikisahkan Velia Rahmadhani, mahasiswi (magang di Museum NU) dari Fakultas Adab dan Humaniora (FAHUM) UIN Sunan Ampel Surabaya, kepada duta.co, Rabu (6/5/26).

Warga Maroko yang bernama Said S, itu sedang solo traveling, dan suka berkunjung di negara-negara muslim, salah satunya Indonesia. “Dia (Said) mengaku sedikit tahu tentang NU. Pun berbahasa Indonesia sedikit-sedikit. Dia sangat tertarik dengan koleksi Alquran raksasa dan kitab-kitab klasik tulisan tangan Kiai NU,” tegasnya.

Di akhir kunjungan, dia mengungkapkan bahwa dia menulis sebuah buku tentang Alquran dan terjemahannya dalam bahasa Inggris dan juga mencari seseorang untuk menerjemahkannya dalam bahasa Indonesia agar bisa diedarkan di Indonesia. “Banyak sekali penulis-penulis Islam yang bisa diajak kerjasama, yang tertarik ada kontaknya,” jelas Velia.

Islam Rahmatan Lilalamin

Arus utama NU, mainstream pemahaman keagamaan NU adalah mengedepankan toleransi, moderasi. Karena itu, teman-teman nonmuslim juga menganggap ini rumah sendiri. Sejarah perjuangan kiai-kiai NU tidak hanya terpatri kuat di buku ajar sekolah. Dengan begitu, generasi muda bangsa ini, bisa membaca dengan benar, tentang pentingnya membangun toleransi, keberagaman serta memperkuat persatusan dan kesatuan bangsa sebagaimana dicontohkan masyayikh NU.

Misalnya, kita tahu, bagaimana para kiai terlibat aktif dalam mempertahankan keberadaan makam Rasulullah SAW di Madinah yang hendak diberangus oleh paham Wahabi yang saat itu menjadi arus utama Kerajaan Arab Saudi. Mbah Hasyim (almaghfurlah KH Hasyim Asy’ari red) muassis NU, mengirim utusan yang dipimpin Mbah Wahab (almaghfurlah Abdul Wahab Chasbullah) yang dikenal dengan sebutan Komite Hijaz. Anda bisa baca teks surat Raja Saud yang kemudian menerima aliran 4 mazhab untuk berhaji dan berumroh di haromain (Makkah-Madinah). Sekarang kebijakan itu dinikmati dunia Islam, bukan cuma Indonesia.

Dan, sejarah perjuangan kiai-kiai NU memang sempat terpinggirkan. Sekarang harus kita luruskan. Terlebih cita-cita kemerdeakaan RI, harus bisa dirasakan seluruh anak bangsa. Istilah PBNU, tidak cukup hanya gelar pahlawan, tetapi perlu mewujudkan cita-cita kemerdekaan, baik soal pendidikan, kesehatan, ekonomi, hukum, sehingga wong cilik benar-benar terlindungi.

Para mahasiswa, seperti Velia Rahmadhani dari UINSA Surabaya, menganggap keberadaan Museum NU ini sangat penting. “Museum itu kayak draft skripsi. Ia bisa jadi berdebu, membosankan, barang-barangnya kuno, tidak update. Tetapi kalau diteliti isinya penuh perjuangan yang berdarah-darah. Dan diam, mungkin saja kita tidak sanggup menjalankannya,” pungkasnya. (mky)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry