MINTA RESTU: Ahok (baju kotak-kotak) saat mengunjungi pimpinan Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, Cipinang, Jakarta Timur, KH Nuril Arifin atau Gus Nuril (dua kanan), Senin (9/1/2017) kemarin. (ist)
MINTA RESTU: Ahok (baju kotak-kotak) saat mengunjungi pimpinan Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, Cipinang, Jakarta Timur, KH Nuril Arifin atau Gus Nuril (dua kanan), Senin (9/1/2017) kemarin. (ist)

JAKARTA | Duta.co – Calon gubernur petahana DKI Jakarta Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama meminta restu pimpinan Pondok Pesantren Soko Tunggal di Cipinang, Jakarta Timur, KH Nurul Arifin Husein (Gus Nuril). Gus Nuril mengatakan, mungkin dia tidak memilih Ahok dalam Pilgub DKI 2017. Namun dia berjanji akan memperjuangkan Ahok untuk mendapatkan hak-haknya agar dipilih.

Gus Nuril adalah salah satu ulama Nahdlatul Ulama (NU) yang memiliki kedekatan dengan almarhum KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), presiden ke-4 RI yang ia bela saat parlemen hendak melengserkannya pada 2001 lalu.

Ahok mengatakan, restu Kiai Nuril ia butuhkan karena masanya memimpin Jakarta bersama wakilnya, Djarot Saiful Hidayat, sejak November 2014, belum cukup. Seperti sebelum-sebelumnya saat momen kampanye, Ahok beralasan butuh periode kepemimpinan tambahan untuk mewujudkan Jakarta lebih baik lagi.

“Perjuangan saya sama Pak Djarot kan belum selesai nih buat Jakarta. Tanggung ini. Makanya kami minta izin, supaya kami terpilih menyelesaikannya,” ujar Ahok di Pondok Pesantren Abdurrahman Wahid Soko Tunggal, Cipinang, Pulo Gadung, Jakarta Timur, Senin (9/1).

Ahok memilih Kiai Nuril untuk dimintai restunya karena dinilai menggelorakan semangat Gus Dur. Semangat itu adalah toleransi. Salah satunya, mengizinkan siapa pun menjadi pemimpin tanpa memandang latar belakang suku dan agamanya. Seperti diketahui, Ahok merupakan keturunan Tionghoa serta beragama Kristen Protestan. Keduanya, bukan latar belakang mayoritas rakyat Indonesia.

Ahok juga meminta didoakan Kiai Nuril berkaitan dengan statusnya saat ini sebagai terdakwa penistaan agama. Menurut Ahok, takdir Tuhan memang akan menentukan apakah status terdakwa itu akan berlanjut menjadi status terpidana yang membuatnya ditahan di penjara.

Namun, Ahok menekankan, pihak yang menjadi penentu nasibnya adalah majelis hakim, jaksa penuntut umum, serta penasihat hukumnya. Mereka pihak yang berperan langsung dalam proses pengadilan dirinya.

Menurut Ahok, doa dari Kiai Nuril bisa membuat pihak-pihak itu menjalankan proses pengadilan sebaik-baiknya. Dengan demikian, Ahok mengatakan, proses itu bisa membuktikan dirinya tidak bersalah menista agama, sesuai keyakinannya. “Ini doa yang penting. Saya harap ini (proses pengadilan) bisa segera selesai,” ujar Ahok.

 

Beri Dukungan Moril

Gus Nuril sendiri menyatakan memberikan dukungan moril kepada Ahok. Gus Nuril mengatakan dukungan tersebut merupakan bentuk lanjutan perjuangan dari ulama NU terdahulu, Gus Dur, yang pernah membela Ahok.

“Barang kali saya tidak milih Mas Ahok nanti. Tapi saya tetap memperjuangkan hak Mas Ahok sebagai warga bangsa Indonesia untuk dipilih,” kata Gus Nuril kepada Ahok di pesantrennya, kemarin. “Ini (Ahok) sahabat Gus Dur yang dulu didukung (Gus Dur),” lanjut dia.

Gus Nuril juga menyentil adanya fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) soal pidato Ahok di Kepulauan Seribu yang dianggap menistakan agama. Apalagi ada sebuah gerakan yang mengatasnamakan pengawal fatwa MUI tersebut. Gus Nuril menganggap hal itu sebagai sebuah kekeliruan. Sebab, efeknya bisa memecah-belah bangsa.

“Ini kolaborasi orang-orang sakit hati. Mau ada upaya menjatuhkan Pak Jokowi lewat Sampeyan (kamu-Ahok). Maaf saya harus ngomong seperti ini,” kata Gus Nuril kepada Ahok.

Ahok sendiri tak mau komentar soal pernyataan Gus Nuril. “Sekarang saya sudah pakai selotip ajaib kok beli di Glodok,” sahut Ahok sambil bercanda. Ahok memang mengendalikan diri dalam berbicara setelah terjerat kasus dugaan penistaan agama.

Kedatangan Ahok ke Ponpes tersebut, dianggap Gus Nuril, sebagai bentuk upaya Ahok menolak stigma kepadanya. Gus Nuril juga menyebut Ahok sebagai sosok yang mau mendengarkan masukan dari orang-orang yang dulu begitu dekat dengan Gus Dur.

“Panjenengan (kamu-Ahok) menghilangkan stigma tidak menghargai ulama. Sampeyan (kamu) juga bisa mendengarkan sahabat-sahabat dulunya yang dulu ada di ring 1 Gus Dur,” ujar Gus Nuril. “Hadapi semua persoalan. Karena kalau Sampeyan enggak ngomong keras gitu, banyak ormas yang enggak ada kerjaan,” candanya.

Ahok, yang mendengar candaan tersebut, lebih memilih tidak banyak berkomentar. Dia sambil bercanda mengatakan takut dilaporkan ke Bareskrim Polri lagi. “Saya nggak mau banyak omong ah, nanti dilaporan lagi,” kelakar Ahok. ful, hud  

BAGIKAN

Tinggalkan Balasan