Gus A'am Wahib, Ketua BKSN dan gambar Koran Tempo. (FT/IST)

SURABAYA | duta.co – Kontroversi kata ‘dajjal’ Kiai Ma’ruf Amin terus menggelinding. Bahkan diksi yang kerap dilontarkan Ma’ruf Amin sejak menjadi Cawapres dinilai bisa memudarkan kharismanya sebagai seorang kiai. Terbaru, Kiai Ma’ruf melontarkan diksi dajjal.

“Ini (diksi) cukup kasar dan galak. Saya justru khawatir jangan-jangan kiai memang sengaja dipoles jadi galak. Belakangan kalimat beliau sering keluar dari tradisi teks kiai,” jelas H Agus Solachul A’am Wahib (Gus A’am Wahib), Ketua Barisan Kiai dan Santri Nahdliyin (BKSN) kepada duta.co, Minggu (14/1/2019).

Kiai Ma’ruf Amin menyampaikan kata dajjal itu saat menghadiri zikir bersama para kiai dan santri se-Kota Depok di Masjid Muhammad Yusuf, Depok, Jawa Babrat. Dia mengatakan selain tsunami air, Indonesia saat ini sedang mengalami tsunami hoax yang disebar pembohong. Kiai Ma’ruf menyebut pembohong sama dengan dajjal.

Sama dengan kekhawatiran Gus A’am Wahib, Presidium Persatuan Pergerakan, Andrianto juga melihat aneh atau tidak biasanya Kiai Ma’ruf seperti itu. “Ya cukup kasar,” katanya kepada rmol, Sabtu (12/1).

Adrianto kemudian mengingatkan Kiai Ma’ruf yang pernah menyebutkan mobil Esemka bakal diluncurkan pada Oktober 2018. Ucapan Kiai Ma’ruf ini juga tidak terbukti. Bahkan hingga tahun berganti produksi mobil Esemka belum ada. Ini kebohongan besar, karena yang dibohongi seluruh masyarakat Indonesia. Apakah ini juga dajjal?

Adrianto minta agar menjaga nilai-nilai luhur yang mesti dimiliki seorang kiai, dan ini tetap harus dipelihara. Diakui aktivis mahasiswa 1998 itu, pernyataan disampaikan Kiai Ma’ruf dalam posisinya sebagai cawapres. Namun sejatinya menurut dia, karisma seorang kiiai atau pemuka Agama Islam tetap saja tak boleh dihilangkan. Politik tidak boleh mengalahkan moral.

“Memang harusnya Kiai Ma’ruf lebih aware sebagai cawapres. Tapi janganlah karena ambisi kekuasaan, nilai-nilai luhur kiai jadi pudar,” pungkasnya.

Sementara analis politik Universitas Mercu Buana (UMB) Bayu Santoso menyikapi diksi dajjal yang dipakai Kiai Ma’ruf untuk menyamakan pembuat dan penyebar informasi bohong (hoax) dengan tsunami.

“Lava tersebut disinyalir berasal dari gempa kepanikan yang menghantam kubu petahana. Statement Kiai Ma’ruf baru-baru ini di Depok pertanda puncak kegelisahan yang amat mendalam,” ujarnya.

Bayu berpandangan, bila dicermati dari perspektif semiotika politik, ucapan adalah bukan cuma soal teks namun juga tanda di mana ada makna yang tidak teraba tapi terasa. Selain itu, jika dilihat dari sisi komunikasi pemasaran, sepertinya Kiai Ma’ruf tidak mengenal pasarnya sendiri.

“Dia menjual statement yang tidak dibutuhkan pasarnya sendiri alias dia tidak tahu produk apa yang akan dijual ke pasarnya,” paparnya.

Apalagi, kalau istilah dajjal itu ditujukan kepada pembohong. Sementara masyarakat tahu siapa yang ahli berbohong, bukankah janji-janji pemerintah yang selama ini disampaikan lebih banyak bohong? Kalau dikaitkan dengan pernyataan Kiai Ma’ruf soal mobil Esemka yang katanya diproduksi besar-besaran Oktober 2018, apakah juga termasuk bohong? Apakah juga tergolong dajjal? Waallahu’alam, senjata memang bisa ‘makan tuan’. (rmol,mky)

Tinggalkan Balasan

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.