Direktur Utama Bluebird, Adrianto (Andre) Djokosoetono saat peluncuran lifecare taksi (dok/duta.co)

SURABAYA | duta.co – Persaingan antara taksi konvensional dan ojek online (ojol) cukup ketat dan berdampak signifikan pada kedua pihak. Hadirnya Ojol seperti GoCar dan GrabCar langsung menghantam eksistensi taksi konvensional yang selama ini menjadi andalan masyarakat yang tidak memiliki mobil namun bisa menggunakan mobil untuk mobilitas jarak pendek ataupun panjang.

Puluhan perusahaan taksi konvensional yang gulung tikar, kalaupun masih beroperasi sangat berat bersaing dengan taksi online yang kian gencar menawarkan tariff lebih murah dan cepat memanfaatkan teknologi. Di Kota Surabaya masih cukup banyak perusahaan taksi konvensional yang bertahan. Diantaranya  Blue Bird Taksi, Taksi Chrisna, Taksi Citra, Taksi Express, Taksi Garuda, Taksi Gold, Taksi Mandala, Taksi Merpati, Taksi Metro dan Taksi O-Renz.

Namun sebagian besar taksi konvensional yang masih bertahan, mulai terpinggirkan karena keterbatasan armada, minimnya penggunaan teknologi dan layanan yang tidak memuaskan. Kebanyakan taksi konvensional tersebut beroperasi di pinggiran kota, di terminal ataupun stasiun dengan sistim tawar bukan menggunakan sistim argometer.

Hanya taxi Blue Bird, deretan taksi konvensional yang tetap bisa bisa bertahan dengan inovasi armada, peningkatan layanan dan adaptasi dengan teknologi layaknya taksi online. Armada Blue Bird kini hampir semua baru, tidak ada lagi jenis sedan, diganti semua dengan ukuran mobil ukuran besar. Sehingga penumpang yang membawa barang besar tidak repot lagi memilih jenis armada yang dipilih lewat aplikasi.

Untuk pesan blue bird, kalau lima tahun lalu masih ada yang nyetop armada blue bird yang sedang lewat, kini hampir semuanya menggunakan aplikasi yang langsung via Mybluebird ataupun lewat Gojek.  Kolaborasi dengan gojek solusi jitu yang dilakukan Blue Bird antisipasi beralihya penumpang ke taksi online. Kolaborasi tersebut kenyataannya mampu meningkatkan kinerja Blue Bird yang sempat berdarah-darah, pelan namun pasti kini bisa berdiri tegak untuk bersaing dengan kinerja keuangan bagus.

Taksi Konvensional  Vs Taksi Online, Blue Bird jadi Pemenang

Mochammad Machlul Alamin, S.Kom., M.Kom. Kaprodi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA (dok/duta.co)

Mochammad Machlul Alamin, S.Kom., M.Kom. Kaprodi Teknik Informatika Fakultas Ilmu Komputer UNUSIDA (Universitas Nahdlatul Ulama Sidoarjo) mengatakan penyebab utama gulung tikarnya taxi konvensional  gagap teknologi dengan hadirnya taksi online yang memanafaatkan penuh teknologi. Untuk itu taksi konvensional perlu melakukan penyesuaian terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pelanggan.

“Inovasi dapat dilakukan melalui pengembangan sistem pemesanan berbasis aplikasi, penyesuaian tarif agar lebih kompetitif, serta peningkatan kualitas layanan agar lebih cepat, aman, dan nyaman.

Kemitraan dengan penyedia layanan digital juga menjadi langkah strategis untuk tetap relevan di tengah persaingan industri transportasi.”

Tidak ada pilihan lain perusahaan transportasi seperti Blue bird perlu terus memperkuat daya saing melalui digitalisasi layanan, penyediaan aplikasi pemesanan yang praktis, dan penawaran promosi yang menarik. Keunggulan dalam hal kenyamanan, keamanan, dan profesionalisme pengemudi harus terus dipertahankan.

“Penambahan jenis layanan, seperti transportasi khusus bandara, kendaraan ramah lingkungan, dan jasa pengantaran barang, dapat menjadi nilai tambah dalam menghadapi kompetitor berbasis digital.”

Keberhasilan Bluebird jelas Mochammad Machlul Alamin ditopang oleh reputasi yang telah dibangun selama puluhan tahun serta konsistensi dalam menjaga mutu layanan. Pengemudi yang terlatih, kendaraan yang terawat, dan sistem operasional yang profesional menjadikan Bluebird tetap dipercaya oleh masyarakat.

“Adaptasi terhadap kemajuan teknologi, termasuk peluncuran aplikasi resmi dan integrasi sistem digital, turut memperkuat posisi Bluebird di tengah dinamika industri transportasi. Brand blue bird juga sangat kuat sebagai taksi legenda yang bertahan dengan inovasi dan adaptasi cepat dengan teknologi yang ada saat ini.”

Salah satu kelemahan taxi online yakni tingginya tindak criminal. Kenapa bisa terjadi  karena dalam layanan transportasi online lemahnya sistem verifikasi dan pengawasan terhadap pengemudi maupun penumpang. Kurangnya kontrol langsung dari penyedia platform serta pemesanan yang bersifat daring sering kali membuka peluang kejahatan, terutama di lokasi sepi, penumpang sendirian atau waktu malam hari.

“Apa yang dilakukan blue bird kolaborasi dan adaptasi dengan teknologi menjadi solusi tepat bertahan dari gempuran taxi online bahkan bisa mengembalikan pamor sebagai solusi transportasi yang bisa diandalkan.”

Pilih Blue Bird Karena Kenyamanan dan Keamanan Terjaga


Driver bluebird melayani penumpang dengan ramah sesuai protap yang berlaku. (dok/duta.co)

Tidak sedikit penumpang taksi konvensional beralih ke taksi online karena alasan tariff lebih murah dan lebih cepat. Namun masih banyak penumpang setia taksi konvensional yang tetap loyal karena faktor keamanan yang lebih terjamin dibandingkan menggunakan taksi konvensional. Apalagi di banyak berita, sering terjadinya pelecehan sexual, perampokan dan tindak kriminal yang terjadi di taksi konvensional.

Berikut pengalaman Indra Rosyidah, ibu rumah tangga yang berdomisili di Babatan Wiyung kala harus memilih antara taksi konvensional atau taxi online. Indra Rosyidah menceritakan malam itu sekitar tanggal 19 Oktober 2021 harus mendampingi suami yang sedang menjalani proses pengobatan atas sakitnya di RSAL Surabaya.

“Tahap demi tahap pemeriksaan harus saya hadapi dengan hati berdebar karena menanti hasil pemeriksaan. Hingga kemudian pas dini hari dipanggil tim dokter yang memeriksa bahwa suami harus masuk ruang isolasi karena hasil test covid-19 reaktif.”

Karena hasil lab reaktif jelas Indra suami harus ditinggalkan tanpa penunggu dari pihak keluarga sekalipun. Setelah kaget atas keputusan bahwa suami harus masuk ruang isolasi RSAL, saya harus menghadapi kekagetan kedua karena diharuskan pulang ke rumah meninggalkan suami yang masuk ruang isolasi.

“Mungkin ini tidak menjadi masalah untuk orang lain yang mempunyai kemampuan  mobilitas mandiri. Artinya bisa kemana-mana sendiri. Sedangkan saya naik motor tidak bisa, naik mobil apalagi. Sehingga saya mengalami kebingungan bagaimana cara pulang ke rumah dalam kondisi tenang dan aman karena saat itu menunjukkan pukul dua dini hari. Sampai akhirnya saya dan suami memutuskan yang paling aman adalah memesan blue bird. “

Kenapa harus blue bird jelas Indra Rosyidah beralasan selama ini sudah menjadi pelaanggaan setia blue bird kalau jalan-jalan di dalam kota atauapun luar kota. Bahkan pernah saat mau lahiran anak ketiga sekitar 15 tahun lalu, karena waktu antri bus di terminal Bungurasih padat banget pas musim liburan jelang lebaran akhirnya memilih menggunakan blue bird untuk ke Malang.

“Dengan bekal pengalaman mengesankan dan tidak ada pengalaman tidak mengenakkan, akhirnya malam itu sepakat memesan blue bird. Meski tidak ingin terjadi apa-apa, protap yang dilakukan blue bird terhadap semua driver sesuai standar dan bila ada apa-apa bisa lansung telpon call center.” Jelasnya.

Guna memastikan layanan blue bird sama di berbagai kota, penulis sengaja beberapa kali menggunakan blue bird di kota Surabaya dan Jakarta empat hari lalu. Kalau di kota Surabaya kalau mau ke luar jalan-jalan pasti menggunakan blue bird, termasuk ketika proses pengobatan fisioterapi sehabis operasi di RSAL, rutin menjadi pelanggan blue bird.

“Saking seringnya gunakan blue bird, beberapa kali pesan blue bird via aplikasi blue bird ataupun gojek mendapatkan sopir yang sama. Sehingga langsung mengenali tujuan rute tetap Babatan-RSAL pp. Untuk tariff, tidak masalah karena selisihnya tidak banyak, yang lebih utama faktor kenyamanan dan keamanaan.”

Penulis sempat mencoba taksi online untuk bepergian di dalam kota Surabaya, pernah mengalami kesan tidak nyaman dengan driver. Tidak komunikatif dan gedumel karena sejumlah alasan yang bikin penumpaang tidak nyaman. Belum lagi kalau bawa barang banyak, dipastikan melayaninya tidak sepenuh hati. Meski tidak semua driver taksi online tidak baik, tidak adanya standar protap layanan kepada konsumen, lebih prefer menggunakan blue bird untuk dalam kota atapun luar kota.

“Pengalaman dua kali menggunakan blue bird dari Bintaro-Depok, layananya sama sangat mengesankan. Waktu itu saya pesan menggunakan aplikasi, dapatnya armada juga cepat tidak sampai lima menit dan pembayaran juga mudah bisa menggunakan non tunai Qris. Dengan layanan yang terus ditingkatkan, armada baru, blue bird layak bersaing dan tetap menjadi legenda taksi yang adaptif dan memenangi persaingan.”

Kinerja Keuangan Solid dan Konsisten, 53 Tetap Bisa Diandalkan   

Direktur Utama Bluebird, Adrianto (Andre) Djokosoetono melihat proses perawatan taksi bluebird (dok/duta.co)

Blue Bird berkomitmen terus meningkatkan kualitas layanan dan dapat diandalkan setiap waktu bagi penumpangnya. Standar layanan yang aman dan nyaman terus dibangun dengan mendengarkan pelanggan secara aktif dan terus beradaptasi sebagai bentuk tanggung jawab Bluebird menghadirkan pengalaman mobilitas yang bermakna.

“53 tahun merupakan perjalanan panjang yang penuh dinamika, pembelajaran, dan transformasi. Kami memahami kepercayaan pelanggan hanya bisa dijaga lewat konsistensi dan komitmen untuk terus bertanggung jawab terhadap layanan yang diberikan. Bagi kami, menjadi andal adalah tentang kesungguhan untuk terus berbenah dan tetap relevan dengan kebutuhan pelanggan,” ujar Adrianto (Andre) Djokosoetono, Direktur Utama PT Blue Bird Tbk dikutip dalam laman bluebird.

Sejak dimulai pada 1972 dengan dua unit Holden Torana, Bluebird terus berkembang dan kini mengoperasikan lebih dari 25.000 armada di 20 kota di Indonesia. Pencapaian ini menjadi bukti nyata Bluebird dalam menjaga kualitas dan meningkatkan relevansi melalui inovasi dan respons terhadap kebutuhan masyarakat.

Melalui kampanye #53laluDiandelin, Bluebird terus memperkuat layanan dengan semangat tanggung jawab kepada pelanggan dan lingkungan melalui pelatihan pengemudi yang lebih intensif, sistem keselamatan yang ditingkatkan, dan pengembangan armada yang lebih ramah lingkungan. Ini adalah langkah nyata untuk menjawab harapan pelanggan akan pelayanan prima dan tantangan mobilitas masa depan.

Seperti dikatakan Direktur Utama Bluebird, Adrianto (Andre) Djokosoetono, menyampaikan bahwa tahun 2024 menandai tahun ketiga berturut-turut Bluebird mencatatkan pertumbuhan pendapatan dan laba bersih dua digit.

“Pencapaian ini menunjukkan ketahanan dan adaptasi Bluebird dalam menjawab tantangan industri dan kebutuhan pelanggan yang terus berkembang. Dengan berfokus pada efisiensi, kualitas layanan, dan keberlanjutan, kami optimis untuk terus bertumbuh dan menciptakan nilai jangka panjang,” ujar Andre.

Pada tahun 2024, Perseroan mencatat Pendapatan Bersih sebesar Rp5 triliun, tumbuh 14% dibandingkan tahun sebelumnya. Laba bersih tercatat sebesar lebih dari Rp593 miliar, naik 28% dari tahun 2023, sementara EBITDA naik menjadi lebih dari Rp1,2 triliun atau meningkat 9% secara tahunan.

Peningkatan kinerja ini juga didukung oleh langkah ekspansi dan optimalisasi operasional yang konsisten dijalankan Perseroan. Di akhir 2024, total armada Bluebird tercatat sekitar 24.200 tersebar di 20 kota, meningkat sekitar 1.200 unit dibandingkan tahun sebelumnya.

Sepanjang 2024, Bluebird terus memperkuat strategi transformasi berbasis 3M: multi-product, multi-channel, dan multi-payment. Di antaranya melalui  peluncuran Cititrans Busline untuk mobilitas premium antarkota serta perluasan layanan Bus Rapid Transit (BRT) di Nusantara dan Medan.

Peluncuran MyBluebird Subscription Plan dan layanan Hourly Charter untuk memenuhi kebutuhan pelanggan korporat dan individu. Integrasi pemesanan melalui aplikasi MyBluebird, WhatsApp, dan mitra ride-hailing, serta kemudahan pembayaran lewat berbagai metode nontunai.

Di sisi teknologi, Perseroan terus mengembangkan sistem AI Mapping dan IoT guna meningkatkan efektivitas pengelolaan armada, mempercepat waktu respon, serta mendorong efisiensi bahan bakar dan operasional. Sepanjang 2024, Bluebird juga meluncurkan fitur point-to-point untuk Goldenbird dan menyempurnakan program loyalitas pelanggan melalui sistem poin terbaru.

Sebagai bagian dari visinya dalam menciptakan transportasi berkelanjutan, Bluebird menjalankan program keberlanjutan berbasis tiga pilar: BlueSky, BlueLife, dan BlueCorps. BlueSky: Bluebird telah mengoperasikan sekitar 337 unit kendaraan listrik dan memperluas infrastruktur pendukung seperti SPKLU di Bali. Target pengurangan emisi karbon hingga 50% pada 2030 terus dikejar melalui kombinasi armada listrik, CNG, dan optimasi rute.

BlueLife: Sepanjang 2024, alokasi dana sekitar Rp8,5 miliar disalurkan untuk program sosial seperti Beasiswa Bluebird Peduli, Kartini Bluebird, dan Wellness Ride bagi komunitas disabilitas.

BlueCorps: Penguatan tata kelola dengan penerapan ISO 27001:2022 dan penghargaan nasional yang diraih untuk kategori keberlanjutan dan keterbukaan informasi. Imam ghozali

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry