Pelaksanaan malam peringatan Nuzulul Quran di Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Simo, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten, Selasa (10/3/2026).

LAMONGAN | duta.co – Banjir tidak menjadi penghalang bagi keluarga besar Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Simo, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan untuk menggelar kegiatan keagamaan. Terbukti, meski wilayah sekitar pondok tengah dikepung banjir, acara peringatan malam Nuzulul Qur’an di ponpes tersebut tetap berlangsung meriah dan penuh khidmat, Selasa (10/3/2026).

Genangan air yang mengepung sebagian wilayah di sekitar pondok tidak menyurutkan langkah para santri untuk menghadiri kegiatan tersebut. Ratusan santri tetap hadir mengikuti rangkaian acara meski kondisi lingkungan tidak sepenuhnya normal.

Kegiatan yang bertepatan dengan malam 21 Ramadan 1447 Hijriah itu pun berlangsung dengan penuh kekhusyukan.

Sejak awal acara dimulai, suasana religius sudah terasa di lingkungan pesantren. Para santri dengan tertib memadati aula pesantren untuk mengikuti rangkaian kegiatan. Mereka duduk rapi sembari menyimak setiap rangkaian acara yang digelar.

Acara yang berlangsung di aula pesantren tersebut diisi dengan berbagai kegiatan keagamaan, mulai dari pembacaan ayat suci Al-Qur’an, tausiyah keagamaan, hingga doa bersama. Lantunan ayat-ayat Al-Qur’an yang dibacakan para santri semakin menambah suasana khidmat dalam peringatan malam turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW tersebut.

KH Bi’in Abdussalam saat memberi tausiyah pada malam peringatan Nuzulul Quran di Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar Simo, Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten, Selasa (10/3/2026).

Para santri tampak mengikuti kegiatan dengan penuh semangat dan ketertiban. Meski di luar lingkungan pesantren sebagian wilayah masih tergenang air, hal itu tidak mengurangi kekhusyukan para santri dalam mengikuti kegiatan.

Salah satu penggerak kegiatan pesantren, Syaifulloh Abid atau yang akrab disapa Gus Abid, mengatakan bahwa kondisi banjir yang melanda wilayah sekitar tidak menyurutkan semangat para santri untuk memperingati Nuzulul Qur’an.

“Walaupun kondisi sekitar sedang dilanda banjir, para santri tetap antusias mengikuti kegiatan. Ini menunjukkan kecintaan mereka terhadap Al-Qur’an dan semangat dalam menuntut ilmu,” ujar Gus Abid.

Menurutnya, semangat kebersamaan yang dibangun di lingkungan pesantren menjadi salah satu faktor yang membuat kegiatan tetap berjalan lancar meski di tengah kondisi alam yang kurang bersahabat. Nilai-nilai kebersamaan dan kekeluargaan di kalangan santri juga menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi berbagai situasi.

Gus Abid juga menambahkan bahwa momentum Nuzulul Qur’an menjadi pengingat penting bagi para santri untuk semakin mendekatkan diri kepada Al-Qur’an, baik melalui membaca, mempelajari, maupun mengamalkan ajarannya dalam kehidupan sehari-hari.

Peringatan Nuzulul Qur’an tersebut juga menghadirkan penceramah KH Bi’in Abdussalam yang menyampaikan pentingnya menjadikan Al-Qur’an sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam tausiyahnya, KH Bi’in Abdussalam menekankan bahwa peringatan Nuzulul Qur’an bukan hanya sekadar mengenang sejarah turunnya wahyu, tetapi juga menjadi momentum untuk memperkuat keimanan serta meningkatkan kecintaan umat Islam terhadap Al-Qur’an.

“Al-Qur’an harus menjadi pedoman dalam setiap langkah kehidupan. Ketika kita diuji dengan berbagai keadaan, termasuk musibah seperti banjir, justru saat itulah kita semakin membutuhkan petunjuk dari Al-Qur’an,” pesannya di hadapan para santri.

Ia juga mengajak para santri untuk terus menjaga semangat belajar dan memperdalam pemahaman terhadap Al-Qur’an sebagai bekal menjalani kehidupan di masa depan.

Peringatan Nuzulul Qur’an tahun ini sekaligus menjadi penutup rangkaian kegiatan Ramadan di Pondok Pesantren Matholi’ul Anwar. Selama bulan suci tersebut, para santri mengikuti berbagai kegiatan keagamaan seperti tadarus Al-Qur’an, pengajian kitab, kajian keislaman, hingga berbagai kegiatan religius lainnya yang bertujuan memperkuat spiritualitas.

Melalui berbagai kegiatan tersebut, diharapkan para santri tidak hanya memahami ajaran agama secara teori, tetapi juga mampu mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Acara kemudian ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan oleh seluruh santri dan pengasuh pesantren. Dalam doa tersebut, mereka memohon keberkahan serta keselamatan bagi seluruh santri dan masyarakat sekitar. Selain itu, doa juga dipanjatkan agar banjir yang melanda wilayah tersebut segera surut sehingga aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan normal seperti sedia kala. (Dam)

Bagaimana reaksi anda?
Like
Love
Haha
Wow
Sad
Angry